Sukses

Percaya atau Tidak, 7 Penyakit Akan Menghampirimu Pasca-Putus Cinta

Liputan6.com, Jakarta - Bagi kamu yang memiliki pasangan dan sedang menjalani suatu hubungan pastilah mendambakan keharmonisan dan hubungan yang langgeng.

Namun, tak ada yang mampu menebak kapan masalah akan datang dalam hubunganmu bersama pasangan. Apabila masalah tersebut tidak mampu diselesaikan, putus dirasa jalan terbaik untuk mengakhirinya.

Taukah kamu bahwa cara-cara perpisahan yang dialami sangat berpengaruh pada kondisi tubuhmu?

Berbagai alasan dapat menjadi pemicu atas reaksi tubuhmu. Hal tersebut dapat bersifat fisik, emosional, atau mental.

Reaksi terhadap sebuah perpisahan pun berbeda dari satu orang dengan orang lainnya, semua bergantung pada keseriusan dari kedua pihak terhadap hubungan tersebut.

Kondisi putus cinta yang dialami seseorang dapat menyebabkan depresi berat dalam beberapa kasus bahkan memicu kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Jika kamu berada dalam tahap tersebut, sebaiknya segera konsultasikan dengan psikiater.

Nah, berikut tujuh dampak putus cinta yang dapat merusak kesehatanmu seperti melansir dari Boldsky.

2 dari 8 halaman

1. Pemicu stres hingga depresi

Putus cinta yang kamu alami dirasakan sebagai sebuah stres dalam tubuh karena tidak dapat menemukan penyebab pasti dari stres tersebut.

Stres tersebut dipicu karena kondisi patah hati yang sedang dirasakan, sama halnya seperti saat kamu berada dalam sebuah skenario yang memosisikan dirimu sedang dikejar-kejar oleh seekor singa.

Respons oleh tubuh akan mencakup pikiran yang tidak diinginkan, kekakuan, konsentrasi buruk, dan sebagainya. Putus cinta memicu kecemasan kronis dan jika kondisi ini diabaikan, itu bisa berubah menjadi depresi.

3 dari 8 halaman

2. Pengaruhi pencernaan dan kualitas tidur

Sebuah perpecahan berada di bawah tekanan jangka panjang, karenanya tubuh cenderung melepaskan hormon stres yang disebut kortisol yang memainkan peran mengalihkan darah dari sistem pencernaanmu.

Ini dapat memicu kondisi seperti sindrom iritasi usus (IBS) yang akan membuat makan jadi berlebihan atau menjadi lebih sedikit.

Bicara soal tidur, insomnia atau hypersomnia adalah fenomena umum yang dialami orang putus cinta yang dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti tingkat energi yang rendah, stres, dan depresi.

4 dari 8 halaman

3. Serupa seperti pecandu kokain

Sebuah penelitian yang dilakukan para peneliti di Universitas Kolombia menemukan bahwa putus cinta akan sangat signifikan memengaruhi otakmu dengan cara yang mirip dengan otak seorang pencandu kokain.

Sebuah neutrotransmitter yang disebut dopamin dilepaskan beberapa bagian otak, hormon ini memainkan beberapa peran penting dalam otak dan tubuh kita. Hal itulah yang akhirnya membuat seseorang terobsesi dengan orang yang dicintainya.

5 dari 8 halaman

4. Melepaskan hormon kortisol

Kortisol adalah hormon stres yang dilepaskan ketika seseorang sedang mengalami stres besar serta kadar glukosa darah yang rendah. Salah satu pemicu dalam kadar hormon ini diamati ketika seseorang mengalami putus hubungan.

Seperti yang kita ketahui, kondisi putus cinta adalah stressor jangka panjang yang menyebabkan hormon kortisol tetap berada di dalam tubuh kita lebih lama yang memengaruhi kita dengan memberi kita lebih banyak stres, ketakutan, kelelahan fisik, dan sebagainya.

6 dari 8 halaman

5. Sistem imun yang melemah

Putus cinta akan melemahkan sistem kekebalan tubuh dengan mematikan bagian-bagian tertentu dalam tubuh yang membantu memerangi mikroba penyebab penyakit.

Kondisi itu menghasilkan sekresi hormon stres yang memengaruhi sistem kekebalan selama rentang waktu tertentu. Ini akan berdampak pada fungsi tubuh yang lain.

Ini akan membuat tubuh menjadi lemah dan kamu menjadi lebih sensitif terhadap penyakit fisik lainnya.

7 dari 8 halaman

6. Menuntun kepada kerusakan jantung

The American Heart Association mengungkapkan bahwa ketika putus cinta, kamu akan mengalami sindrom patah hati yang menghasilkan perbesaran pada bagian hati untuk sementara.

Dalam kondisi ini, sebagian dari jantung tidak mampu memompa darah dengan baik, sementara selebihnya sedang melakukan fungsi-fungsi seperti biasa. Ini berarti kontraksi yang dilakukan oleh jantung akan menjadi lebih kuat.

Lebih dari 80 persen kasus ditemukan bahwa perempuan lebih banyak terkena dampak atas sindrom ini dibandingkan laki-laki.

Gejala-gejala dari kondisi ini termasuk detak jantung yang tidak teratur dan nyeri pada dada. Oleh karena itu, ini sering disalahartikan oleh banyak orang sebagai serangan jantung. Kondisi ini akan berlangsung selama beberapa minggu lamanya.

8 dari 8 halaman

7. Menyebabkan masalah pada kulit

Tahukah kamu tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan masalah kulit seperti jerawat?

Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2007 yang dilakukan para peneliti dari Wake Forest University North Carolina menemukan bahwa orang yang mengalami tingkat stres berlebihan, seperti patah hati, 23 persen lebih berisiko munculnya jerawat.

Studi itu mengungkapkan bahwa stres memicu peradangan dan jerawat adalah penyakit kulit peradangan. 

Penulis:

Immanuela Harlita Josephine

Loading
Artikel Selanjutnya
Usai Putus Cinta, 7 Hal Ini Terjadi pada Tubuh
Artikel Selanjutnya
5 Tanda-Tanda Pasangan Sudah Bosan dan Ingin Nyatakan Putus Cinta