Sukses

Ingin Gelar Kompetisi? Simak 5 Protokol New Normal untuk Hindari Corona Covid-19 Versi Dokter Timnas Indonesia

Jakarta - Dokter Timnas Indonesia Syarif Alwi merancang pedoman new normal jika kompetisi ingin dilanjutkan. Di tengah pandemi corona Covid-19, protokol kesehatan sangat penting diperhatikan.

PSSI masih belum memastikan nasib Shopee Liga 1 dan Liga 2 yang terhenti karena pandemi corona Covid-19. Masa depan dua kompetisi tersebut akan diputuskan pada rapat Komite Eksekutif (Exco) PSSI dalam waktu dekat.

Kompetisi kemungkinan besar akan dibatalkan. PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) saat ini tengah menggodok kejuaraan pengganti. Opsinya berupa turnamen atau kompetisi dengan format baru.

Jika kompetisi atau pertandingan sepak bola ingin kembali dihidupkan, sejumlah syarat mesti dipenuhi. Misalnya, semua peserta dan perangkat pertandingan wajib dites corona Covid-19 dan dinyatakan negatif.

Lalu, panitia penyelenggara harus menjamin kebersihan ruang ganti, air cuci tangan, menyediakan sabun dan hand sanitizer, serta mempersiapkan tempat sampah yang menunjang.

Penyemprotan disinfektan pada lokasi dan alat latihan juga harus dilakukan. Setiap tim perlu menyediakan lebih dari satu bus untuk mengangkut para pemainnya demi memenuhi physical distancing.

Syarif Alwi juga menyarangkan kompetisi dibagi ke tiga wilayah, Timur, Barat, dan Tengah. Tujuannya untuk memudahkan pemantauan dan mengetatkan protokol kesehatan.

 
2 dari 2 halaman

Protokol COVID-19 Minimal Versi Syarif Alwi

1. Pastikan semua peserta dan perangkat mereka sudah laksankan rapid test corona COVID-19 dan negatif. Handicap pembiayaan satu orang paling murah Rp 950 ribu. Jika rapid test Rp 300 ribu. Datang harus pakai masker.

2. Kebersihan ruang ganti, air cuci tangan, sabun, hand sanitizer, dan tempat sampah harus siapkan untuk menunjang pertandingan.

3. Alat latihan harus disemprot disinfektan. 

4. Bus tim bisa dua sampai tiga. Misalnya 50 orang menjadi 25 orang.

5. Bikin tiga grup kompetisi, Timur, Barat, dan Tengah.

Misalnya di Yogyakarta, satu hotel bisa diisi 300 orang. Kenapa di satu hotel? Agar monitornya lebih mudah dan jelas aturan akan ketat. Kami ajarkan disiplin keras juga kepada polisi dan tentara. Klub bisa mengontrol bujet dan semuanya. Pengeluaran jelas bisa dihitung dari awal kalau di satu tempat. Tidak perlu bolak-balik pakai penerbangan.

Hotel juga sedang sepi. Bisa diminta diskon. Makan diatur, gizi terpantau, dan satu pintu keluar hotel menjadi aman. Beraktivitas juga harus pakai masker.

Jangan dianggap enteng. New normal justru beresiko. Jadi kalau ada satu tim yang terpapar COVID-19, hars dikeluarkan timnya dari hotel dan pertandingan. Dicek semua jangan ada pertandingan dulu. Resiko lebih besar. Disiplin lebih keras.

Ruang ganti, harusnya dua ruangan untuk satu tim agar bisa menjaga jarak. Handuk untuk satu kali pakai. Gelas sekali minum buat. Botol minuman diberi nama. Itu saja.

 

Disadur dari Bola.com (Penulis Muhammad Adiyaksa / Editor Gregah Nurikhsani, Published 30/5/2020)