Harga Bitcoin Tembus USD 124 Ribu, Pertanda Baik atau Buruk untuk Investor?

Pergerakan pasar kripto melewati USD 4,1 triliun, dengan harga Bitcoin mencapai ATH (All-Time-High) atau harga tertinggi baru di level harga USD 124.000 dan Ethereum melonjak melewati USD 4.700.

Diterbitkan 18 Agustus 2025, 12:15 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Pergerakan pasar kripto melewati USD 4,1 triliun, dengan harga Bitcoin mencapai ATH (All-Time-High) atau harga tertinggi baru di level harga USD 124.000 dan Ethereum melonjak melewati USD 4.700.

COO Bitget, Vugar mengatakan lonjakan harga kripto ini mencerminkan momentum yang hanya terjadi jika modal institusional, faktor penggerak makro, dan kejelasan regulasi sejalan.

"Rekor arus masuk ETF dan pergeseran kebijakan, seperti GENIUS Act, serta pergeseran struktural seperti alokasi kripto 401(k) dan antisipasi penurunan suku bunga AS, dapat mempertahankan momentum kenaikan," jelas dia dikutip Senin (18/8/2025).

"Semua itu menciptakan permintaan yang terasa berbeda dari siklus sebelumnya. Hal ini bukan hanya sekadar gelombang antusiasme spekulatif; ini adalah dasar untuk integrasi kripto ke dalam portofolio umum," lanjut dia.

Meskipun demikian, apresiasi harga yang cepat juga menimbulkan kekhawatiran tentang spekulasi yang berlebihan, yang berpotensi menyebabkan peningkatan volatilitas jika kondisi ekonomi makro berubah atau aksi take profit meningkat.

Tantangan bagi para investor saat ini adalah menyeimbangkan partisipasi dalam proses ini dengan kesadaran akan betapa cepatnya kondisi dapat berubah.

Menurut dia, capaian harga Bitcoin yang melampaui USD 124.000 menunjukkan kekuatan teknikal yang memperkuat perannya sebagai jangkar pasar, bahkan ketika modal berputar ke Ethereum dan altcoin tertentu.

"Apakah ini menandai babak pembuka dari ekspansi pasar bullish multi-kuartal atau puncak sebelum fase konsolidasi akan bergantung pada seberapa baik pasar menyerap momentumnya sendiri. Apa pun itu, faktor fundamental, adopsi institusional yang semakin dalam, aturan yang semakin jelas, dan infrastruktur yang semakin matang mengarah ke kelas aset yang tidak lagi menggoda dengan legitimasi, melainkan mengeklaimnya secara langsung," tutup dia.

BlackRock Borong Bitcoin dan Ethereum di Tengah Gejolak Pasar Kripto

Raksasa manajer aset BlackRock kembali menunjukkan keyakinannya pada pasar kripto. Pada 14 Agustus lalu, ETF spot miliknya membeli 4.428 Bitcoin (BTC) dan 105.900 Ethereum (ETH) sekaligus.

Jumlah ini termasuk salah satu pembelian terbesar dalam satu hari yang tercatat dalam beberapa bulan terakhir, menandakan semakin kuatnya minat investor institusional pada aset digital.

Dikutip dari coinmarketcap, Sabtu (16/8/2025), pembelian besar ini terjadi saat pasar kripto tengah berada pada fase konsolidasi setelah periode panjang volatilitas harga. BlackRock tampaknya memanfaatkan momen pelemahan harga untuk mengakumulasi aset, strategi yang umum digunakan investor institusional berpengalaman.

Yang menarik, porsi terbesar akuisisi justru datang dari Ethereum—lebih dari 100.000 ETH. Langkah ini memberi sinyal optimisme terhadap prospek jangka panjang Ethereum, terutama di sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi) dan Web3.

Meski Bitcoin tetap jadi pilihan utama banyak investor tradisional, potensi Ethereum jelas tak diabaikan.

 

Dampak ke Investor Ritel

Aksi beli skala besar seperti ini biasanya meningkatkan rasa percaya diri investor ritel. Jika BlackRock terus menambah kepemilikannya, bukan tidak mungkin langkah ini diikuti oleh manajer aset besar lainnya, yang pada akhirnya mendorong sentimen pasar ke arah positif.

Selain itu, pergerakan semacam ini juga bisa memengaruhi arah pembahasan regulasi, menguatkan posisi kripto sebagai bagian dari portofolio investasi yang terdiversifikasi.

Dengan peran ETF spot sebagai penghubung antara keuangan tradisional dan aset digital, pembelian terbaru BlackRock bukan sekadar transaksi—melainkan pernyataan tegas bahwa kripto kian diterima di arus utama investasi.

Arus Dana Masuk ke ETF Ethereum BlackRock Sentuh Rp 163 Triliun

Sebelumnya, iShares Ethereum Trust milik BlackRock telah mencapai USD 10 miliar atau Rp 163,20 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.320) untuk aset kelolaannya, hanya satu tahun setelah peluncurannya.

Mengutip Crypto News,  Jumat (25/7/2025), tonggak sejarah ini menjadikan ETHA ETF non-bitcoin tercepat yang mencapai ambang batas itu dan tercepat ketiga secara keseluruhan dalam sejarah ETF AS. Posisi ini hanya di belakang iSare bitcoin, Bitcoin Trust dan FBTC milik Fidelity.

Pembaruan ini dibagikan pada 23 Juli oleh analis ETF Bloomberg Eric Balchunas. Ia menulis di platform X dahulu bernama Twitter menyoroti arus masuk ETHA yang tajam. Ia mengatakan, kalau ETHA berlipat ganda dari USD 5 miliar atau Rp 81,60 triliun menjadi USD 10 miliar atau Rp 163,20 triliun dalam 10 hari.

“ETHA juga berada di antara lima ETF dengan arus masuk teratas dalam jangka waktu satu minggu dan satu bulan,” demikian seperti dikutip.