Sukses

Dilema Pekerjaan Formal bagi Penyandang Disabilitas

Liputan6.com, Jakarta Untuk mendapatkan pekerjaan formal, penyandang disabilitas masih dihadapkan dengan dilema. Satu sisi, banyak perusahaan baik milik negara ataupun swasta yang menganggap disabilitas adalah hambatan. Di sisi lain, penyandang disabilitas cenderung tidak bisa menyampaikan disabilitasnya dengan jujur karena khawatir tidak akan diterima.

Begitu disampaikan Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Maulani A Rotinsulu dalam acara daring pesta inklusif, ditulis Kamis (23/12/2021).

“Dalam rapat tim koordinasi nasional, saya tanyakan pada Kementerian Tenaga Kerja, apa yang menjadi kesulitan perusahaan menerima disabilitas. Dan ternyata selain kurangnya fasilitas penunjang untuk disabilitas, kendala lain masih banyak perusahaan yang belum mau memberikan kesempatan kerja itu,” katanya.

Memang, kata Maulani, hal ini ia yakini tidak sejalan dengan kesetaraan hak penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan. Namun sejumlah perusahaan dalam negeri ataupun swasta kini juga banyak yang bebenah fasilitas agar lebih siap menerima penyandang disabilitas.

“Mereka akan memberikan jalan keluar tapi saat ini mindsetnya belum terbentuk. Begitu banyak kebijakan yang diberikan untuk kemudahan penyandang disabilitas tapi juga enggak sejalan dengan kesadaran perusahaan atas penyandang disabilitas tersebut,” ujarnya.

 

Simak Video Berikut Ini:

2 dari 2 halaman

Sulit jujur

Di sisi lain, khususnya bagi penyandang disabilitas mental juga seringkali tidak bisa jujur akan kondisinya pada perusahaan. “Memang masih menjadi dilema karena ya itu tadi, para pengusaha ini mindsetnya belum berubah, sehingga teman disabilitas akhirnya tidak jujur karena terus menerus lamarannya ditolak karena dianggap disabilitas berkaitan dengan kecerdasan kerja,” ujar Maulani.

Untuk itu, kata Maulani, penting bagi penyandang disabilitas yang ingin bekerja di sektor formal untuk mencoba magang atau training terlebih dahulu. Sebab hal ini akan mengubah pola pikir orang lain mengenai bergaul dengan penyandang disabilitas. 

“Di tempat kerja ya di mana pun, tentu saja pergaulan antar sesama pekerja juga diperhatikan tapi kalau kita saling masing-masing hormati gaya hidup seseorang tentu kita berpikir bagaimana beretika dalam berinteraksi. Jadi jangan lelah memperkenalkan cara hidup disabilitas,” pungkasnya..