Sukses

Menunggu Pengumuman Bunga Acuan BI, Rupiah Melemah ke 15.798 per Dolar AS

Analis pasar mata uang Lukman Leong memperkirakan rupiah melemah terhadap dolar AS, yang rebound di tengah sentimen risk off pasar karena pernyataan hawkish dari pejabat The Fed Christopher J Waller dan John Williams.

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan Kamis ini. Investor tengah menanti keputusan Bank Indonesia (BI) mengenai suku bunga acuan.

Pada Kamis (19/10/2023), nilai tukar rupiah, yang ditransaksikan antarbank di Jakarta melemah sebesar 0,43 persen atau 68 poin menjadi 15.798 per dolar AS dari sebelumnya 15.730 per dolar AS.

Analis pasar mata uang Lukman Leong memperkirakan rupiah melemah terhadap dolar AS, yang rebound di tengah sentimen risk off pasar karena pernyataan hawkish dari pejabat The Fed Christopher J Waller dan John Williams.

"Waller mengatakan The Fed walau tidak akan menaikkan suku bunga pada pertemuan November 2023, namun bisa saja menaikkan suku bunga di pertemuan berikutnya. Sedangkan, Williams melihat suku bunga The Fed akan tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama," kata dia dikutip dari Antara.

Faktor lain dari pelemahan rupiah adalah sikap investor yang mengantisipasi pidato yang lebih hawkish dari Kepala The Fed Jerome Powell pada malam ini. Powell diperkirakan memberikan pernyataan yang lebih hawkish mengingat data ekonomi AS yang masih kuat dan inflasi yang tidak turun sesuai harapan.

Data penjualan ritel AS mengalami peningkatan 0,7 persen month to month (mtm) dengan ekspektasi 0,3 persen dan naik 3,8 persen year on year (yoy) dengan ekspektasi 1,5 persen.

"Melihat dari kondisi internal, investor menantikan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang diprediksi akan mempertahankan kebijakan tingkat suku bunga," ungkap Lukman.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Rupiah Tak Melemah Sendiri, Baht Thailand hingga Ringgit Malaysia Juga Terkapar

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus bergerak melemah sejak awal agustus 2023. Tercatat di 1 Agustus 2023, rupiah di kisaran 15.115 per dolar AS. Namun pada Rabu kemarin, nilai tukar rupiah sudah menyentuh 15.700 per dolar AS.

Ekonom PT Bahana TCW Investment Management Emil Muhamad menjelaskan, pelemahan rupiah ini tidak sendiri. Sejumlah mata uang Asia menghadapi tekanan yang cukup dalam sejak bulan lalu.

Baht Thailand dan Ringgit Malaysia bahkan mengalami depresiasi yang cukup dalam sejak awal tahun ini. Ketidakpastian global menjadi salah satu penyebabnya terutama kondisi pasar keuangan Amerika.

Menurut Emil, pelemahan rupiah disebabkan oleh perpaduan faktor global dan domestik. Secara global, indeks dolar DXY menguat sebesar 2,45% sejak awal tahun sehingga menekan hampir semua mata uang di dunia termasuk Indonesia. Tingginya yield obligasi US juga memicu keluarnya dana-dana asing dari pasar obligasi negara berkembang.

‘’Bersamaan dengan kedua faktor global tersebut, secara domestik Indonesia mencatat defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal kedua tahun ini meskipun tidak terlalu besar,’’ terang Emil.

Namun kami meyakini penguatan indeks dolar DXY yang terjadi saat ini sifatnya sementara, kedepan akan melemah kembali sepanjang tidak terjadi eskalasi perang besar, sehingga masih terbuka peluang bagi penguatan rupiah dan mata uang Asia lainnya.

Berdasarkan index ADXY, mata uang Asia selain Jepang telah melemah sebesar 4,43% sejak awal tahun hingga saat ini. Ringgit Malaysia tertekan hingga 6,57%, Baht Thailand terdepresiasi sebesar 6,42%, sedangkan pelemahan Rupiah sekitar 0,88% secara year to date (YTD), meski rupiah sempat tertekan ke level 15.735 per dolar AS pada 10 Oktober 2023.

 

3 dari 3 halaman

Upaya Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) bersama dengan pemerintah telah melakukan upaya untuk menjaga stabilitas rupiah.

Kebijakan moneter telah mengambil langkah aktif dengan melakukan intervensi di pasar spot dan Domestc Non Deliverable Forward (DNDF). Berbagai instrumen baru seperti term deposit valuta asing devisa hasil ekspor (TD DHE Valas) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), belum banyak dimanfaatkan oleh investor.

Berbagai upaya stabilisasi rupiah tentu saja berdampak pada turunnya cadangan devisa Indonesia ke kisaran USD 134,9 miliar atau setara 6,1 bulan impor, pada akhir September, dari USD 137,09 miliar pada bulan sebelumnya.

Meski mengalami penurunan, posisi cadangan devisa, Indonesia terbilang cukup aman sebab masih jauh dari standar kecukupan internasional yang ditetapkan sebesar tiga bulan impor.

BI mencatat selama kuartal dua tahun ini, transaksi berjalan defisit sebesar USD 1,9 miliar atau setara dengan 0,5% dari Produk Domestik Bruto(PDB). Setelah, pada kuartal sebelumnya membukukan surplus sebesar USD 3 miliar atau setara 0,9% dari PDB.

‘’Kami memperkirakan rupiah masih memiliki peluang berbalik menguat hingga akhir tahun, seiring dengan penurunan yield obligasi global yang dapat membuat instrumen keuangan dalam negeri kembali menarik minat investor untuk masuk,’’ ungkap Emil.

"Kami mengantisipasi rupiah bergerak pada kisaran Rp 15.200 – 15.800 per dolar, dengan kecenderungan menguat ke batas bawah, tambahnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.