Sukses

Nelayan Maluku Utara Ngeluh Rugi Jual Ikan Tuna di Pasar

Nelayan dari Ternate, Maluku Utara, mengungkapkan tantangan yang mereka hadapi ketika hendak menjual ikan hasil tangkapnya di pasar.

Liputan6.com, Jakarta Nelayan dari Ternate, Maluku Utara, mengungkapkan tantangan yang mereka hadapi ketika hendak menjual ikan hasil tangkapnya di pasar.

Nelayan ikan tuna anggota KNTI (Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia), Gafur Kaboli mengatakan bahwa pihaknya berharap Pemerintah dapat memperhatikan isu penentuan harga ikan di pasaran yang dapat memberi keuntungan bagi nelayan kecil.

Menurut pengalamannya di lapangan, nelayan skala kecil di pasar kerap dirugikan saat akan menjual ke supplier lantaran penentuan harga oleh perusahaan.

 

"Kalau terkait dengan mutu, kita yang nelayan kecil sudah dilatih bagaimana penanganan ikan yang baik di atas kapal," kata Gafur dalam Diskusi Publik Bulanan KNTI yang digelar secara daring pada Kamis (13/6/2024).

"Yang kami harapkan sekarang menyangkut dengan pasar, karena nelayan skala kecil semuanya harus menjual ke supplier. Sedangkan supplier mendapat harga dari perusahaan." bebernya.

Apalagi kami adalah nelayan-nelayan yang sebagian besar menangkap tuna, ikan hasil tangkap kami (adalah produk ikan) diekspor. Jadi bagaimana nelayan kecil mendapat harga yang baik, bukan harga ikannya dibuat oleh supplier dengan kepentingan-kepentingan yang pada ujungnya merugikan nelayan kecil," tambahnya.

Harga Jual Ikan

Maka dari itu Gafur berharap, Pemerintah dapat segera melakukan intervensi terkait penentuan harga jual ikan oleh nelayan kecil di pasar.

"Jadi walaupun ikan kita banyak, mutu juga terjamin, tapi kalau pasar tidak menjamin harga yang jelas maka kesejahteraan nelayan tetap dirugikan," ia menekankan.

Gafur lebih lanjut mengungkapkan, meski sudah memasuki musim ikan Tuna di wilayah Timur, masih ada sejumlah perusahaan yang tidak menampung hasil tangkap nelayan.

"Itu sudah kejadian berulang-ulang kali, dan itu adalah ikan-ikan tuna, ikan-ikan (untuk) ekspor," bebernya.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Tangkap 2 Kapal Asing Jumbo, Menteri Trenggono Mau Lakukan Ini

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkap telah berhasil menangkan 2 kapal ikan asing asal China. Dia berencana kedua kapal itu akan digunakan untuk kepentingan distribusi perikanan di Indonesia.

Menurutnya, hal itu bisa dilakukan lantaran 2 kapal itu berukuran besar sekitar 870 gross ton (GT). Kapal itu merupakan kapal Run Zheng 03 dan Run Zheng 05. Satu diantaranya ditangkap di perairan di wilayah Timur Indonesia.

"Ini kapal trawl ini yang sekali sedot 100 ton. Sekali sedot 100 ton. Jadi agak bangga juga kita setelah 2 ini ketangkap gitu. Karena ini sudah cukup lama dia lari-lari begitu," kata Menteri Trenggono dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI, Selasa (11/6/2024).Dia mengatakan, kapal Run Zheng 05 yang ditangkap otoritas Papua Nugini sedang diproses untuk dialihkan ke Indonesia. Nantinya, pihaknya menggandeng Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk menjalani proses hukum.

Jika disetujui Kejagung, dia ingin dua kapal itu digunakan untuk mendistribusikan hasil tangkapan ikan di perairan di Indonesia.

"Ini idenya nanti kapalnya kita minta, kita akan minta kepada Kejaksaan untuk kemudian kita ubah menjadi kapal angkut. Jadi harapan saya sebetulnya kapal angkut itu terus aja, muter, antara dari Timur ke Jawa, terus aja begitu," tuturnya.

 

3 dari 3 halaman

Gerakkan Ekonomi

Harapannya, dengan berkeliling dari sumber penangkapan ikan ke pusat permintaan, akan membentuk suatu pola baru. Alhasil, mampu menggerakkan aspek ekonomi.

Menurutnya, ini sekaligus menjawab tantangan soal angkutan dari hasil tangkapan ikan di wilayah-wilayah Indonesia.

"Dengan demikian ya mau ada muatan atau tidak kalau jalan terus nanri lama-lama kan secara ekonomi akan terbentuk juga, gitu," katanya.

"Ini harapannya begitu. Karena sekarang itu juga soal angkutan menjadi persoalan," sambung Menteri KKP.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini