Sukses

Usai Pemilu, Harga BBM Pertamina Bakal Naik pada Maret 2024

Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tutuka Ariadji, lantas membuka peluang harga BBM naik per Maret 2024.

Liputan6.com, Jakarta - Pertamina telah menahan kenaikan harga BBM non subsidi jelang Pemilu pada Februari 2024. Usai pemilu 2024, kemungkinan harga Pertamax cs bakal naik mengacu pada situasi yang ada saat ini. 

Direktur Jenderal Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tutuka Ariadji, lantas membuka peluang harga BBM naik per Maret 2024. Selain mengacu pada tren harga minyak dunia yang mulai melambung, situasi di kawasan Timur Tengah juga belum menentu. 

"Kalau saya mencermati ya, itu memang harga minyak naik lagi. Itu kayaknya trennya mau ke sana, karena intensitas di Timur Tengah masih tinggi. Dampaknya sebenarnya tidak langsung, tapi karena mengganggu logistik, jadi akhirnya terpengaruh juga," urainya di Kantor Lemigas Jakarta, Selasa (20/2/2024) 

"Jadi memang perlu dicermati itu. Saya setuju perlu  dicermati, karena harga minyak-nya cenderung naik terus," ujar Tutuka. 

PT Pertamina Patra Niaga sempat menahan kenaikan harga Pertamax dkk pada Februari 2024 ini. Meskipun, sejumlah badan usaha (BU) Niaga lain telah menaikan harga BBM non subsidi di SPBU miliknya.

"Harga ini berlaku untuk wilayah Jawa dan wilayah dengan besaran pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) sebesar 5 persen," ujar Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting. 

Dengan begitu, Pertamax masih dijual Rp 12.950 per liter, Pertamax Green 95 Rp 13.900 per liter, Pertamax Turbo Rp 14.400 per liter, Dexlite Rp 14.550 per liter, dan Pertamina Dex Rp 15.100 per liter

Beda halnya dengan SPBU swasta milik Shell Indonesia dan BP AKR yang kompak menaikan harga BBM per 1 Februari 2024. Shell Indonesia sendiri mengangkat harga BBM untuk seluruh produknya, baik untuk SPBU di Pulau Jawa maupun Sumatera Utara.

Ambil contoh Shell Super, yang naik Rp 150 dari Rp 13.390 per liter jadi Rp 13.540 per liter. Kemudian Shell V-Power yang naik Rp 200 di Pulau Jawa dan Sumatera Utara, dengan banderol harga berbeda. 

 

 

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Harga BBM Shell

Shell V-Power di Pulau Jawa kini dipatok Rp 14.380 per liter dari sebelumnya Rp 14.180 per liter. Sementara di Sumatera Utara produk tersebut dibanderol Rp 14.690 per liter dari sebelumnya Rp 14.490 per liter. 

Sedangkan untuk Shell V-Power Diesel yang tersedia di Jakarta, Banten dan Jawa Barat kini dihargai Rp 15.270 per liter. Naik Rp 80 dari sebelumnya Rp 15.190 per liter.

Sementara untuk Shell Diesel Extra yang hanya dijual di Jawa Timur dan Sumatera Utara juga mengalami lonjakan harga. Di Jawa Timur itu naik Rp 170 dari Rp 14.640 per liter jadi Rp 14.810 per liter, dan di Sumatera Utara naik Rp 170 dari Rp 14.960 per liter jadi Rp 15.130 per liter. 

Sedangkan untuk produk Shell V-Power Nitro+ yang tersedia di Banten, Jakarta dan Jawa Barat juga kena lonjakan Rp 160 dari harga sebelumnya Rp 14.470 per liter menjadi Rp 14.630 per liter. 

Harga BBM di BP AKR juga ikut terkena kenaikan harga hingga maksimal Rp 200. Seperti BP 92 yang dijual di angka Rp 13.400 per liter. Harga jual tersebut naik Rp 200 dari yang sebelumnya dipatok sebesar Rp 13.200 per liter. 

Senada, BP Ultimate juga alami kenaikan Rp 200. Harga produk BBM tersebut kini dibanderol Rp 14.380 per liter, dari sebelumnya Rp 14.180 per liter. Sementara untuk BBM jenis BP Diesel juga mengalami peningkatan Rp 170. Sebelumya itu dijual Rp 14.640 per liter, dan sekarang dihargai Rp 14.810 per liter.

 

3 dari 4 halaman

Awas, Harga Minyak Dunia Bisa Sentuh USD 100 per Barel

Sebelumnya diberitakan, Analis di Citi mengungkapkan bahwa ada kemungkinan harga minyak dunia kembali mencapai tiga digit.

Dikutip dari CNBC International, Selasa (20/2/2024) Kepala analis komoditas Citi di Amerika Utara, Aakash Doshi mengatakan bahwa katalis yang menyebabkan harga minyak mencapai USD 100 per barel termasuk risiko geopolitik yang lebih tinggi, pengurangan produksi OPEC+ yang lebih dalam, dan gangguan pasokan dari wilayah penghasil minyak utama.

Perang Israel-Hamas yang sedang berlangsung tidak berdampak pada produksi atau ekspor minyak, satu-satunya dampak signifikan adalah serangan Houthi terhadap kapal tanker minyak dan kapal lain yang melintasi Laut Merah.

Produsen minyak utama Irak terkena dampak konflik ini dan eskalasi lebih lanjut dapat merugikan pemasok utama OPEC+ lainnya di kawasan tersebut, Citi mengingatkan.

Selain itu, perkembangan terkini juga menunjukkan bahwa ketegangan meningkat di perbatasan antara Israel dan Lebanon, sehingga menimbulkan kekhawatiran bahwa perang di Gaza dapat menyebar ke wilayah lain di Timur Tengah.

Menurut Doshi, Irak, Iran, Libya, Nigeria dan Venezuela rentan terhadap gangguan pasokan, dengan kemungkinan kebijakan sanksi AS yang lebih ketat terhadap Iran dan Venezuela.

Risiko geopolitik lainnya seperti pasokan minyak Rusia, jika Ukraina menyerang kilang Rusia dengan drone, tidak dapat dikesampingkan. Doshi mengatakan, bahwa perkiraan dasar untuk harga minyak adalah sekitar USD 75 per barel untuk tahun ini.

Saat ini, harga minyak berjangka Brent April diperdagangkan pada USD 83,56 per barel, sedangkan harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS bulan Maret berada pada USD 79,13 per barel.

 

 

4 dari 4 halaman

Pasokan Minyak Dunia Diramal Menyusut pada 2025

Sebelumnya diberitakan, pasar minyak dunia diprediksi akan menghadapi kekurangan pasokan pada akhir 2025, karena gagal mengganti cadangan minyak mentah saat ini dengan cepat. Perkiraan itu diungkapkan oleh Occidental CEO, Vicki Hollub.

Hollub menyebut, sekitar 97 persen minyak yang diproduksi saat ini ditemukan pada abad ke-20. Namun, dunia hanya mengganti kurang dari 50 psrsen minyak mentah yang diproduksi selama dekade terakhir.

"Sekarang kita berada dalam situasi di mana dalam beberapa tahun kita akan kekurangan pasokan,” kata Hollub, dikutip dari CNBC International, Selasa (6/2/2024).

Untuk saat ini, pasar mengalami kelebihan pasokan, sehingga harga minyak tetap rendah meski sedang terjadi konflik di Timur Tengah.

Amerika Serikat, Brasil, Kanada, dan Guyana telah memproduksi minyak dalam jumlah besar seiring melambatnya permintaan di tengah melemahnya perekonomian Tiongkok.

Namun prospek penawaran dan permintaan minyak akan berubah pada akhir tahun 2025.

"Pasar sedang tidak seimbang saat ini, tapi sekali lagi, ini adalah masalah permintaan jangka pendek," ungkap Hollub di Smead Investor Oasis Conference di Phoenix.

"Tapi ini akan menjadi masalah pasokan jangka panjang," lanjutnya.

Sementara itu, OPEC memperkirakan permintaan minyak global akan tumbuh sebesar 1,8 juta barel per hari pada tahun 2025 karena ekonomi China yang solid, melampaui pertumbuhan produksi minyak mentah sebesar 1,3 juta barel per hari di luar OPEC.

Perkiraan tersebut menyiratkan defisit pasokan kecuali OPEC menghentikan pengurangan produksi saat ini dan meningkatkan produksinya sendiri.

Harga minyak Menengah West Texas dan Brent berjangka pada akhir tahun 2023 sempatvturun lebih dari 10 persen karena rekor produksi di AS, dan melemahnya ekonomi di China membebani harga.

Minyak mentah AS dan patokan global naik lebih dari 1 persen sepanjang tahun ini dengan WTI pada hari Senin menetap di USD 72,78 per barel dan Brent di USD 77,99 per barel.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.