Sukses

Jerman Dipecundangi Jepang di Piala Dunia 2022, Berikut 5 Penyebabnya

Liputan6.com, Jakarta - Jerman secara mengejutkan dipecundangi Jepang pada pertandingan pembuka Grup E Piala Dunia 2022. Tim Panser kalah 1-2 di Khalifa International Stadium, Doha, Watar, Rabu (23/11/2022) malam WIB.

Sebenarnya Jerman mengawali pertandingan perdana Piala Dunia 2022 Qatar dengan baik. Tim asuhan Hans Flick unggul terlebih dahulu di menit ke-33 lewat tendangan penalti Ilkay Gundogan.

Tetapi, Jepang mampu bangkit pada babak kedua. Tim Samurai mencetak dua gol balasan melalui Ritsu Doan dan Takuma Asano untuk memulai Piala Dunia Qatar 2022 dengan kemenangan.

Ini menjadi duel Piala Dunia kedua berturut-turut di mana Jerman kalah dalam pertandingan pembuka grup. Pada Piala Dunia 2018, Jerman menyerah 0-1 dari Meksiko yang membuat mereka tersingkir di fase grup dan gagal mempertahankan trofi juara.

Kekalahan dari Jepang membuat Jerman dihantu kegagalan Piala Dunia 2018. Karena, Spanyol akan menjadi lawan Manuel Neuer dan kawan-kawan berikutnya.

Menang melawan Spanyol akan menjaga peluang Jerman untuk lolos ke babak 16 besar Piala Dunia. Di partai terakhir, Tim Panser akan menghadapi Kosta Rika.

Namun, di mana kesalahan Jerman saat dikalahkan Jepang? Berikut 5 penyebab Jerman kalah dari Jepang seperti dikutip dari Fot Mob.

 

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 7 halaman

1. Bek Kanan

Setelah Philipp Lahm pensiun 2014 silam, Jerman memiliki masalah di bek kanan. Hanya ada opsi darurat di posisi tersebut - termasuk Niklas Sule - yang bermain kikuk saat melawan Jepang.

Pemilihan Sule sebagai bek kanan justru menimulkan banyak masalah saat melawan Jepang. Pemain berusia 27 tahun itu bukanlah bek sayap modern, tetapi bek tengah tengah yang sangat konsisten.

Keputusan pelatih Jerman Hans Flick memainkan Nico Schlotterbeck bek tengah juga kurang tepat karena dia terlihat sangat goyah. Karena itu, Flick disarankan memainkan Sule sebagai bek tengah dan posisi bek kanan ditempati Joshua Kimmich di dua laga berikutnya.

 

3 dari 7 halaman

2. Kurangnya naluri pembunuh

Kai Havertz tidak lagi menjadi pencetak gol yang produktif sejak pindah ke Chelsea dari Bayer Leverkusen. Dia unggul sebagai false nine untuk Leverkusen, tapi gagal melanjutkan performanya dengan Chelsea. Secara fisik, Havertz tidak terlalu cukup kuat untuk memimpin barisan serang Jerman.

Saat melawan Jepang, Havertz terlalu sering menempati ruang yang sama dengan gelandang Jerman lainnya. Sehingga tidak ada yang bisa menerima umpan silang atau terobosan. Ini tidak terjadi saat lini depan Jerman ditempati Miroslav Klose dan Mario Gomez.

Sementara itu, Serge Gnabry dan Ilkay Gundogan terlalu cepat untuk melepaskan tembakan saat rekan setim berada di posisi yang lebih baik. Pengambilan keputusan yang sangat buruk mungkin disebabkan beban harus mencetak gol.

 

4 dari 7 halaman

3. Pergantian pemain

Pelatih Jerman Hans Flick kalah dalam pertarungan di ruang ganti. Sementara pelatih Jepang Hajime Moriyasu merespons dengan berani setelah timnya tertinggal 0-1 di babak pertama.

Moriyasu mengubah komposisi empat bek menjadi tiga bek dengan mendorong bek sayapnya lebih ke depan di babak kedua. Moriyasu memainkan pemain sayap asli yang menawarkan ancaman serangan lebih besar.

Sebaliknya, Flick mengganti tiga pemainnya yang paling berbahaya - Jamal Musiala, Serge Gnabry, dan Ilkay Gundogan. Jerman bermain terbuka di babak kedua, tapi Jepang yang mengambil celah dan inisiatif sebagai hasil dari keragu-raguan Flick.

 

5 dari 7 halaman

4. Leroy Sane absen

Ini adalah permainan yang dibuat untuk Leroy Sane, seorang pemain yang bisa memanfaatkan sepenuhnya ruang yang ditinggalkan Jepang di sayap saat permainan semakin melebar. Sane akan menjadi starter yang pasti untuk Jerman jika fit dan ketidakhadirannya saat berpengaruh pada permainan.

Jamal Musiala, Serge Gnabry, Thomas Muller, dan Sane adalah barisan penyerang Bayern Munchen yang menakutkan dan seharusnya juga untuk Jerman. Tidak ada pemburu sejati di antara mereka, tetapi telah membuktikan mampu merotasi posisi depan untuk efek yang menghancurkan.

Kecepatan Sane sangat dirindukan Jerman. Dia telah membuktikan dengan memiliki 10 gol dalam 19 laga untuk Bayern Munchen sejauh musim ini.

 

6 dari 7 halaman

5. Mentalitas

Sejak menjadi juara Piala Dunia 2014, Jerman gagal menanamkan rasa takut dan hormat yang sama kepada lawan. Ini terbukti usai bencana di Piala Dunia 2018. Jerman kalah 0-1 dari Meksikodan dipencundangi oleh Korea Selatan 0-2.

Jerman juga tampil mengecewakan di Piala Eropa 2022. Pada kualifikasi Piala Dunia tahun lalu, Jerman kalah dari Makedonia Utara. Sementara dalam ajang Nations League, tim Panser dipermalukan Hungaria di kandang sendiri.

Jerman pasti tahu lini belakangnya rentan dan merasakan kelemahan. Ini segera terlihat setelah Jepang dapat menyamakan skor.

Mentalitas adalah hal yang sulit untuk dibangun kembali. Pelatih Jerman Hans Flick harus menemukan cara untuk bisa mengembalikan arogansi, tekad, dan kegugupan serupa yuang membuat JErman menjadi juara dunia.

Jerman sering terlihat memenangkan pertarungan psikologis bahkan sebelum menginjak lapangan. Sekarang, justru kebalikannya.

7 dari 7 halaman

Peringkat

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.