Sukses

Pengaruh COVID-19 Terhadap Keluarga dengan Anak Autis Menurut Survei

Liputan6.com, Jakarta Survei nasional di Amerika Serikat yang di mulai dari New York menyatakan keluarga yang memiliki anak autis menghadapi beberapa kesulitan karena Covid-19. Beberapa pelayanan anak autis sangat terganggu, tetapi mereka beradaptasi dan bahkan menemukan beberapa cara baru.

Sekolah-sekolah dan penyedia layanan lainnya tutup. Hal ini menyebabkan lebih dari 75 persen keluarga melaporkan gangguan sedang hingga berat pada layanan dan terapi anak-anak mereka.

Dalam hal ini, terapi wicara paling terpengaruh. Gangguan itu lebih parah pada anak di bawah usia 5 tahun.

Survei dilakukan pada lebih dari 8.000 keluarga yang punya anak dengan spektrum autisme. Topiknya fokus pada kehidupan mereka selama pandemi COVID-19.

Kuesioner online dikirimkan kepada keluarga yang telah berpartisipasi dalam SPARK. Sebuah upaya luas untuk mengumpulkan dan mempelajari data genetik dari orang dengan autisme dan keluarga mereka yang didanai oleh Simons Foundation Autism Research Initiative, di New York, Amerika Serikat.

"SPARK menyediakan infrastruktur bagi komunitas autisme untuk belajar satu sama lain dan segera berbagi pelajaran yang didapat. Bahkan, di saat-saat yang sama sulitnya dengan krisis coronavirus ini," kata Wendy Chung yang mengembangkan survei dan merupakan peneliti utama studi SPARK seperti dikutip dari Disability Scoop (15/4/2020).

2 dari 3 halaman

Temuan Survei

Survei yang dilakukan antara 20 sampai 30 Maret ini menunjukkan sekitar sepertiga keluarga mengatakan mereka menerima layanan atau terapi jarak jauh. Hampir setengahnya mengatakan hal tersebut memberi manfaat.

Lebih dari 62 persen melaporkan bahwa anak mereka merasa baik secara keseluruhan dan sekitar setengah dari orang tua mengatakan hal yang sama tentang diri mereka sendiri.

Namun, pada saat yang sama, hampir semua orang yang menjawab mengatakan gangguan yang disebabkan oleh coronavirus berdampak negatif pada perilaku anak mereka dengan autisme.  82 persen mengatakan itu telah memengaruhi kesehatan mental dan emosional anak mereka.

Orang tua juga mengkhawatirkan anaknya akan kehilangan keterampilan yang selama ini dipelajari susah payah.

Namun, beberapa orang tua melaporkan melihat hal positif di tengah tantangan. Satu orang tua menunjukkan bahwa anaknya berjuang di sekolah secara sosial dan dengan komunikasi, tetapi tampak lebih bahagia dan lebih tenang di rumah.

Yang lain mengatakan bahwa kelas online memungkinkan anak-anak mereka bergerak lebih lambat.

Ratusan orang tua mengatakan bahwa latihan pernapasan, yoga, doa, meditasi, dan latihan kesadaran lainnya telah membantu dalam menghadapi situasi ini. Mempertahankan jadwal harian juga penting untuk mencegah masalah perilaku, menurut temuan survei.

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini: