Sukses

Kejujuran akan Disabilitas Membuat Abigail Heringer Dapat Jodoh di The Bachelor

Liputan6.com, Jakarta Seorang wanita yang mengesankan banyak orang di The Bachelor dan menjadi kontestan pertama yang merupakan seorang tunarungu.

Jika kebanyakan orang dengan disabilitas masih enggan untuk terbuka membicarakan disabilitas, namun berbeda dengan keluarga dari Abigail, wanita yang berhasil mendapatkan pasangan dan menjadi seorang tunarungu pertama yang tampil di The Bachelor, reality show Amerika yang mencocokkan pasangan.

Abigail Heringer tinggal bersama saudara perempuannya, rachel. Keduanya lahir dengan gangguan pendengaran bawaan. Menurut pernyataan ibu mereka, Suzie, kalau Rachel adalah anak bungsu yang menjalani operasi implantasi koklea di Oregon Health & Science University ketika dia berusia 2 tahun dan Abigail menjalani prosedur yang sama saat usianya juga masih 2 tahun.

Suzie yang tidak pernah khawatir akan Abigail karena baginya, Abigail adalah kebanggaannya dan merupakan anak yang sangat baik. Namun ia terkejut sekaligus bangga ketika mendengar putrinya bersedia berbagi kisahnya terkait gangguan pendengarannya, yang sangat jarang putrinya tersebut membahasnya. Adapun ia memberi satu pesan pada Abigail, "jika dengan disabilitasnya itu dapat memengaruhi satu orang lain, ada baiknya berbagi cerita".

 

2 dari 4 halaman

Jadi favorit

Wanita yang lahir dan besar di Oregon dan masih tinggal di Pacific Northwest, sebagaimana dikutip dari US Magazine, berhasil mendapatkan pasangannya, Matt James, yang juga seorang kontestan kulit hitam pertama di The Bachelor. Abigail lebih muda empat tahun (kini usianya 25 tahun) dari matt (29 tahun).

Abigail lulus dari Linfield College pada 2017 dan bekerja di bidang keuangan. Saat ini bekerja sebagai analis keuangan klien di Opus Agency, di LinkedIn.

Keterbukaan Abigail terkait disabilitasnya di sesi pertemuan pertama dengan cepat membuatnya menjadi favorit penggemar dan meningkatkan kesan pertama bagi Matt.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa tidak seperti biasanya Abigail terbuka tentang gangguan pendengarannya, karena orang-orang tidak dapat melihat implan kokleanya saat rambutnya tergerai. Ia mengaku sedikit khawatir untuk terbuka pada Matt terkait disabilitasnya.

"Itu hal yang menakutkan bahkan untuk sekadar membawanya. Terutama kepada seseorang pada kencan pertama, karena Anda benar-benar tidak tahu bagaimana reaksi mereka dan akankah menerima kondisi saya," kata Abigail di podcast Bachelor Happy Hour.

"Ketika Anda tertarik pada seorang pria, rasanya tidak nyaman bila langsung cerita tentang kondisi Anda," lanjutnya. Namun ia memutuskan akan berusaha sekuat tenaga, mengabaikan kekhawatirannya dan ingin melihat akan bagaimana reaksi orang tersebut. Apakah ingin mempelajari lebih lanjut atau sekedar penasaran akan seperti apa jika berhubungan dengan seorang tunarungu.

Namun ketika pertama bertemu Matt, ia memiliki perasaan bahwa Matt akan mendukungnya melihat betapa berbelas kasihnya ia. Abigail juga mengucapkan terima kasihnya kepada kakak perempuannya, Rachel yang juga terlahir tuli, yang membuka jalannya untuk dirinya. "Jadi, aku seperti, mengikuti jejaknya," kata Abigail.

Sementara Matt menjelaskan mengapa memilih Abigail, yaitu atas "kejujuran" Abigail dan kesediaan untuk terbuka dengannya. "Dia luar biasa," kata Matt, dikutip dari E!News.

"Dia melampaui apa yang saya harapkan pada malam itu ... Saya mencari sesuatu yang nyata, dan saya merasakan cinta pada Abigail. Saya ingin ia tahu bahwa saya menghargainya dan kejujurannya."

3 dari 4 halaman

Infografis Kasus Covid-19 di Jakarta Masih Tinggi, Perlu Rem Darurat?

4 dari 4 halaman

Simak Video Berikut Ini: