Sukses

Sektor Properti Loyo, Harga Rumah di China Anjlok dengan Laju Tercepat dalam 10 Tahun

Pemerintah China juga menyiapkan fasilitas senilai 300 miliar yuan untuk mendukung perusahaan mengatur harga rumah dengan besaran yang wajar.

Liputan6.com, Jakarta - Harga rumah di China tengah menjadi sorotan baru-baru ini, lantaran mengalami penurunan ke tingkat tercepat dalam hampir 10 tahun.

Penurunan ini diduga karena banyaknya properti di pasar yang menekan permintaan, meskipun ada upaya baru dari pemerintah untuk menopang sektor properti.

Dilansir dari The Guardian, Selasa (18/6/2024) harga rumah baru di 70 kota di China, tidak termasuk perumahan bersubsidi, turun 0,7% dari tingkat bulan April 2024.

Ini menandai penurunan paling tajam sejak Oktober 2014, menurut angka Biro Statistik Nasional (NBS) China yang dirilis pada Senin 17 Juni 2024.

Nilai rumah yang ada juga turun sebesar 1%, penurunan paling tajam sejak China mulai menggunakan metode pengumpulan data saat ini pada tahun 2011.

Data tersebut muncul meskipun ada upaya paling ambisius yang dilakukan pemerintah China, untuk menghidupkan kembali harga rumah di China.

Pada Mei 2024, Bank Rakyat China memberhentikan suku bunga minimum dan mengurangi rasio uang muka menjadi 15% untuk pembeli pertama dan 25% untuk pembelian rumah kedua.

Pemerintah China juga menyiapkan fasilitas senilai 300 miliar yuan untuk mendukung perusahaan mengatur harga rumah dengan besaran yang wajar.

Di sisi lain, investor mengatakan jumlah investasi bank sentral belum cukup. Langkah-langkah di beberapa kota yang mengizinkan pemerintah daerah untuk membeli kelebihan properti dari pengembang mengalami kemajuan yang lambat dalam mengalokasikan dana yang dialokasikan.

Liu Aihua, juru bicara NBS, mengatakan pada konferensi pers pada hari Senin bahwa pasar properti China sedang menjalani penyesuaian dan akan memerlukan waktu untuk mengambil langkah-langkah kebijakan.

Para pengambil China kebijakan telah berupaya mengendalikan kelebihan pasokan perumahan, dan mendukung pengembang yang terbebani utang sejak pasar terjun bebas pada tahun 2020, akibat terpukul oleh pandemi dan tindakan keras peraturan yang tiba-tiba terhadap pemberi pinjaman yang berhutang.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Bank of China Dalam Perjuangan Stabilitas Ekonomi di Tengah Pelemahan Sektor Properti

 

Ipek Ozkardeskaya, analis senior di Swissquote Bank, mengatakan data ekonomi yang tak kuat dapat mendorong Bank of China menurunkan suku bunga untuk membantu permintaan.

"Data terbaru menunjukkan bahwa harga rumah di sana turun lebih cepat di bulan Mei meskipun pemerintah China telah melakukan semua upaya untuk menghentikan pendarahan, dan produksi industri juga melambat secara signifikan lebih dari yang diharapkan, pada bulan yang sama," katanya.

"Bank Rakyat China diperkirakan akan mempertahankan suku bunganya tidak berubah pada minggu ini, namun beberapa ekonom di Bloomberg percaya bahwa minggu ini dapat menyebabkan penurunan suku bunga sebesar 10 basis poin di Tiongkok untuk menopang keadaan," bebernya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini