Sukses

Beras Langka hingga Harga Meroket, Ternyata Begini Kondisi di Petani

Liputan6.com, Jakarta Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi buka-bukaan penyebab beras langka dan harga beras di pasaran yang terus meroket. Ia lantas mengambil harga beras premium, yang kini sudah banyak di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp 13.900 per kg.

Sebagai perbandingan, Bayu memaparkan data harga gabah petani di hampir semua sentra produksi yang sudah melampaui Rp 7.500 per kg. Sementara harga beras melonjak dua kali lipat setelah dihitung presentase dari berat beras yang dihasilkan dari penggilingan gabah (rendemen).

 

"Cara menghitung dari gabah ke beras gampangnya kali dua. Karena rendeman sekitar 50-55 persen. Memang ada yang 60 persen. Saya ambil gampangnya saja untuk menghitung, sekitar 50 persen," jelas Bayu di Kantor Perum Bulog, Jakarta, Selasa (13/2/2024).

Bayu lantas memaparkan perbandingan harga beras dan gabah di beberapa kota. Semisal Karawang, dimana harga gabah di tingkat petani Rp 7.150 per kg dan beras premium Rp 14.333 per kg.

Lalu di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, dengan harga gabah Rp 7.900 per kg dan beras premium Rp 14.050 per kg. Kemudian di Ngawi, dimana harga gabah Rp 8.200 per kg dan harga beras premium Rp 15.700 per kg.

"Data tadi konfirmasi hal tersebut, bahwa di tingkat produsen gabah sudah Rp 8.000, di daerah produksi harga beras sudah R 15.000. Ini terjadi praktis di seluruh Indonesia," imbuh Bayu.

Stok Beras

Kondisi tersebut membuat stok beras di pasar ritel modern langka. Pasalnya, ritel modern semisal Alfamart, Indomaret dan lain-lain tak bisa menjual beras premium di atas harga eceran tertinggi.

"HET untuk beras premium adalah Rp 13.900 (per kg). Anda bisa bayangkan, ritel modern kira-kira berani enggak melanggar HET? Enggak berani. Reputational problem," ungkap Bayu.

"Kalau sampai ketahuan, maka itu akan timbulkan masalah bagi si ritel modern. Dan orang tidak peduli, misal Alfamart yang ada di daerah mana, yang kena seluruh Alfamart, karena tanggung jawab manajemen," tegasnya.

Alhasil, pengusaha produsen beras tak ingin menjual rugi ke ritel modern. Sehingga mulai mengurangi pasokan beras ke sana.

"Mereka mulai kurangi pasokan ke ritel modern. Kalau kita masuk ke pasar tradisional, itu tersedia berasnya, ada. Cuman mahal di atas HET (beras). Ini lah situasi gambaran perberasan sekarang," pungkas Bayu.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Harga Beras Naik dan Stok Langka Akibat Program Bansos? Ini Penjelasan Pemerintah

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian membantah permasalahan kenaikan harga beras dan kelangkaan stok yang terjadi diakibatkan oleh program bantuan sosial (bansos) pangan yang aktif digelontorkan pemerintah.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi, dan Persidangan Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto mengatakan, program bansos pangan yang rajin digelontorkan pemerintah justru bertujuan untuk memenuhi pasokan dan menstabilkan harga beras yang terus alami kenaikan.

"Oh nggak,  kan (bansos) itu merupakan bagian dari itu untuk mengatasi pasokan pangan, menstabilkan harga (beras)," kata Haryo kepada awak media di Jakarta, (13/2/2024).Haryo menyebut, kenaikan harga beras dan kelangkaan stok disebabkan oleh mundurnya musim tanam akibat dampak El-Nino. Anak buah Menko Airlangga ini mencatat, produksi beras dalam negeri pada periode Januari sampai Maret diperkirakan hanya 5,8 juta ton. Angka ini turun sekitar 37 persen dibandingkan periode yang sama 2023 lalu.

"Tadi baru ada rapat terkait tersebut yang dipimpin presiden (Jokowi). Artinya Kemenko Perekonomian memonitor perkembangan harga pangan termasuk beras dan berkoordinasi dengan stakeholders ya, KL terkait, kemudian juga memonitor di lapangan. Jadi kenaikan harga beras itu, sejauh informasi yang saya terima itu dipengaruhi oleh mundurnya musim tanam," ungkapnya.

 

3 dari 3 halaman

Impor Beras

Di sisi lain, upaya pemerintah untu melakukan impor beras juga menghadapi sejumlah kendala yang mempengaruhi stok beras dalam negeri. Antara lain tingginya harga beras impor akibat kenaikan harga pupuk dunia yang disebabkan terganggunya pasokan bahan baku pupuk terdampak perang Rusia Ukraina. 

"Kemudian juga rantai pasok global, akibat konflik di Terusan Sues, itu mengganggu juga pasokan pangan dunia, di Asia. Jadi hal-hal tersebut mengganggu," imbuh Haryo.

Untuk mengatasi kelangkaan stok dan kenaikan harga beras, pemerintah memerintahkan Perum Bulog agar mempercepat penyaluran  beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Pangan (SPHP) yang berasal dari cadangan beras pemerintah (CBP). Percepatan penyaluran beras SPHP ini diharapkan dapat menekankan harga beras yang terus melambung.

"Terus juga mempercepat impornya juga. Jadi yang mendapatkan penugasan Bulog, diperintahkan kepada Bulog mempercepat proses impor dan penyaluran," pungkas Haryo.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini