Wajah Real Madrid Belum Berubah: Jose Mourinho dan Masalah yang Belum Terpecahkan

Real Madrid masih meraih kemenangan meski belum tampil meyakinkan.

Diterbitkan 15 Oktober 2026, 16:48 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Suporter dan analis akan menyebut mental juara atau DNA Raja Eropa sebagai pendorong remontada Real Madrid saat mengalahkan AS Roma 4-3 pada Matchday 2 Liga Champions 2026/2027.

Pada laga di Stadio Olimpico, Kamis (15/10/2026) dini hari WIB, Los Blancos sempat dalam posisi terdesak setelah tertiggal 1-3. Namun, torehan tiga gol dalam tujuh menit membantu tim tamu memastikan kemenangan.

"Real Madrid’s immortality strikes again in stunning comeback against Roma," tulis Diario AS menyikapi pertandingan tersebut.

Status sebagai pengoleksi gelar terbanyak kompetisi (15) memang menunjukkan hubungan istimewa Real Madrid dengan Liga Champions. Pengalaman dan tradisi yang dibangun bertahun-tahun membuat mereka kerap selamat dari situasi memalukan di ajang tersebut.

Namun, pertanyaan besar kemudian muncul. Bisakah faktor x itu terus berbuah kemenangan atau bahkan gelar juara?

Sejarah juga yang menunjukkan jawabannya adalah tidak. Los Blancos gagal merebut trofi utama dalam dua musim terakhir. Titel FIFA Intercontinental Cup dan Supercopa de Espana yang diraih pada 2025/2026 jadi pengecualian, mengingat dua kompetisi itu tidak melibatkan banyak pertandingan.

Diselamatkan Kualitas Individu

Kenyataannya, wajah Real Madrid musim ini tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Penampilan kolektif mereka masih mirip seperti ketika Alvaro Arbeloa dan Xabi Alonso masih berkuasa.

Real Madrid jarang bermain bagus. Kemenangan kerap dipetik berkat kualitas individu yang dimiliki, mulai trio lini depan (Kylian Mbappe, Vinicius Junior, Jude Bellingham) atau palang pintu terakhir (Thibaut Courtois).

Situasi itu pula yang terlihat di Olimpico, dengan tiga gol terakhir yang dilesakkan ke gawang tuan rumah terjadi dari sepak pojok.

Pelatih Jose Mourinho, yang mulai menjalani periode kedua, belum punya waktu banyak untuk menunjukkan sentuhannya dalam permainan Real Madrid. Lagipula nakhoda asal Portugal itu juga tidak terkenal dengan gaya indah, lebih kepada pragmatisme hasil pertandingan.

 

Piawai Mengalihkan Perhatian

Maka, selama Los Blancos masih menang, isu ini tidak akan dipermasalahkan. Berbekal pengalamannya, Mourinho bahkan bakal memastikan permainan Real Madrid tidak disorot.

Contohnya terlihat akhir pekan lalu. Ketika Los Blancos susah payah kalahkan Villarreal 1-0 di Liga Spanyol, sorotan justru tertuju pada sikap Mourinho yang memboikot konferensi pers usai partai.

Eks nakhoda Manchester United itu mengaku takut salah bicara sehingga dilarang mendampingi tim, mengingat El Clasico versus Barcelona (25 Oktober) sudah di depan mata.

Selepas meladeni Roma, Mourinho kembali menunjukkan kepiawaian mengalihkan perhatian dengan menyorot keputusan Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) yang menghukum Vinicius Junior larangan bermain empat laga akibat kartu merah saat bertemu Villarreal.

"Mereka tidak bisa melakukannya besok pagi, tapi dua jam sebelum pertandingan?" sindir Mourinho menyindir momen pengumuman sanksi Vinicius.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Bukan Cuma Conte, Manchester United Temukan Kandidat Lain Pengganti Carrick