Sukses

Harga Minyak Dunia Kembali Naik, Tapi Analis Ini Yakin Tak Bakal Sampai Tembus USD 95 per Barel

harga minyak Brent untuk kontrak Agustus dipatok USD 82,62 per barel, turun 13 sen, atau 0,16%. Dari awal tahun hingga saat ini harga minyak yang menjadi acuan global ini berada di atas 7,2%.

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak mentah akhirnya tak melanjutkan pelemahan pada perdagangan Jumat. Harga minyak dunia telah anjlok selama tiga pekan berturut-turut.

Harga minyak dunia tak lanjutkan penurunan karena adanya perkiraan dari pelaku pasar bahwa bakal ada permintaan yang cukup ketat.

Harga minyak turun pada hari ini, namun mengakhiri minggu ini dengan kenaikan hampir 4% karena permintaan bahan bakar di musim panas diperkirakan akan mengurangi persediaan dalam beberapa minggu mendatang.

Mengutip CNBC, Sabtu (15/6/2024), harga minyak mentah West Texas Intermediate Amerika Serikat ( WTI AS) untuk kontrak Juli dipatok USD 78,45 per barel, turun 17 sen, atau 0,22%. Sejak awal tahun hingga saat ini, harga minyak AS naik 9,5%.

harga minyak Brent untuk kontrak Agustus dipatok USD 82,62 per barel, turun 13 sen, atau 0,16%. Dari awal tahun hingga saat ini harga minyak yang menjadi acuan global ini berada di atas 7,2%.

Sedangkan untuk harga gas alam kontrak Juli di angka USD 2,88 per seribu kaki kubik, turun 2,64%. Sampai saat ini jika dihitung dari awal tahun, harga gas alam telah naik 14,6%.

Analis minyak di Kpler Matt Smith mengatakan, harga minyak saat ini akan mengalami kenaikan, meskipun kenaikannya akan terbatas.

“Anda mendapat argumen bullish bahwa kita akan memasuki musim panas, pengoperasian kilang akan sangat mengurangi persediaan,” kata Smith kepada “Squawk Box” CNBC pada hari Jumat.

“Harga minyak bisa sampai USD 90, tapi kami menduga nanti akan kembali turun lagi,” kata Smith.

“Harga minyak tidak akan mencapai USD 95, tidak akan mencapai USD 100 per barel di sini.” tambah dia.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Rencana OPEC+

Meskipun sebagian besar pasar telah mengabaikan risiko geopolitik dan kembali fokus pada fundamental, RBC Capital Markets memperingatkan investor untuk tetap mencermati situasi yang semakin genting di perbatasan Israel-Lebanon.

“Kami mengamati dengan cermat apakah kepergian Benny Gantz dari kabinet masa perang Israel akan mendukung operasi darat yang bertujuan untuk mengusir Hizbullah dari perbatasan,” jelas kepala analis komoditas Helima Croft, mengatakan kepada klien RBC dalam sebuah catatan.

Minyak masih jauh di bawah harga tertinggi tahunan yang dicapai pada bulan April tetapi telah kembali menguat setelah aksi jual minggu lalu yang mendorong harga ke posisi terendah dalam empat bulan setelah OPEC+ mengumumkan rencana untuk meningkatkan produksi pada kuartal keempat.

Namun, kartel ini tetap mempertahankan semua pengurangan produksi hingga bulan Oktober, dan telah melakukan dua tahap pengurangan hingga akhir tahun 2025.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini