Sukses

Berkat Donasi Miliarder Ini, Biaya Kuliah Kedokteran di Universitas Johns Hopkins Gratis

Sebagian mahasiswa kedokteran yang kurang mampu di Universitas Johns Hopkins akan mendapatkan biaya kuliah gratis berkat donasi dari miliarder Michael Bloomberg.

Liputan6.com, Jakarta - Mantan Wali Kota New York yang juga seorang miliarder Michael Bloomberg melalui Bloomberg Philanthropies menyumbangkan USD 1 miliar atau sekitar Rp 16,26 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah 16.267) untuk Universitas Johns Hopkins. Lembaga ini bergabung dengan pendonor terkemuka lainnya yang telah berkontribusi untuk kampus kedokteran.

Sumbangan itu menjadikan kampus kedokteran gratis bagi sebagian besar mahasiswa di Johns Hopkins University atau Universitas Johns Hopkins.Demikian mengutip dari CNN, Selasa (9/7/2024).

Dalam surat yang ditulis oleh Michael Bloomberg pada laporan tahunan Bloomberg Philanthropies, miliarder itu mengatakan kalau donasi tersebut untuk mengatasi dua tantangan yakni menurunnya kesehatan dan Pendidikan.

Dalam suratnya, Michael Bloomberg, alumni Johns Hopkins menuturkan, angka harapan hidup di Amerika Serikat masih tertinggal dibandingkan negara lain sejak pandemi COVID-19. Ia menuturkan, pandemi COVID-19 juga merugikan pendidikan masyarakat. Ia mencatat, sekolah jarak jauh bencana bagi mahasiswa.

"Tingginya biaya sekolah kedokteran menghalangi siswa dari keluarga berpenghasilan rendah untuk mendaftar,” ujar mantan Wali Kota New York City.

Ia menambahkan, hadapi krisis kesehatan ini harus menyatukan kedua partai politik. Survei yang dilakukan pada Oktober oleh Association of American Medical Colleges menemukan 70 persen mahasiswa kedokteran yang lulus pada 2023 memiliki utang pendidikan pada tingkat tertentu. Menurut AAMC, rata-rata lulusan meninggalkan kampus kedokteran karena utang lebih dari USD 200.000 atau sekitar Rp 3,25 miliar.

Bloomberg menuturkan, banyak yang diterima sebagai mahasiswa akhirnya putus sekolah karena tekanan keuangan.

“Mereka yang lulus sering kali memilih bekerja di bidang yang paling menguntungkan demi membayar utangnya dibandingkan di bidang dan komunitas yang paling membutuhkan,” ujar Bloomberg.

Bloomberg sebelumnya donasi USD 1,8 miliar atau sekitar Rp 29,27 triliun pada 2018 untuk bantuan keuangan bagi sarjana di Universitas Johns Hopkins.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 5 halaman

Berapa Kekayaan Michael Bloomberg?

Berdasarkan data Forbes, Michael Bloomberg masuk peringkat ke-15 orang terkaya di dunia. Kekayaan Bloomberg tembus USD 106,2 miliar atau sekitar Rp 1.727 triliun.

Michael Bloomberg menajdi salah satu pendiri perusahaan informasi keuangan dan media Bloomberg pada 1981. Ia memberikan pendanaan awal untuk Perusahaan itu dan memiliki 88 persen saham di bisnis tersebut yang diperkirakan memiliki pendapatan USD 13 miliar. Sebelumnya, ia memulai karier di wall street pada 1966 tepatnya di bank investasi Salomon Brothers.

Ia menjabat sebagai wali kota New York City selama 12 tahun dari 2002-2013, dan gagal mencalonkan diri sebagai presiden pada 2020.

Selain sebagai miliarder, ia juga dikenal sebagai seorang dermawan. Ia telah sumbangkan USD 3 miliar dan sepanjang hidupnya sudah menyumbang USD 17,4 miliar untuk perubahan iklim, pendidikan dan lainnya.

3 dari 5 halaman

Sumbangan untuk Kampus Kedokteran di AS

Pada Senin, 8 Juli 2024, Johns Hopkins University menyebutkan, bagi sebagian besar mahasiswa kampus kedokteran, sumbangan itu akan menutupi seluruh biaya dan biaya hidup termasuk uang kuliah.

Mahasiswa dari keluarga yang berpenghasilan kurang dari USD 300.000 atau sekitar Rp 4,87 miliar akan memenuhi syarat untuk menerima hadiah itu. Biaya hidup akan ditanggung untuk siswa yang berasal dari keluarga yang berpenghasilan kurang dari USD 175.000 atau sekitar Rp 2,84 miliar.

Ini bukanlah kampus kedokteran pertama yang menerima hadiah seperti itu. Pada Februari, mahasiswa di Fakultas Kedokteran Albert Enstein di New York menerima uang kuliah gratis setelah sumbangan USD 1 miliar dari mantan anggota fakultas yakni Dr Ruth Gottesman.

Pada 2018, Fakultas Kedokteran NYU yang menawarkan biaya kuliah gratis kepada siswa yang menerima.

 

4 dari 5 halaman

Bukan Soal Duit, Ini Pesan Miliarder Michael Bloomberg buat Generasi Muda

Sebelumnya, ternyata uang bukanlah sesuatu yang kerap didengungkan miliarder dunia. Seperti Michael Bloomberg yang menegaskan jika uang bukanlah segalanya. Bahkan buat generasi muda,  miliarder ini berkata banyak hal yang lebih bermakna ketimbang gaji semata.

Pemimpin perusahaan Bloomberg itu menyampaikan pesannya pada sebuah acara yang berlangsung di Harvard Business School. Begitu mencari kerja setelah lulus, Bloomberg mengimbau untuk fokus pada kebahagiaan dan kesempatan untuk berkembang.

"Ketika kamu menimbang pilihan kerja, bahkan jika di masa depan ketika kamu ingin mengubah karier, buanglah gaji dari pertimbangan," ujar Bloomberg seperti dikutip The Ladders.

"Apa yang penting bagi kariermu bukanlah gaji awal, melainkan perkembangan dan kebahagiaan. Uangnya akan menyusul kelak," lanjutnya.

Michael Bloomberg adalah miliarder terkaya nomor sembilan di Amerika Serikat. Kekayaannya ditaksir mencapai USD 53,9 miliar atau Rp 769,9 triliun (USD 1 = Rp 14.285). Ia juga pernah menjabat sebagai walikota New York pada dari 2002-2013.

Berdasarkan pengalaman Bloomberg selama setengah abad di dunia politik dan bisnis, ia turut berkata bahwa masyarakat lebih menaruh hormat kepada orang yang bisa membuat perubahan ketimbang sekadar punya uang. 

 

5 dari 5 halaman

Nasihat Lain

"Dan saya bisa memberitahumu, setelah 50 tahun lebih di dunia bisnis dan pemerintahan, orang-orang lebih banyak respek ke mereka yang menciptakan perbedaan di masyarakat ketimbang kepada orang yang hanya menghasilkan uang," ujar Bloomberg ke para mahasiswa.

Nasihat lain yang miliarder itu tawarkan ke para pemuda adalah ajakan jujur, dermawan, menghindari sifat rakus, dan agar jangan meremehkan nilai pegawai.

Kepada para calon pemimpin bisnis, ia mengingatkan bahwa banyak perusahaan yang justru menggaji karyawan dengan kecil, sementara gaji CEO terlampau besar. Bloomberg menilai hal itu justru tidak tepat.

"Di Bloomberg, kami membayar pegawai dengan baik, kami berinvestasi pada pelatihan dan pendidikan mereka, dan kami menawarkan benefit terbaik dari industri. Sebagai gantinya, pegawai kami membayar balik sepuluh kali lipat lewat pengabdian dan loyalitas mereka," ujar Bloomberg.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.