Plus dan Minus Timnas Indonesia Ketika Pesta Gol ke Gawang Vanuatu

Timnas Indonesia menang telak 6-0 atas Vanuatu dalam laga uji coba internasional di SUGBK, Jakarta, Sabtu (15/6/2019).

Diterbitkan 16 Juni 2019, 11:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta Timnas Indonesia menang 4-0 atas Vanuatu dalam laga uji coba internasional yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno,  Jakarta, Sabtu malam (15/6/2019). Kemenangan ini tentu saja tetap akan mendapatkan evaluasi sebelum menatap kualifikasi Piala Dunia 2022 dan Piala Asia 2020 yang digelar mulai September mendatang.

Setelah menelan kekalahan 1-4 dari Yordania pada laga uji coba internasional yang digelar di Amman, Selasa (11/6/2019), Timnas Indonesia meraih kemenangan telak 6-0 saat menjamu Vanuatu di SUGBK, Sabtu (15/6/2019). Empat gol dicetak Beto Goncalves dan dua gol lain dicetak Evan Dimas Darmono.

Dengan kemenangan telak ini, Timnas Indonesia  asuhan Simon McMenemy sudah meraih dua kemenangan dalam tiga pertandingan. Tim Garuda juga menang 2-0 atas Myanmar pada uji coba yang digelar Maret 2019.

Dengan tiga laga uji coba digelar jelang kiprah Tim Garuda di kualifikasi Piala Dunia 2022/Piala Asia 2023, tentu Simon McMenemy sudah mengantongi evaluasi yang dibutuhkannya.

Dalam tiga pertandingan itu pula, Simon McMenemy telah mencoba dua formasi yang dipilihnya untuk Timnas Indonesia, yaitu 3-4-3 dan 4-4-2. Tim Garuda mampu meraih kemenangan dengan dua formasi tersebut, meski kalah saat menggunakan 3-4-3 menghadapi Yordania.

Kali ini, Bola.com mengulas kelebihan dan kekurangan yang diperlihatkan oleh Timnas Indonesia khusus dalam kemenangan 6-0 atas Vanuatu di SUGBK.

Kelebihan Timnas Indonesia

Kemenangan telak 6-0 sudah jelas menjadi keunggulan mutlak Timnas Indonesia atas Vanuatu. Namun, yang paling mendasar dari laga ini adalah Andik Vermansah dkk. mampu menerapkan formasi 4-4-2 untuk pertama kalinya dalam sebuah pertandingan resmi dengan sangat baik.

Meski pada awalnya pemain bermain hati-hati dan sempat beberapa kali kecolongan oleh pemain Vanuatu di tengah lapangan dan membuat gawang Tim Garuda sempat terancam, keunggulan 2-0 di babak pertama yang dilanjutkan empat gol di babak kedua adalah bukti pemain mampu beradaptasi dengan baik dengan formasi yang diminta Simon McMenemy.

Penggunaan dua penyerang membuat Beto Goncalves bergerak lebih leluasa mengecoh lini pertahanan tim lawan. Terbukti, Beto mampu mencetak empat gol, dua gol di antaranya di cetak pada menit kedua di setiap babak.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Beto tampak lebih mampu bergerak dengan bebas ketika memiliki rekan di lini depan, yang kali ini dilakukan oleh Irfan Bachdim. Selain itu, sisi sayap Timnas Indonesia juga tidak mengecewakan. Meski harus ikut mengawal lini tengah, Andik Vermansah, Riko Simanjuntak, bahkan Febri Hariyadi yang masuk sebagai pemain pengganti, mampu memaksimalkan kecepatan mereka untuk memberi ancaman maupun umpan silang yang bagus ke jantung pertahanan lawan. Penggunaan empat pemain bertahan membuat lini belakang Timnas Indonesia bisa lebih solid. Meski sempat hampir kecolongan, duet Yanto Basna dan Hansamu Yama di pusat pertahanan yang didukung Yustinus Pae dan Ricky Fajrin di dua sisi sayap pertahanan, mampu membantu Andritany mengamankan gawang dari kebobolan. Dua gol yang dicetak oleh Evan Dimas, di antara quattrick yang dicetak Beto Goncalves memberikan bukti lini kedua Timnas Indonesia tetap mampu menjadi andalan ketika menemui jalan buntu. Tembakan jarak jauh yang dilepaskan gelandang serang Tim Garuda pada babak pertama dan pergerakan menjemput umpan hingga ke kotak penalti yang berbuah gol kedua Evan Dimas, menjadi bukti lini tengah Timnas Indonesia akan menjadi penyokong bagus dalam mendobrak pertahanan lawan.

Halaman
Show All
Benediktus Gerendo Pradigdo, Jonathan Pandapotan Purba, Aning JatiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan