Harga Emas Dunia Anjlok ke Level Terendah dalam 2 Pekan

Harga emas dunia turun ke level terendah dalam lebih dari dua pekan akibat lonjakan harga minyak dan kekhawatiran inflasi menjelang keputusan The Fed.

Diterbitkan 23 Oktober 2026, 07:20 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia merosot ke level terendah dalam lebih dari dua pekan pada perdagangan Kamis. Kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi, sementara investor menantikan keputusan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), pekan depan.

Mengutip CNBC, Jumat (23/10/2026), harga emas di pasar spot turun 2,2% menjadi US$ 4.051,55 per ons troy. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 2% menjadi US$ 4.066,20 per ons troy.

Analis ANZ, Soni Kumari, menilai harga emas masih berpotensi mengalami tekanan di tengah ketidakpastian pasar energi.

“Harga emas bisa turun lebih jauh karena kita masih melihat banyak ketidakpastian di pasar energi,” ujar Kumari.

Harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari US$ 2 per barel pada Kamis. Serangan kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran konflik meluas dan mengganggu pasokan minyak mentah.

Kondisi ini meningkatkan risiko inflasi. Meski emas kerap dijadikan lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga justru mengurangi daya tarik emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga.

Investor Nantikan Keputusan The Fed

Tekanan terhadap harga emas juga muncul setelah data inflasi konsumen dan produsen AS pekan lalu tercatat lebih tinggi dari perkiraan. Kenaikan biaya energi menjadi salah satu faktor pendorongnya.

Kondisi tersebut memperkuat alasan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat. Meski demikian, pejabat bank sentral AS diperkirakan belum akan menaikkan suku bunga dalam pertemuan pada 27–28 Oktober 2026.

Goldman Sachs memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember, sehingga kisaran suku bunga puncak mencapai 4%–4,25%. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember sekitar 80%.

Investor juga menantikan data belanja konsumsi pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang dijadwalkan rilis pada 29 Oktober.

Ekonom iklim dan komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, mengatakan data tersebut berpotensi menunjukkan kenaikan harga yang masih terlalu tinggi bagi The Fed.

“Mengingat data PCE akan menunjukkan bahwa harga naik dengan laju yang masih terlalu tinggi bagi The Fed, komunikasi FOMC bisa bernada hawkish dan hal itu dapat menekan harga emas,” kata Hussain.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6