Sukses

Dukung Pesonas 2022, PMI Nyalakan Obor Olimpik

Liputan6.com, Jakarta Sekretaris Jenderal (Sekjen) Palang Merah Indonesia (PMI) Sudirman Said menyalakan obor olimpik Pekan Special Olympics Nasional (Pesonas) 2022 di Markas Pusat PMI, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa 31 Mei 2022. Kirab obor olimpik Pesonas ini merupakan perjalanan obor di daerah ke-28 dalam rangka memeriahkan pekan olahraga dan seni penyandang disabilitas intelektual atau insan bertalenta khusus nasional.

Sekjen PMI menjelaskan, penyalaan obor tersebut bukan sekedar seremonial, tetapi merupakan dukungan PMI dalam mewujudkan masyarakat yang inklusi. PMI, kata Sekjen, taat asas dalam mengamalkan 7 prinsip kepalangmerahan, yakni kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan, serta kesemestaan.

“Semangat yang digerakan dalam perhelatan ini sejalan dengan prinsip PMI. Kami akan terus terlibat serta mendukung gerakan inklusifitas, kemandirian, serta pemberdayaan seperti yang terkandung dalam Pesonas 2022,” ungkapnya.

Pesonas 2022 merupakan pekan olahraga dan seni yang memiliki misi untuk menggugah kesadaran inklusi masyarakat. Koordinator Kirab Obor Pesonas 2022 Daniel Hakiki menjelaskan, diskriminasi terhadap insan bertalenta khusus masih banyak terjadi di masyarakat. Melalui kampanye Pesonas, Daniel berharap masyarakat dapat memahami serta mendayagunakan insan bertalenta sebagaimana warga masyarakat lainnya.

“Melalui kirab ini kita mengajak masyarakat membuka cara pandang baru terhadap teman-teman bertalenta khusus, agar mereka mendapatkan ruang yang sama dengan lainnya, setera tidak ada diskriminasi apa pun,” tegasnya.

Selain masyarakat pada umumnya, Daniel juga mengajak keluarga insan bertalenta khusus agar dapat membaurkan mereka ke masyarakat. Keluarga harus percaya diri serta optimis dalam memberdayakan insan bertalenta khusus.

“Kemudian negara juga memberikan ruang yang sama, tanpa diskriminasi agar tercipta dunia yang aman, nyaman, guyub, dan bahagia,” katanya.

 

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Pesonas diikuti 2.000 atlet

Pekan olahraga yang akan digelar hingga 8 Juni ini diikuti 2.000 atlet dari 34 provinsi. Mereka akan berlaga dalam 12 cabang olahraga (cabor). Kedua belas cabor tersebut yakni atletik, bulu tangkis, tenis meja, sepak bola, rengang, bola basket, boche, futsal, senam ritmik, bola tangan, bola voli, dan tari daerah.

Pesonas juga akan menggelar kegiatan non-olahraga seperti Kongres Nasional Keluarga dan Pemuda Special Olympic Indonesia (Soina), program kepemimpinan para atlet, jaringan dukungan keluarga, seni budaya, dan revolusi inklusi.

3 dari 4 halaman

Dukungan Kementerian Kesehatan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan dukungan Kementerian Kesehatan untuk penyelenggaraan Pekan Special Olympic Nasional (Pesonas) yang akan diselenggarakan 3-8 Juli 2022 di Semarang, Jawa Tengah.

“Di acara Pesonas nanti, Kemenkes akan menyiapkan swab antigen untuk para atlet dan pendampingnya. Kami juga akan mendukung pemberian vaksinasi di daerah asal mereka sebelum keberangkatan ke Semarang,” ujar Menkes.

 

4 dari 4 halaman

Persiapan tenaga kesehatan

Selain fasilitas vaksin dan swab, Kemenkes juga akan meminta para tenaga kesehatan dari RS Karyadi, Semarang untuk standby merawat peserta Pesonas, bila ada yang sakit saat acara berlangsung. Fasilitas yang tersedia di Politeknik Kesehatan dan Balai Pendidikan Kesehatan yang berlokasi disana juga bisa digunakan.

“Kedepannya kami juga akan memikirkan bagaimana teman-teman disabilitas intelektual ini bisa hidup lebih baik. Hal ini sedangkan kami diskusikan juga dengan para pelaku yang memahami bagaimana caranya membantu mereka,” ujar Menkes seraya menambahkan bahwa harus ada pendekatan dan sosialisasi kepada keluarga karena mereka lah support system paling besar dalam kehidupan para penyandang disabilitas intelektual.

Menurutnya, Kemenkes akan melakukan riset genetik agar dapat mengatasi persoalan tingginya angka penyandang disabilitas intelektual tersebut. “Saya kaget juga ada 2% penduduk atau 5,2 juta disbilitas intelektual di negeri kita. Cukup banyak. Siapa tahu kita bisa lakukan sesuatu seperti identifikasi lebih dini atau pengobatan dengan tekhnologi yang baru,” ujarnya.