Yen Loyo dan Bahan Baku Mahal, Ritel Pakaian Jepang Ini Naikkan Harga

Perusahaan pakaian ritel Uniqlo akan meningkatkan harga pada November 2026.

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan pakaian ritel asal Jepang, Uniqlo, mengatakan akan menaikkan harga jual rata-rata produknya di Jepang sebanyak 4%. Ini dikarenakan oleh harga bahan mentah yang kian meningkat serta yen yang melemah.

Melansir The Straits Times, Rabu (21/10/2026), mereka akan meningkatkan harga Kando Jacket miliknya dari 6.990 yen, atau Rp 794.798 (asumsi kurs yen Jepang terhadap rupiah di kisaran 114) menjadi 7.990 yen atau  Rp 908.503 pada 10 November 2026.

Selain itu, perusahaan ritel tersebut juga akan menghentikan beberapa diskon, seperti tawaran diskon untuk pembelian beberapa pasang kaus kaki. Secara keseluruhan, harga akan naik untuk 11 produk pada November.

Lalu, Uniqlo juga sempat menaikkan harga beberapa produk pada September, beriringan dengan peningkatan harga pengiriman dan biaya tambahan untuk perubahan pakaian. Ini termasuk menjahit ujung celana dan memendekkan lengan baju.

Uniqlo mengatakan peningkatan harga ini dibutuhkan demi menjaga kualitas produk. Mereka juga mengatakan kepada The Straits Times pada 20 Oktober bahwa kenaikan harga hanya akan berlaku di pasar Jepang.

 

 

Jepang dan AS Bahas Yen, Sepakat Nilai Tukar Terlalu Rendah Jadi Masalah

Sebelumnya, Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dan Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent membahas pergerakan nilai tukar yen pada Jumat. Pembicaraan berlangsung di tengah kekhawatiran Presiden AS Donald Trump terhadap pelemahan yen Jepang.

Mengutip Anadolu, Sabtu (26/9/2026), kedua pejabat keuangan tersebut membahas isu nilai tukar melalui pertemuan daring. Keduanya juga menegaskan bahwa nilai yen yang terlalu rendah merupakan sebuah masalah.

Katayama mengatakan dirinya berharap penjualan yen secara berlebihan mulai mereda. Menurut dia, kemungkinan terjadi “kesalahpahaman” di pasar yang menyebabkan tekanan terhadap yen, sehingga tren tersebut berpotensi berbalik.

Bessent sebelumnya mendorong Tokyo untuk memperkuat yen. Pelemahan yen dinilai dapat meningkatkan tekanan inflasi di Jepang. Di sisi lain, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang berpotensi mendorong imbal hasil surat utang AS lebih tinggi.

Bessent mengatakan pembicaraannya dengan Katayama berlangsung produktif.

“Pembicaraan kami melanjutkan diskusi Presiden Trump dengan Perdana Menteri Sanae Takaichi awal pekan ini dan mencerminkan kuatnya kemitraan AS-Jepang,” kata Bessent melalui X.

 

 

Pertemuan Trump dan Sanae Takaichi

Bessent menambahkan, dirinya dan Katayama juga membahas pentingnya yen yang kuat dan mencerminkan fundamental ekonomi Jepang. Keduanya sepakat menjaga komunikasi yang erat terkait perkembangan pasar valuta asing.

“Kami membahas pentingnya yen yang kuat yang mencerminkan fundamental ekonomi Jepang yang kuat, serta pentingnya tetap menjalin komunikasi erat mengenai pasar valuta asing,” tambah Bessent.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi sebelumnya bertemu dengan Trump pada Selasa. Dalam pertemuan tersebut, Trump menyampaikan kekhawatirannya mengenai pelemahan yen, menurut Katayama.

Mengutip penyiar publik NHK, Katayama mengatakan Takaichi merespons bahwa secara umum, nilai yen yang terlalu rendah merupakan persoalan.

“Takaichi menjawab bahwa, secara umum, undervaluasi yen merupakan masalah,” kata Katayama seperti dikutip NHK.

Jepang dan AS merupakan sekutu pertahanan. Sekitar 50.000 tentara AS ditempatkan di Jepang berdasarkan kerja sama keamanan bilateral yang telah berlangsung sejak berakhirnya Perang Dunia II pada 1945.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6