Jerman Dipecundangi Jepang di Piala Dunia 2022, Berikut 5 Penyebabnya

Sempat unggul terlebih dahulu, Jerman secara mengejutkan kalah 1-2 dari Jepang pada pertandingan pembuka Grup E Piala Dunia 2022.

Diterbitkan 24 November 2022, 11:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Jerman secara mengejutkan dipecundangi Jepang pada pertandingan pembuka Grup E Piala Dunia 2022. Tim Panser kalah 1-2 di Khalifa International Stadium, Doha, Watar, Rabu (23/11/2022) malam WIB.

Sebenarnya Jerman mengawali pertandingan perdana Piala Dunia 2022 Qatar dengan baik. Tim asuhan Hans Flick unggul terlebih dahulu di menit ke-33 lewat tendangan penalti Ilkay Gundogan.

Tetapi, Jepang mampu bangkit pada babak kedua. Tim Samurai mencetak dua gol balasan melalui Ritsu Doan dan Takuma Asano untuk memulai Piala Dunia Qatar 2022 dengan kemenangan.

Ini menjadi duel Piala Dunia kedua berturut-turut di mana Jerman kalah dalam pertandingan pembuka grup. Pada Piala Dunia 2018, Jerman menyerah 0-1 dari Meksiko yang membuat mereka tersingkir di fase grup dan gagal mempertahankan trofi juara.

Kekalahan dari Jepang membuat Jerman dihantu kegagalan Piala Dunia 2018. Karena, Spanyol akan menjadi lawan Manuel Neuer dan kawan-kawan berikutnya.

Menang melawan Spanyol akan menjaga peluang Jerman untuk lolos ke babak 16 besar Piala Dunia. Di partai terakhir, Tim Panser akan menghadapi Kosta Rika.

Namun, di mana kesalahan Jerman saat dikalahkan Jepang? Berikut 5 penyebab Jerman kalah dari Jepang seperti dikutip dari Fot Mob.

 

1. Bek Kanan

Setelah Philipp Lahm pensiun 2014 silam, Jerman memiliki masalah di bek kanan. Hanya ada opsi darurat di posisi tersebut - termasuk Niklas Sule - yang bermain kikuk saat melawan Jepang.

Pemilihan Sule sebagai bek kanan justru menimulkan banyak masalah saat melawan Jepang. Pemain berusia 27 tahun itu bukanlah bek sayap modern, tetapi bek tengah tengah yang sangat konsisten.

Keputusan pelatih Jerman Hans Flick memainkan Nico Schlotterbeck bek tengah juga kurang tepat karena dia terlihat sangat goyah. Karena itu, Flick disarankan memainkan Sule sebagai bek tengah dan posisi bek kanan ditempati Joshua Kimmich di dua laga berikutnya.

 

2. Kurangnya naluri pembunuh

Kai Havertz tidak lagi menjadi pencetak gol yang produktif sejak pindah ke Chelsea dari Bayer Leverkusen. Dia unggul sebagai false nine untuk Leverkusen, tapi gagal melanjutkan performanya dengan Chelsea. Secara fisik, Havertz tidak terlalu cukup kuat untuk memimpin barisan serang Jerman.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Saat melawan Jepang, Havertz terlalu sering menempati ruang yang sama dengan gelandang Jerman lainnya. Sehingga tidak ada yang bisa menerima umpan silang atau terobosan. Ini tidak terjadi saat lini depan Jerman ditempati Miroslav Klose dan Mario Gomez. Sementara itu, Serge Gnabry dan Ilkay Gundogan terlalu cepat untuk melepaskan tembakan saat rekan setim berada di posisi yang lebih baik. Pengambilan keputusan yang sangat buruk mungkin disebabkan beban harus mencetak gol.  

Halaman
Show All
Bogi Triyadi, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan