Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada pembukaan perdagangan Senin (19/10/2026). Rupiah turun 8 poin atau 0,04 persen ke level 18.035 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi 18.027 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif sepanjang pekan ini. Menurut proyeksinya, mata uang Garuda berpotensi bergerak dalam rentang 17.850 per dolar AS hingga 18.200 per dolar AS.
"Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga kondisi domestik," jelas dia, Senin (19/10/2026).
Advertisement
"Salah satu perhatian pasar adalah perkembangan pasar modal Indonesia setelah penyedia indeks global MSCI mengumumkan rencana konsultasi terkait kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia," tambah Ibrahim.
Perkembangan tersebut berpotensi memengaruhi kepercayaan investor asing dan arus modal ke pasar keuangan domestik. Tekanan terhadap rupiah dinilai masih dapat berlanjut meskipun Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Selain itu, kenaikan harga minyak mentah turut menjadi perhatian. Indonesia masih membutuhkan impor energi, sehingga harga minyak yang tinggi dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran impor.
Kondisi tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah, terutama ketika kebutuhan valuta asing juga berasal dari pembayaran utang yang jatuh tempo dan pembagian dividen oleh perusahaan.
Ibrahim menilai pemerintah perlu memperhatikan kebutuhan pembiayaan energi di tengah tekanan nilai tukar dan kenaikan harga minyak. Menurut dia, kebijakan pemerintah perlu mempertimbangkan kondisi fiskal sekaligus memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.
Â
Harga Minyak Tinggi Berpotensi Menambah Tekanan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875743/original/064820600_1719401843-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_6.jpg)
Ibrahim memperkirakan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) berpotensi bergerak di kisaran US$ 94,20 hingga US$ 104,80 per barel sepanjang pekan ini. Dengan proyeksi tersebut, harga minyak berpeluang kembali berada di atas US$ 100 per barel.
Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor energi dan kebutuhan dolar AS. Apabila berlangsung bersamaan dengan pelemahan rupiah, tekanan terhadap anggaran negara juga perlu diwaspadai.
Di sisi lain, Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS berpotensi bergerak dalam rentang 101,20 hingga 102,70. Penguatan indeks dolar dapat menjadi tantangan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ia juga menyoroti ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur yang berpotensi memengaruhi harga komoditas energi serta sentimen pasar global. Ketidakpastian tersebut dapat mendorong pergerakan investor terhadap aset-aset keuangan.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah dinilai perlu memperhatikan prioritas belanja dan kebutuhan pembiayaan energi. Ibrahim turut menyinggung perlunya evaluasi terhadap sejumlah program pemerintah agar pengelolaan anggaran dapat menyesuaikan tekanan yang berkembang.
Meski demikian, pergerakan rupiah ke depan tetap akan dipengaruhi perkembangan pasar keuangan global, kebijakan moneter, arus modal asing, serta langkah stabilisasi yang ditempuh otoritas.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357854/original/064380600_1790310156-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-25T112030.995.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256352/original/040260500_1781154176-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-11T120248.984.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375340/original/043230400_1792140162-Screenshot_2026-10-16_151345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364644/original/080112300_1791013312-IndonesiadangdutAwards2026Attire__ekotjandra_Hijab_stylist__suciaurelias_Makeup__riskymakeup__5_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4282582/original/062080800_1672910733-Imbas_potensi_perlambatan_ekonomi_nilai_rupiah_melemah_terhadap_dollar-ANGGA_2.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337097/original/098406000_1609328704-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337095/original/079976700_1609328703-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4630618/original/056659000_1698749991-20231031-Rupiah-Menguat-Angga-2.jpg)