Sukses

Luhut Sebut Tindak OTT Korupsi Kampungan: Dulu Saya Di-Bully

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengaku sudah jengah dengan praktik operasi tangkap tangan (OTT) tindak korupsi yang menghabiskan banyak biaya.

Liputan6.com, Jakarta Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, mengaku sudah jengah dengan praktik operasi tangkap tangan (OTT) tindak korupsi yang menghabiskan banyak biaya.

Sebab menurutnya, proses digitalisasi tidak hanya memangkas biaya, tapi juga mengecilkan potensi praktik korupsi.

"Kita sudah lihat e-catalog kita sudah masuk secara bertahap akan mengurangi korupsi. OTT itu juga enggak akan terjadi lagi, pasti korupsi berkurang karena Anda deal dengan mesin," ujarnya di Hotel Fairmont, Jakarta, Senin (10/6/2024).

Luhut pun mengaku pernah dihujat gara-gara tak setuju dengan praktik OTT. Pasalnya, ia menganggap itu sebagai aksi yang kampungan.

"Anda lihat sekarang mana, dulu saya di-bully, dibilang kenapa Pak Luhut itu enggak setuju OTT. Ya enggak setuju lah, kalau bisa tanpa OTT, kenapa bisa OTT?" ungkap dia sembari bercerita.

"Kan kampungan itu, nyadap-nyadap telepon, tau-tau nyadap dia lagi bicara sama istrinya, wah enak tadi malam mam katanya, kan repot-repot. Ya kan, sorry ya, itu kan enggak benar," sambungnya.

Lebih lanjut, Luhut turut buka suara soal tudingan membonsai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Padahal, ia mengklaim KPK turut serta dalam pembentukan e-catalog.

"Anda lihat, saya sudah bilang, orang masih bilang KPK itu di-bonsai, apanya di-bonsai? Itu yang bikin e-catalog itu kan KPK juga ikut, dengan kami kerjasama. Kita lakukan itu, sehingga orang tidak perlu lagi melakukan tangkap OTT-OTT," tuturnya.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Tak Pusingkan Utang, Luhut Pede Pemerintah Tuntaskan IKN dan Program Makan Gratis

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menepis tudingan Indonesia sebagai negara pengutang. Ia menilai utang pemerintah masih tergolong aman, dengan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) di kisaran 36 persen.

"Ada orang yang bilang utang kita tinggi, rasio kita terhadap GDP masih 36 persen masih sangat rendah dibandingkan banyak negara. Dimana yang salah?" ungkap Luhut dalam acara HUT HIPMI ke-52 di Fairmont Hotel, Jakarta, Senin (10/6/2024).

Menurut dia, pemerintah juga target pertumbuhan ekonomi bisa dicapai tanpa perlu mengorbankan keberlanjutan fiskal. Ia pun percaya defisit APBN ke depan bakal tetap terjaga di kisaran 2,5 persen.

"Ini di kantor saya mereka membuat satu economic model. Sehingga kita bisa lihat 5 tahun ke depan itu kita sebenarnya tidak ada masalah dengan budget deficit 2,5 persen," imbuh Luhut.

Sehingga, ia optimistis pemerintah ke depan bakal tetap bisa menuntaskan berbagai proyek-proyek besar seperti Ibu Kota Nusantara (IKN), jalan tol, hingga program Makan Bergizi Gratis yang dibawa Presiden RI 2024-2029 terpilih, Prabowo Subianto.

"Ini kita bisa menyelesaikan di ibu kota, kita bisa menyelesaikan Tol Sumatera, kita juga bisa menyelesaikan proyek-proyek lain, makan bergizi, yang itu akan dilakukan secara bertahap melalui ide presiden terpilih," ungkapnya.

Oleh karenanya, Luhut kembali menekankan bahwa utang negara tidak akan jadi beban untuk ke depan. Pemerintah disebutnya telah menata ekonomi nasional secara jangka panjang, termasuk untuk urusan utang.

"Kita enggak ada masalah, utang kita masih reasonable untuk dibayar. Koordinasi peningkatan defisit dalam batas, realokasi belanja menjadi produktif, dan semua kita lakukan secara bertahap, berkelanjutan, fiskal ini akan terus dijaga," tegasnya.

"Anda lihat angka-angka ini masih tetap bagus. Rasio utang, rasio bunga utang kita, semua ditata dengan baik. Dan ini pengalaman dari pemerintah, Indonesia saya kira belum pernah gagal bayar berpuluh-puluh tahun," pungkas Luhut.

 

3 dari 4 halaman

Luhut Bocorkan Rencana Akuisisi BUMN: Pertamina ke Brazil, Bulog ke Kamboja

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, membocorkan sejumlah rencana akuisisi perusahaan BUMN ke pasar internasional, yakni PT Pertamina (Persero) ke Brazil dan Perum Bulog ke Kamboja.

Luhut menyatakan, pembangunan ke depan wajib mewaspadai tren global yang terjadi saat ini, khususnya menyoal ketahanan pangan dan energi. Keduanya bisa didapat dari komoditas tebu asal Brazil, yang kini tengah diupayakan oleh Pertamina.

"Presiden sudah memutuskan nanti Pertamina akan akuisisi perusahaan, sekarang lagi due diligence di Brazil, untuk mengambil perusahaan yang bisa mensuplai gula dan juga etanol. Sehingga karena cuaca yang jelek ini, air pollution yang sangat tinggi di Jakarta, kita akan ganti bensin itu secara bertahap dengan bioetanol," ujarnya dalam acara HUT BPP HIPMI ke-52 di Fairmont Hotel, Jakarta, Senin (10/6/2024)."Nah ini saya kira dalam 3 tahun, 2 tahun ke depan kita akan bisa capai. Sehingga nanti Pertamina memiliki sumber energi dan sumber gula di Brazil, itu akan membuat ketahanan energi kita bagus," seru Luhut.

Masih soal ketahanan pangan, Luhut juga menyebut Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memerintahkan Perum Bulog untuk mengamankan stok beras dari Kamboja.

"Sementara itu, Bulog akan akuisisi beberapa sumber beras di Kamboja. Presiden tadi sudah memerintahkan saya untuk kita tindak lanjut. Dan sudah memang ditindaklanjutin, sekarang tinggal kita melakukan due diligence," imbuhnya.

 

4 dari 4 halaman

Langkah Akuisisi

Langkah-langkah akuisisi itu didorong lantaran Luhut tengah mewaspadai risiko ekonomi global jangka pendek, dan dampaknya terhadap ekonomi nasional. Dalam hal ini, ia menyoroti konflik geopolitik yang terus panas di Timur Tengah antara Israel dan Palestina.

"Saya kira ini sangat serius masalahnya. Kita lihat Gaza ini penyelesaiannya juga belum jelas, sekarang pemerintah lebih agresif. Tapi ini kan tergantung banyak negara yang berkonflik, ada di sana Hamas, ada di sana juga negara-negara sekitarnya, ada Amerika, ada China, ada Rusia, yang belum pernah terjadi," urainya.

"Jadi kompleksitas masalah di Timur Tengah ini menjadi sangat tinggi. Menurut hemat saya akan berpengaruh terhadap tadi, bisa masalah transportasi, rute angkutan barang, yang akibatnya akan bermuara kepada masalah harga-harga komoditas energi maupun pangan," tekan Luhut Binsar Pandjaitan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.