Sukses

Tak Perlu Ditutupi, Disleksia Bukan Aib

Liputan6.com, Jakarta Memiliki anak dengan disleksia tidak membuat Amy Zein menutupi keadaan mereka. Sebaliknya, finalis kompetisi masak di stasiun TV swasta ini sering membagikan edukasi singkat terkait disleksia di akun Instagram-nya.

“Kenapa saya tidak menutupi kondisi anak-anak saya yang disleksia? Karena disleksia itu bukan aib, kita mendapatkan ini sebagai karunia. Allah menciptakan sudah dari lahir seperti itu,” katanya dalam kongkow Koneksi Indonesia Inklusif (Konekin) dikutip Rabu (24/11/2021).

Menurutnya, disleksia bukanlah penyakit yang bisa disembuhkan. Melainkan sebuah kondisi yang disandang seumur hidup.

“Ini disandang, bukan diidap karena bukan penyakit. Udah kita sandang aja, istilahnya keadaan dan aksesoris hidup kita. Jadi, enggak ada yang perlu ditutupi karena sekali lagi itu bukan aib.”

2 dari 4 halaman

Kondisi Sang Anak

Disleksia merupakan kondisi di mana penyandangnya akan kesulitan dalam membaca dan menulis. Hal ini dialami oleh anak Amy dan diketahui ketika menginjak kelas I sekolah dasar.

“Kenapa saya jadi senang ngobrol tentang disleksia? Karena flashback waktu awal-awal Abi (anaknya) pada umur 6 tahun setengah, SD kelas I enggak bisa baca.”

Saat itu, gurunya cukup optimis bahwa seiring berjalannya waktu Abi akan bisa membaca. Namun, beranjak ke kelas II, optimisme gurunya semakin menurun.

“Saya sempat tersinggung ketika guru meminta mengajari Abi ketika di rumah, padahal siapa bilang saya tidak mengajarinya selama ini.”

3 dari 4 halaman

Tegaknya Diagnosis

Sebagai lulusan ilmu psikologi, Amy cukup menyesal karena tidak dapat mengetahui kondisi anaknya dengan cepat. Hingga suatu ketika seorang rekan mengatakan kemungkinan disleksia.

Asesmen dengan dokter pun dilakukan dengan tes menulis. Ketika Abi menulis, ia tidak bisa membaca tulisannya. Namun, menurut Amy, buah hatinya menulis apa yang dia hafal seperti perayaan 17 Agustus.

“Dia enggak bisa membaca tulisannya sendiri dan ternyata yang dia tulis adalah apa yang dia hafal kemarin waktu sekolah. Dokter curiga ini disleksia tapi akan melakukan observasi lanjutan.”

Observasi pun dilakukan di Bandung dan akhirnya diagnosisnya tegak sebagai disleksia. Sejak saat itu, keputusan yang diambil adalah mengeluarkan Abi dari sekolah dan fokus pada terapi.

Terapi yang dijalani membawa perkembangan yang baik. Hingga kini di usia 12, Abi tumbuh menjadi anak sehat dengan berbagai kegiatan seperti les dan sekolah daring.

4 dari 4 halaman

Infografis Tunjangan Khusus Penyandang Disabilitas di Jakarta