Sukses

[Cek Fakta] Hoaks Foto Prabowo Subianto Pakai Baju Pastor

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah berita marak di media sosial. Salah satunya adalah beredar foto calon presiden (capres) Indonesia Prabowo Subianto di laman Facebook.

Akun Facebook bernama Kakek Detektif pada 11 Desember 2018 lalu mengunggah foto Prabowo dengan menggunakan pakaian ala pastor gereja atau romo lengkap dengan kalung salib.

Di samping Prabowo berdiri seorang pria memakai kemeja dan menggunakan kaca mata. Tak lupa, Kakek Detektif juga menyertakan tulisan dalam unggahan fotonya.

"Haleluya.... mari kita bersholawat kepada Nabi... (Dasar kamprettt..!!!)," tulis Kakek Detektif.

Unggahan tersebut dibagikan sebanyak 68 kali dan mendapat tanda suka 250. Selain itu, ragam komentar juga muncul dari para peselancar dunia maya. Salah satunya dari akun bernama PushVita Radzie.

"Agama bukan bahan olok2 dan tdk ada yg salah dgn agama itu sendiri.. agama adlh cara kita berhubungan dg Tuhan masing2 keyakinan." tulis PushVita Radzie.

Kemudian ada pula Dannis Soedibjo.

"Saya pendukung Jokowi, tapi cara biadab dengan edit2 foto sungguh sesuatu yg kampungan..!" tulis Dannis Soedibjo.

2 dari 3 halaman

Fakta

Tim Cek Fakta Liputan6.com mencoba menelusuri kebenaran foto tersebut. Dan ternyata, foto yang diunggah Kakek Detektif merupakan foto hasil editan. Artinya, Prabowo Subianto tidak menggunakan pakaian mirip pastor atau romo.

Hal ini seperti diunggah oleh www.rindivari.blogspot.com. Tulisan yang berjudul Mirip Pdt. Albertus Patty juga telah ditulis pada 24 Agustus 2014 silam.

[Cek Fakta] Prabowo Subianto Gunakan Pakaian Pastor Lengkap?

"Percakapan di konsistori dengan pendeta yang baru saja usai melayankan ibadah hampir selalu meninggalkan kesan yang menyegarkan bagiku. Yaitu kesan dan pengakuan bahwa betapa kebhinnekaan kita Bangsa Indonesia tercermin juga dalam gereja.

Barangkali ini merupakan konsekuensi dari gereja tempat kami beribadah, yang baru memiliki satu pendeta. Akibatnya, pada sejumlah hari Minggu setiap bulannya, ibadah kami dilayani oleh pendeta dari luar, yang sebagian diantaranya baru kali itu melayani di tempat kami.

Para pendeta itu umumnya datang dari berbagai latar belakang budaya, seperti juga latar belakang anggota jemaat GKI yang aneka rupa. Dan bagiku, keterbatasan jumlah pendeta ini justru menjadi berkat terselubung. Dengan demikian dapat berkenalan dengan semakin banyak pendeta dari dalam maupun luar GKI. Latar belakang pendidikan, keluarga, dan pengalaman para pendeta itu acap kali menjadi 'khotbah' yang lekat kuat-kuat dalam batin, kendati mungkin hal itu diceritakan justru setelah turun dari mimbar.

"Wajah Bapak mengingatkan saya dengan Pdt Albertus Patty, mirip," kata Pdt Alexander Hendrik Urbinas (yang berdiri bersamaku di foto ini), ketika kami bertemu di konsistori seusai ibadah (24-8-2014) dan ia bersiap-siap melepas toganya.

Aku tertawa tetapi tidak heran. Wajah batakku ini memang sudah berkali-kali menyamarkan identitasku sehingga sering diduga sebagai orang Ambon, orang Flores bahkan orang Keling. Tetapi dimirip-miripkan dengan Pdt Albertus Patty yang merupakan salah seorang ketua Sinode GKI itu, baru kali ini. Aku mengenal Pdt Albertus Patty ketika dulu masih mahasiswa di Bandung, dan beliau menjadi vikaris di GKI Maulana Yusuf. Jadi aku bisa membayangkan seperti apa wajah Pdt Albertus yang dimirip-miripkan dengan diriku. Puji Tuhan (wajah Pdt Albertus Patty keren lho).

Ketika mendengar perbincangan itu, para anggota majelis lain membalas lagi guyonan Pdt Alexander dengan mengatakan wajah beliau juga mirip dengan salah seorang penatua kami, Pnt Tomi, namanya, yang berlatarbelakang etnis Jawa-Sunda. Sayangnya, pada kebaktian kali ini ia tidak hadir. "Persis banget Pak. Wajahnya dan brewoknya persis," kata para penatua itu sambil tertawa, seraya menawarkan bakpau yang jadi cemilan pagi itu.

Yang aku tak menyangka-nyangka ialah ternyata darah Papua mengalir pada diri Pdt Alexander. Tadinya kukira dia orang Jawa karena nada bicaranya terdengar sedikit medok. Ia bercerita bahwa ayahnya berasal dari Papua sedangkan ibunya berlatar-belakang etnik Dayak. Selepas SMA ia menempuh studi di STT Jakarta dan kini ia melayani sebagai pendeta di GKI Harapan Jaya.

Ketika kemudian dia tahu aku orang Batak, dia sedikit terkejut lantas bertanya, "Marga bapak apa?"Jika ditanya begini, aku biasanya sedikit minder untuk menyebut Siadari, karena ini termasuk marga yang tidak elit, tidak terkenal dan udik.

"Siadari Pak," jawabku pelan.

Tapi sontak dia seperti bersemangat mendengar jawabanku. "Oh, saya tahu Siadari. Dulu teman saya mahasiswa di STT ada marga Siadari. Saya malah sering berkunjung ke rumahnya, numpang makan," kata dia, sambil menyebut sebuah nama.

Oalah....dunia ini ternyata sempit, Sohibnya yang marga Siadari itu tak asing lagi di telingaku. Lebih tepatnya, ayah dari sohibnya itu termasuk keluarga dekatku. Hampir dalam setiap acara arisan Siadari kami berjumpa. Megawati Siadari nama sohibnya itu. Anak dari Bang Basun Siadari, guru yang tinggal di kawasan Pulo Gadung.

Sungguh perjumpaan yang berkesan dengan Pdt Alexander. Selain oleh khotbahnya juga yang mengesankan, yang antara lain ia isi dengan kisah dia mendoakan orang-orang sakit ketika masih menjadi mahasiswa STT."

 

3 dari 3 halaman

Kesimpulan

Foto dan keterangan yang diunggah oleh Kakek Detektif adalah hoaks atau bohong. Karena ternyata, bukanlah Prabowo Subianto.

Foto tersebut juga merupakan foto lama sejak 2014 silam. Sedangkan, foto yang diunggah Kakek Detektif baru pada 11 Desember 2018 lalu.

 

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama 49 media massa lainnya di seluruh dunia.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi hoax yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoax yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Israel Bombardir Pasukan Iran di Suriah

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Amien Rais: Kalau Jor-joran Uang Kita Kalah
Artikel Selanjutnya
Prabowo: Kita Tidak Boleh Kalah, Kalau Kalah Negara Bisa Punah