Sukses

Waspadai Second Screening, Bisa Bahayakan Kesehatan dan Fungsi Otak

Kebiasaan melihat dua layar perangkat sekaligus memang terlihat sepele. Namun, sebenarnya sebenarnya memiliki pengaruh terhadap kesehatan dan fungsi otak kita.

Liputan6.com, Jakarta - Saat ini, berapa banyak perangkat elektronik yang Anda miliki sendiri? Seperti misalnya smartphone, TV, dan laptop. Rasanya pasti lebih dari satu, kan?

Bahkan rasanya tidak mungkin jika Anda hanya memandang satu layar perangkat saja saat ini. Seperti misalnya TV sedang menyala dan menayangkan serial favorit Anda. Ponsel ada di tangan dan laptop ada di pangkuan Anda karena sedang mengerjakan tugas. Kebiasaan ini pasti sudah menjadi pemandangan sehari-hari.

Nah, coba ingat-ingat kembali. Kapan terakhir kali Anda benar-benar fokus menonton serial tanpa menelusuri media sosial atau mengecek email Anda? 

Jika hal ini terjadi belum lama ini, Anda mungkin akan melakukan second screeningNamun, apakah second screening itu sebenarnya?

Menurut informasi dari Unplugged, Minggu (12/5/2024), dalam survei terbaru yang dilakukan Three, 72% dari kita rutin menggunakan ponsel sambil menonton TV. Studi lain menemukan bahwa 37% dari kita secara khusus menelusuri media sosial dan seperempat responden juga mengaku rutin menggunakan laptop mereka.

Meskipun demikian, hal tersebut bukan berarti merupakan hal yang baik dan tidak boleh diabaikan begitu saja. Sebab, second screening sendiri bisa berdampak lebih besar pada kesehatan dan fungsi otak daripada yang kita sadari selama ini. Oleh karenanya, Anda perlu mengetahui lebih detail dengan kondisi ini.

Seperti apa yang dimaksud dengan second screening, dampak kesehatan yang bisa ditimbulkan (termasuk dalam masalah kesehatan mental), dan juga cara menghentikan kebiasaan tersebut.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 5 halaman

Penjelasan Tentang Second Screening yang Tidak Bisa Dianggap Remeh

Second screening juga dikenal sebagai dual-screening. Istilah ini menjadi tanda saat Anda menggunakan dua layar perangkat atau lebih secara bersamaan.

Hal ini paling sering dilakukan saat menonton TV, saat Anda menggunakan ponsel atau laptop secara bersamaan. Lalu, kenapa second screening bisa membahayakan? Berikut beberapa alasannya:

1. Rentang perhatian bisa berkurang

Satu sumber hiburan saja tidak cukup. Sulit bagi kita untuk menonton konten berdurasi panjang tanpa melakukan hal lain pada saat yang bersamaan.

2. Selalu merasa terhubung di dunia maya

Baik itu berkomentar di siaran langsung TV di Twitter atau berkomunikasi dengan teman, kita selalu terhubung secara digital melalui pesan atau media sosial.

3. Sering mencari informasi lebih lanjut

Dengan informasi di ujung jari kita, jika kita menginginkan informasi tambahan tentang sesuatu yang kita tonton, kita menggunakan ponsel untuk mengetahui lebih lanjut.

4. Menimbulkan kebiasaan multitasking

Kita bisa merasa bersalah karena duduk dan hanya melakukan satu hal dalam satu waktu. Jadi, kita mungkin menjawab beberapa email sambil menonton untuk membuat diri kita merasa lebih produktif.

5. Merasa relaks

Kita dapat menghubungkan mindless scrolling sebagai cara untuk bersantai setelah hari yang melelahkan dan sebagai bentuk hiburan.

3 dari 5 halaman

Bagaimana Second Screening Bisa Berdampak Pada Kesehatan?

Second screening dapat menimbulkan sejumlah dampak positif maupun negatif terhadap kesehatan kita, antara lain:

1. Ketegangan mata dan nyeri leher

Menghabiskan lebih dari 3 jam sehari lebih mungkin mengalami ketegangan mata karena melihat blue light yang dipancarkan dari layar. Hal ini juga dapat menyebabkan sakit kepala.

Selain itu, melihat ke bawah pada perangkat kita adalah penyebab utama sakit leher (atau tech-neck) dan penggunaan layar ganda dapat berkontribusi lebih jauh terhadap masalah leher dan punggung akibat rotasi dan ketegangan yang berulang.

2. Mengurangi rentang perhatian dan fokus

Saat kita melakukan banyak tugas seperti menonton TV dan melihat-lihat media sosial, kita mengalihkan perhatian kita dengan sangat cepat antar rangsangan. Terlibat dengan banyak layar dapat mengubah otak untuk menginginkan lebih banyak rangsangan, sehingga mengurangi kemampuan kita untuk berkonsentrasi pada satu tugas.

Multitasking semacam ini juga dapat melemahkan kemampuan kita untuk menyaring informasi yang tidak relevan, sehingga menyebabkan penurunan rentang perhatian dan fenomena yang dikenal sebagai 'continuous partial attention'.

4 dari 5 halaman

3. Meningkatnya stres dan kecemasan

Jika Anda mengonsumsi informasi pada perangkat kedua saat Anda sedang 'bersantai', hal ini dapat memperburuk stres dan kecemasan Anda. Sebab, mendapatkan banyak informasi yang terus-menerus dapat menyebabkan kelebihan informasi digital, yang pada gilirannya dapat meningkatkan perasaan stres dan kecemasan.

4. Masalah tidur

Menggunakan layar sebelum tidur tidak baik untuk tidur kita. Hal ini karena blue light yang dipancarkan layar dapat mengganggu siklus tidur-bangun kita dan mempersulit Anda untuk tertidur dan mendapatkan kualitas tidur yang baik.

Hal ini diperburuk jika Anda menelusuri internet sambil menonton TV karena otak Anda tidak melambat, melainkan sangat terstimulasi.

5. Merasa lebih terhubung

Orang-orang yang tinggal sendiri lebih cenderung melakukan second screen, dan 1/3 dari mereka mengatakan hal itu dilakukan agar mereka tidak merasa terlalu kesepian. Dengan menggunakan ponsel Anda untuk terhubung dengan orang lain melalui pesan, panggilan, atau media sosial, Anda dapat merasa lebih terhubung saat menonton.

5 dari 5 halaman

Cara Menghentikan Kebiasaan Second Screening

Jika Anda ingin menghentikan second screening serta mengurangi waktu pemakaian perangkat kumulatif, berikut beberapa hal yang dapat Anda lakukan:

1. Tinggalkan ponsel jauh dari sisi Anda

Cara termudah untuk menghentikan kebiasaan ini adalah dengan menjauhkan ponsel Anda dari lingkungan sekitar Anda.

2. Tanyakan pada diri sendiri saat ingin menggunakan ponsel 

Cobalah untuk tidak menjadi ceroboh dan lebih berhati-hati. Tanyakan pada diri Anda: Apakah saya benar-benar perlu memeriksa ponsel saya sekarang? Cobalah untuk memprioritaskan fokus Anda pada aktivitas utama, apakah itu menonton film atau menyelesaikan tugas pekerjaan.

3. Tetapkan batasan waktu pemakaian perangkat

Putuskan berapa banyak waktu yang ingin Anda habiskan di depan layar setiap hari dan patuhi itu. Anda dapat menggunakan pengatur waktu untuk membantu Anda tetap pada jalur.

4. Matikan notifikasi

Notifikasi bisa menjadi gangguan besar, jadi matikan notifikasi untuk semua aplikasi yang tidak penting atau aktifkan ponsel Anda dalam mode Do Not Disturb.

5. Jangan lupa istirahat

Hindari keinginan untuk menekan "next episode." Sebaiknya, mulai kebiasaan bangun serta bergerak setiap 20-30 menit untuk mengistirahatkan mata Anda. Lebih baik lagi, ambil jeda detoksifikasi digital untuk memulai perubahan jangka panjang dalam perilaku digital.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.