Sukses

Juara Piala FA dan Nasib Van Gaal di MU

Liputan6.com, Manchester - Louis van Gaal mengakhiri musim yang berantakan dengan Manchester United (MU) cukup manis. Dia berhasil mengangkat trofi Piala FA yang terakhir kali direbut MU pada musim 2003/04.

Sesaat ketika Jesse Lingard membobol gawang Crystal Palace di menit ke-110, kamera langsung menyorot raut muka van Gaal. Manajer MU asal Belanda itu turun langsung ke lapangan lalu memeluk Ryan Giggs.

Ada rasa bangga sekaligus sedih sepertinya yang dirasakan Van Gaal saat itu. Di satu sisi, gelar juara tentu membuatnya bangga. Namun dia juga sepertinya merasa sedih karena nasibnya bersama MU masih belum jelas.

Santer diberitakan sebelum laga final Piala FA lawan Crystal Palace jika juara atau tidak, MU bakal tetap mendepak Van Gaal. Jose Mourinho seperti ramai diberitakan sudah siap untuk mengganti posisi mentornya itu di MU.

Penentuan nasib Van Gaal kabarnya bakal diumumkan Senin (23/5/2016). Dewan Komisaris MU lewat pimpinan Ed Woodward bakal mengetukkan palu godamnya terkait masa depan van Gaal di MU.

Manchester United meraih gelar juara Piala FA 2015-16 setelah mengalahkan Crystal Palace 2-1 di Stadion Wembley, Sabtu (21/5/2016). (AFP/Ian Kington)

Van Gaal seperti biasa menanggapi sinis setiap pertanyaan soal pemecatan dirinya. Dia bahkan sedikit menyindir media yang terus-terusan seperti menginginkan pemecatan dirinya.

"Saya sudah perlihatkan trofi kepada Anda dan jangan bilang-bilang soal ini kepada teman saya di media, yang sudah pecat saya sejak enam bulan lalu. Manajer mana yang bisa lakukan itu? Anda sudah dengar dewan MU bicara? ha ha ha.. Saya tak mau bicara kemungkinan tinggalkan MU," ujarnya, yakin.

Mental Baja

Van Gaal memang bukan tipikal manajer yang bisa ditakut-takuti. Kepercayaan dirinya begitu tinggi. Itulah mengapa dia bisa sukses bersama tiga klub besar Ajax Amsterdam, Barcelona dan Bayern Muenchen.

Meski demikian, dia juga kerap akrab dengan pemecatan gara-gara keras kepala. Namun sekali lagi, Van Gaal bukan tipikal manajer yang bisa ditakut-takuti bahkan oleh teror fans sekalipun. Memecat manajer seperti menjadi tradisi bagi MU belakangan ini.

Pemain MU menyemprotkan sampanye saat merayakan gelar juara Piala FA di Stadion Wembley, Sabtu (21/5/2016). (AFP/Adrian Dennis)

Padahal saat Sir Alex Ferguson putuskan untuk pensiun pada Mei 2013 lalu, dia sudah berpesan kepada fans untuk memberikan dukungan kepada siapapun manajer yang menggantinya. "Tugas kalian sekarang yaitu dukung manajer baru. Itu penting," ujar Ferguson saat pidato perpisahannya.

Namun janji tetaplah janji. Rasa tidak sabar karena kering prestasi sepertinya sulit ditolerir fans MU. Setan Merah terbiasa mengangkat trofi dan bersaing menjadi yang terbaik di Eropa. Ini yang sudah hilang dari Old Trafford hampir di tiga tahun terakhir.

Tak pelak eks bintang MU pun blak-blakan mengungkapkan ketidaksukaan mereka dengan gaya bermain MU di bawah van Gaal. Eks kiper MU, Peter Schmeichel mengatakan jika MU sudah membuatnya sangat bosan.

"Tak ada lagi ambisi untuk tambah gol di setiap pertandingan. Setelah skor 1-0 malah bertahan, itu sama sekali bukan ciri khas permainan MU," ujar Schmeichel beberapa waktu lalu.

Paul Scholes juga turut memanaskan suasana. Dia tak segan-segan untuk menyindir Van Gaal. "Apakah Piala FA itu prioritas ketimbang Liga Inggris dan Liga Champions? Ini memang turnamen bagus. Dulu, kami tersingkir karena harus amankan pemain penting untuk laga Liga Inggris dan Liga Champions," ujar Scholes.

2 dari 2 halaman

Poles Pemain Muda

Satu hal yang bisa dinilai positif dari van Gaal bersama MU yaitu keberaniannya mengangkat pemain muda. Tak kurang 13 pemain akademi yang berhasil diangkatnya masuk ke dalam tim senior. Marcus Rashford dan Jese Lingard menjadi nama-nama yang kini pantas mendapatkan posisi starter di MU.

Kebiasaan ini sudah lama dipegang van Gaal. Di Barcelona, dia mengangkat nama-nama muda seperti Xavi Hernandez dan Andres Iniesta. Di Muenchen, dia juga yang mengapungkan Thomas Muller, Philip Lahm dan Bastian Schweinsteiger.

Jesse Lingard mencetak gol pembeda dalam final Piala FA. (Reuters / Jason Cairnduff)

Regenerasi ala van Gaal ini sedikit banyak mirip dengan apa yang dilakukan oleh Alex Ferguson kala bersama MU. Kekhawatiran pun kini muncul jika Van Gaal dipecat dan Jose Mourinho masuk sebagai pengganti.

Kebalikan dengan van Gaal, Mourinho tipikal manajer yang lebih menyukai pemain jadi. Meski dia juga tidak menutup kemungkinan untuk mengangkat seorang pemain muda tapi Mourinho jarang melakukannya. Jadi bagaimana MU?

Loading