JPMorgan Prediksi Imbal Hasil Bitcoin Ungguli Saham dan Emas

JPMorgan Asset Management mengeluarkan laporan yang mengungkapkan memprediksi imbal hasil bitcoin (BTC).

Diterbitkan 21 Oktober 2026, 15:49 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - JPMorgan Asset Management memprediksi Bitcoin (BTC) akan mengungguli saham dan emas dalam satu dekade ke depan. Akan tetapi, JPMorgan Asset Management memperingatkan volatilitas membuat aset ini belum cocok dipakai untuk diversifikasi portofolio saat ini.

Mengutip Cointelegraph, Rabu (21/10/2026), pada Senin pekan ini, JPMorgan menerbitkan laporan Long-Tem Capital Market Assumption untuk 2027, yang memprediksi imbal hasil tahunan 10% untuk bitcoin dibandingkan 7,5% untuk saham kapitalisasi besar di Amerika Serikat dan 5,5% untuk emas.

Proyeksi ini merupakan bagian dari prospek tahunan JPMorgan yang mencakup lebih dari 200 jenis aset, yang disusun untuk membantu investor dalam merencanakan portofolio mereka.

"Saat ini, kami tidak menyarankan Bitcoin sebagai instrumen diversifikasi portofolio karena korelasi pasarnya yang tidak stabil," tulis laporan tersebut.

"Kami memandang Bitcoin sebagai aset spekulatif dan sarana lindung nilai terhadap kebijakan pelonggaran moneter."

JPMorgan memproyeksikan potensi keuntungan maupun kerugian dua digit untuk Bitcoin.

Dalam skenario bullish (optimistis), JPMorgan memperkirakan imbal hasil tahunan Bitcoin mencapai 16,6%, sementara dalam skenario bearish (pesimistis), terdapat proyeksi kerugian tahunan sebesar 11,2%. Perhitungan ini mempertimbangkan pertumbuhan pasokan BTC relatif terhadap jumlah uang beredar, potensi perannya yang disandingkan dengan emas, serta tingkat adopsi jaringannya.

Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, menyambut baik dimasukkannya Bitcoin ke dalam laporan tersebut.

"Awalnya mereka mengabaikan Anda, lalu menertawakan Anda, kemudian melawan Anda, dan akhirnya memasukkan Anda ke dalam dokumen Long-Term Capital Market Assumptions mereka serta memprediksi bahwa Anda akan menjadi aset dengan kinerja terbaik dalam satu dekade ke depan," tulisnya di platform X.

Perusahaan milik Hougan, Bitwise, telah menerbitkan prakiraan yang jauh lebih optimis. Pada Agustus 2025, Bitwise memproyeksikan harga Bitcoin dapat mencapai US$ 1,3 juta pada 2035, estimasi imbal hasil tahunan sebesar 28,3% dalam skenario dasar.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

MSCI Perketat Aturan Indeks untuk Perusahaan Pemegang Bitcoin

Sebelumnya, penyedia indeks global MSCI memperketat peninjauan aturan bagi perusahaan publik yang sebagian besar asetnya berupa Bitcoin. Kebijakan ini menempatkan Strategy dan sejumlah perusahaan pemegang Bitcoin sebagai aset utama (Bitcoin treasury) dalam sorotan karena berpotensi memengaruhi kelayakan saham mereka masuk indeks acuan yang digunakan investor pasif di seluruh dunia.

Mengutip CoinMarketCap, Minggu (18/10/2026), peninjauan tersebut berfokus pada cara MSCI mengklasifikasikan perusahaan yang identitas bisnisnya lebih bertumpu pada akumulasi Bitcoin dibandingkan kegiatan operasional konvensional.

MSCI sebelumnya mengusulkan pengecualian perusahaan treasury Bitcoin dari sejumlah indeks. Jika diterapkan, kebijakan ini akan mengubah cara lembaga investasi memperlakukan perusahaan dengan model bisnis yang berpusat pada kepemilikan aset kripto.

Strategy, yang sebelumnya bernama MicroStrategy, menjadi perusahaan paling menonjol dalam pembahasan ini. Perusahaan tersebut secara konsisten membeli Bitcoin sehingga pergerakan harga sahamnya sangat berkaitan dengan harga aset kripto tersebut.

Kondisi ini membuat Strategy berisiko dikeluarkan dari indeks MSCI. Penyedia indeks menilai dominasi satu jenis aset dapat menyulitkan proses klasifikasi perusahaan dan penilaian kelayakan investasinya.

 

Mengapa Masuk Indeks Penting?

Peninjauan MSCI tidak hanya menyasar Strategy. Sejumlah perusahaan yang lebih kecil dan telah mengumumkan rencana menjadikan Bitcoin sebagai aset treasury juga menghadapi potensi risiko serupa.

Perusahaan-perusahaan tersebut berada di antara dua kategori: saham perusahaan publik dan instrumen investasi yang memberikan eksposur terhadap Bitcoin, bahkan menyerupai instrumen dengan leverage.

Alpha Modus menjadi salah satu contoh volatilitas yang dapat muncul dari model bisnis tersebut. Harga sahamnya dilaporkan turun 29% setelah perusahaan mengumumkan rencana treasury Bitcoin senilai US$ 200 juta.

Masuk dalam indeks MSCI dapat membuat saham suatu perusahaan otomatis dimiliki oleh reksa dana indeks, exchange-traded fund (ETF), dan portofolio institusi yang mengikuti indeks tersebut.

Sebaliknya, jika saham dikeluarkan dari indeks utama, perusahaan berpotensi kehilangan permintaan dari investor pasif yang membeli saham berdasarkan komposisi indeks, bukan melalui pemilihan saham secara aktif. Dampaknya dapat terasa bagi perusahaan berkapitalisasi menengah maupun kecil.

Dalam menilai kelayakan saham, penyedia indeks mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain klasifikasi kegiatan usaha, kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan saham beredar publik, likuiditas, serta konsentrasi eksposur ekonominya.