Sukses

Pasar Masih Anjlok, Apakah Ada Peluang di Kripto?

Liputan6.com, Jakarta - Beberapa waktu terakhir, harga koin kripto anjlok cukup dalam. Hal itu diperparah dengan adanya fenomena koin Terra Luna yang hancur lebur karena sempat tidak bisa diperjualbelikan karena nilainya yang turun drastis. 

Melihat kondisi pasar kripto yang alami koreksi dalam Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengundang Co-Founder Ternak Uang, Timothy Ronald, ke dalam kanal YouTube miliknya untuk membahas apa yang terjadi pada pasar kripto. 

Sandiaga Uno menilai, Timothy merupakan sosok yang dianggap melek dengan dunia kripto, sehingga bisa membedah masalah hancurnya bursa kripto pada akhir-akhir ini.

Meskipun pasar kripto saat ini sedang anjlok, Timothy menjelaskan melihat masih ada peluang investasi di sektor ini. Hanya saja, cara 'bermainnya' harus berbeda.

Namun, seperti di bursa investasi lainnya, tidak ada jaminan para pemain kripto selalu mendulang cuan. Maka dari itu, pemilihan waktu untuk membeli dan menjual aset kembali menjadi penentu keuntungan yang didapat.

Timothy berpendapat, Bitcoin adalah koin kripto paling aman yang saat ini bisa dijadikan sebagai investasi. Pasalnya, mata uang kripto yang satu ini sudah bisa dijadikan sebagai alat pembayaran yang sah di dalam kehidupan nyata.

Meskipun saat ini pasar kripto tengah lesu, namun Timothy meyakini kemungkinan untuk bangkit masih terbuka, tentu dengan kondisi tertentu.

Saat ditanya Sandiaga terkait penyebab koin kripto turun, Timothy mengatakan hal ini dipengaruhi oleh kesadaran para pemain kripto itu sendiri.

"Jadi dulu orang menilai kripto merupakan aset kelas lain untuk diversifikasi. Tapi yang terjadi sekarang ini, mereka mulai menyadari kripto itu erat kaitannya dengan visi dan teknologi. Jadi kalau Nasdaq jatuh, kripto pasti ikut jatuh. Jadi artinya, kripto sangat berkorelasi dengan Nasdaq," ujar Timothy dalam keterangan tertulis, Selasa (24/5/2022). 

 

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Terra Anjlok

Namun, jika hanya sebatas kesadaran saja, penurunan harga koin kripto tidak akan berlangsung lama. Timothy menilai pemicu utamanya justru datang dari salah satu koin kripto, Terra Luna.

Dia menuturkan, ketika Luna ini tercipta oleh Foundernya yang berasal dari Korea Selatan, Do Kwon memiliki visi dengan menciptakan stablecoin, yang biasanya kursnya itu 1 banding 1 dengan Terra USD (UST).

"Tapi belakangan, harganya tidak 1 banding 1. Permasalahannya adalah, Do Kwon ini menjanjikan kepada semua orang yang membeli Luna bisa menukarkannya tetap setara dengan UST tadi. Lalu ketika ada fenomena turun (harga), para pembeli langsung berbondong-bondong menarik uangnya," ujar Timothy.

Dengan begitu, harga Terra Luna terjun bebas dan sempat tidak bisa diperjualbelikan di bursa kripto.

"Jadi per koinnya sempat menyentuh angka USD 100. Bahkan kemarin turun sampai 0,1 rupiah,” kata Timothy

"Turunnya itu 99,99 persen, sehingga sudah tidak bisa diperdagangkan. Jadi semua uang disitu hilang semua. The money is gone forever. Mereka ini offer seperti obligasi, jadi mereka ini punya protokol nawarin 20 persen. Tapi kenyataannya, ya inilah yang terjadi," pungkas dia.

3 dari 4 halaman

Pasar Kripto Menguat Terbatas, Analis Ingatkan Investor Tetap Hati-Hati

Sebelumnya, kripto kembali menunjukkan keuntungan kecil mengawali pekan keempat Mei 2022. Awal pekan ini dibuka cukup baik oleh Bitcoin dan kripto jajaran teratas lain jika dibandingkan dengan dua pekan sebelumnya. 

Meskipun begitu, berdasarkan kapitalisasi pasar, kripto masih berada di pasar beruang tanpa akhir yang terlihat, dan berjuang untuk melayang di atas garis dukungan USD 30.000 atau sekitar Rp 439,5 juta untuk Bitcoin yang telah dipegangnya selama 10 hari terakhir.

BTC baru-baru ini diperdagangkan pada sekitar USD 30.370, naik sekitar 3,3 persen. Ethereum, kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, naik dengan cara yang sama selama periode yang sama dan memegang lebih dari USD 2.000 bertengger selama beberapa minggu terakhir. 

AVAX adalah salah satu pemenang besar, baru-baru ini naik lebih dari 8 persen. Sedangkan Solana (SOL) dan Tron (TRX) keduanya naik lebih dari 5 persen dalam periode yang sama.

CEO manajer dana kripto BitBull Capital, Joe DiPasquale mengatakan Bitcoin berhasil mempertahankan level dukungan minggu lalu dan bahkan mencoba terobosan jangkauan baru.

"Namun, USD 31.000 hingga USD 32.000 tetap menjadi level resistensi yang kuat yang dibutuhkan Bitcoin untuk berhasil ditembus sebelum kita dapat melihat ke arah yang lebih baik,” ujar DiPasquale dikutip dari CoinDesk, Senin (23/5/2022). 

DiPasquale juga masih mengingatkan kepada investor untuk tetap berhati-hati dengan pasar kripto pada kondisi saat ini. 

"Sampai saat ini belum terlihat tindakan pembelian yang kuat, jenis yang biasanya menunjukkan pembalikan yang tepat,” pungkas DiPasquale. 

 

4 dari 4 halaman

Investor Khawatir Inflasi

Investor masih khawatir dengan langkah bank sentral untuk menjinakkan inflasi, kejatuhan ekonomi yang sedang berlangsung dari invasi Rusia ke Ukraina dan meningkatnya kemungkinan resesi telah menyimpang jauh dari aset berisiko, termasuk mata uang digital dan saham sejak musim gugur lalu.

Di sisi lain, pasar saham mengakhiri perdagangan pada Jumat dengan lonjakan, tetapi semua yang dilakukan adalah membantu S&P 500 keluar dari wilayah pasar beruang di mana ia bertahan hampir sepanjang hari.

S&P, yang juga semakin selaras dengan bitcoin dalam beberapa bulan terakhir, ditutup datar setelah menghabiskan pagi dan sore di zona merah. Nasdaq yang sarat teknologi, yang belakangan ini selaras pergerakannya dengan pasa kripto, reli terlambat untuk juga mempertahankan posisinya dari hari sebelumnya. 

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun untuk minggu kedelapan berturut-turut, penurunan mingguan terpanjang sejak Depresi Hebat. Masing-masing indeks turun 2,9 persen atau lebih untuk minggu ini.