Sukses

Rupiah Dibuka Melemah Tipis, Potensi Penguatan Terbuka Didorong Surplus Neraca Perdagangan

Pada perdagangan Jumat, potensi penguatan rupiah diproyeksikan ke area 15.400 per dolar AS hingga 15.450 per dolar AS, dengan potensi resisten di kisaran 15.530 per dolar AS.

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Jumat ini. Pelemahan rupiah ini diperkirakan tidak akan berlangsung lama karena analis melihat ada potensi penguatan. 

Pada Jumat (15/12/2023), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah tipis 11 poin atau 0,07 persen menjadi 15.513 per dolar AS dari sebelumnya 15.502 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, rupiah berpotensi menguat pada perdagangan Jumat ini seiring dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan Indonesia akan mengalami surplus neraca perdagangan pada November 2023.

"Trade balance (neraca perdagangan) Indonesia yang masih surplus bisa memberikan sentimen positif untuk rupiah," kata Ariston kepada Antara di Jakarta, Jumat.

Ia menuturkan menurut konsensus analis, neraca perdagangan Indonesia pada November 2023 diperkirakan masih surplus 3,05 miliar dolar AS, meski di bawah bulan sebelumnya yang sebesar 3,48 miliar dolar AS.

Selain itu, menurut dia, nilai tukar rupiah masih berpotensi menguat terhadap dolar AS hari ini dengan momentum sinyal pemangkasan suku bunga acuan AS dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed.

Tingkat imbal hasil obligasi Pemerintah AS terutama tenor 10 tahun, turun ke area 3,9 persen yang mengindikasikan ekspektasi pasar mengenai suku bunga acuan AS ke depan.

Di sisi lain, pagi ini pasar mungkin akan mempertimbangkan data-data ekonomi China seperti data produksi industri dan penjualan ritel. Data China yang menunjukkan perlambatan bisa menahan penguatan rupiah.

Pada perdagangan Jumat, potensi penguatan rupiah diproyeksikan ke area 15.400 per dolar AS hingga 15.450 per dolar AS, dengan potensi resisten di kisaran 15.530 per dolar AS.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Neraca Perdagangan Surplus

Neraca perdagangan Indonesia pada November 2023 kembali mencatatkan surplus sebesar USD 2,41 miliar. Artinya, neraca perdagangan Indonesia kembali surpus selama 43 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

"Neraca perdagangan Indonesia telah mencatatkan surplus selama 43 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Deputi Bidang Statistik dan Jasa BPS, Pudji Ismatini dalam konferensi pers, Rabu (15/12/2023).

Pudji mengatakan, surplus bulan November 2023 menurun jika dibandingkan bulan sebelumnya, dan lebih rendah dibandingkan bulan yang sama pada tahun lalu.

BPS mencatat, surplus neraca perdagangan pada November 2023 ini lebih ditopang pada surplus komoditas non migas yaitu sebesar USD 4,62 miliar dengan komoditas penyimbang surplus adalah bahan bakr mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, kemudian besi dan baja.

Sementara itu, pada saat yabg sama neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit USD 2,21 miliar dengan komoditas penyumbang defisit adalah hasil minyak dan minyak mentah.

"Defisit neraca perdagangab migas November 2023 ini lebih tinggi dari bulan sebelumnya, dan buln yang sama pada tahun lalu," ujarnya.

Secara kumulatif hingga November 2023, total surplus neraca perdagangan Indonesia mencapai USD 33,63 miliar atau lebih rendah sekitar USD 16,91 miliar atau 33,46 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini