Sukses

Harga Minyak Dunia Catat Penurunan 7 Minggu Beruntun

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak menguat pada hari Jumat, namun masih mencatat penurunan minggu ketujuh berturut-turut. Naiknya harga minyak dunia ini karena rekor produksi dan kekhawatiran permintaan membebani harga.

Dikutip dari CNBC, Sabtu (9/12/2023), harga minyak dunia untuk Kontrak West Texas Intermediate untuk bulan Januari naik USD 1,89, atau 2,73%, menjadi USD 71,23 per barel. Kontrak minyak mentah Brent untuk bulan Februari naik USD 1,79, atau 2,42%, menjadi USD 75,84 per barel.

Minyak mentah AS dan patokan global kehilangan sekitar 4% untuk minggu ini meskipun terjadi rebound pada hari Jumat. Terakhir kali WTI membukukan penurunan tujuh minggu berturut-turut adalah lima tahun lalu.

Memberikan beberapa dukungan, data menunjukkan sentimen konsumen AS meningkat lebih dari yang diperkirakan pada bulan Desember, sebuah perkembangan yang kemungkinan akan disambut baik oleh pejabat Federal Reserve.

Penguarangan Produksi

Sementara itu, Arab Saudi dan Rusia, dua eksportir minyak terbesar dunia, pada hari Kamis menyerukan semua anggota OPEC+ untuk bergabung dalam perjanjian pengurangan produksi hanya beberapa hari setelah pertemuan klub produsen yang penuh perselisihan.

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya pekan lalu menyetujui pengurangan produksi gabungan sebesar 2,2 juta barel per hari (bph) untuk kuartal pertama tahun depan. Namun pasar khawatir bahwa beberapa anggota mungkin tidak mematuhi komitmen mereka.

Kenaikan harga minyak mentah pada hari Jumat bisa menjadi tanda bahwa pasar telah menemukan landasan untuk saat ini setelah jatuh selama enam sesi berturut-turut, kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group.

“Berusahalah untuk mengambil tindakan dengan hati-hati, tetapi posisi terendah harus tetap terjadi,” katanya.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Penurunan Harga Minyak

Minyak mentah berjangka Brent dan WTI merosot ke level terendah sejak akhir Juni pada hari Kamis, sebuah tanda bahwa banyak pedagang yakin pasar mengalami kelebihan pasokan.

Brent diperkirakan akan turun 3,9% pada minggu ini dan WTI turun 4,2%, penurunan mingguan terbesar dalam lima minggu.

Yang memicu penurunan pasar adalah data bea cukai Tiongkok yang menunjukkan impor minyak mentah Tiongkok pada bulan November turun 9% dari tahun sebelumnya karena tingkat persediaan yang tinggi, indikator ekonomi yang lemah, dan melambatnya pesanan dari perusahaan penyulingan independen yang melemahkan permintaan.

Data Departemen Tenaga Kerja AS yang dirilis pada hari Jumat menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih kuat dari perkiraan dan penurunan tingkat pengangguran, menandakan ketahanan di pasar tenaga kerja dan mengurangi harapan bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada awal tahun depan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini