Sukses

PDB Tertinggi di Asia Tenggara, Indonesia Punya Pekerjaan Rumah Ini

IMF mencatat, Indonesia memiliki PDB terbesar se Asia Tenggara dengan nilai USD 1,32 triliun.

Liputan6.com, Jakarta Indonesia tercatat sebagai negara yang memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di antara negara-negara Asia Tenggara pada tahun 2022.

Data dari Dana Moneter Internasional menunjukkan, Indonesia memiliki PDB terbesar se Asia Tenggara dengan nilai USD 1,32 triliun, disusul Thailand yang menempati urutan kedua sebesar USD 536,16 miliar, seperti dilansir dari laman resmi IMF, Senin (10/7/2023). 

Posisi ketiga negara ASEAN dengan PDB tertinggi ditempati oleh Singapura, dengan total PDB USD 466,79 miliar diikuti oleh Malaysia di posisi keempat sebesar USD 407,92.

Adapun Vietnam yang berdiri di posisi kelima negara ASEAN dengan PDB tertinggi sebesar USD 406,45 miliar. 

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira mengungkapkan bahwa, proyeksi PDB Indonesia untuk tahun 2023 menurut harga berlaku sebesar USD 1,43 triliun dengan asumsi pertumbuhan 5 persen year on year.

Proyeksi ini didukung utamanya dari konsumsi rumah tangga, pemulihan UMKM, kinerja ekspor meski tertekan penurunan permintaan komoditas namun masih catatkan surplus, dan kembalinya sektor manufaktur ke tingkat ekspansi.

Sementara perkiraan pertumbuhan PDB di 2024 diperkirakan mencapai USD 1,57 triliun dengan asumsi pertumbuhan 4,8 persen yoy.

Namun, Bhima menyebut, pertumbuhan PDB Indonesia masih dibayangi tantangan, jika dilihat dari PDB per kapita.

"Meski PDB terbesar tapi PDB per kapita masih relatif jauh tertinggal dengan Malaysia. Bahkan Vietnam dan Filipina mulai menyusul Indonesia. Tercatat di 2022, pendapatan per kapita Indonesia sebesar USD 4.783 sementara Vietnam USD 4.110 dan Filipina USD 3.632," paparnya dalam pesan tertulis kepada Liputan6.com.

"Masih lebarnya jurang ketimpangan antar penduduk membuat kenaikan PDB belum tentu sejalan dengan kualitas ekonomi terutama bagi kelompok menengah kebawah," sambungnya.

Ekonom itu mengatakan, Indonesia lebih dipersepsikan sebagai pasar yang besar dibanding basis produksi. "Sektor industri manufaktur menghadapi tren deindustrialisasi prematur dengan porsi terus melemah dibawah 19 persen dari PDB. Keluar dari jebakan ekspor sumber daya olahan primer yang bergantung dari naik turunnya harga internasional," jelasnya

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Ekonomi Digital Jadi Pendorong Baru PDB Indonesia, Grab Jadi Salah Satu Pemain Utama

Country Managing Director Grab Indonesia, Neneng Goenadi mengakui bahwa, tren marketing dan periklanan telah dipengaruhi oleh ekonomi digital dalam beberapa tahun terakhir, tak terkecuali di Indonesia.

"Di Indonesia sendiri, kita telah menjadi pemain utama ekonomi digital, dengan kontribusi 40 persen terhadap transaksi digital di Asia Tenggara, menurut laporan Google economy Southeast Asia 2022,” papar Neneng dalam pidatonya di acara MMA Indonesia Modern Marketing Talk 2023 di JW Marriott, Senin (3/7/2023).

Pada tahun 2022 sendiri, ekonomi digital Indonesia berkontribusi sebesar 5,8 persen terhadap PDB dengan valuasi sebesar USD 77 miliar.

"Dan tidak hanya itu, dengan prediksi nilai USD 130 miliar pada tahun 2025, berjalanan dalam dua setengah dari sekarang, jadi angka itu akan berlipat ganda dan bisa mencapai lebih dari 20 persen dari PDB Indonesia,” jelas Neneng.

Menurutnya, hal ini didorong oleh tiga faktor utama.

Faktor pertama, melalui populasi digital yang terus meningkat - di mana dua dari tiga orang Indonesia memiliki akun media sosial.

"Faktor kedua, Indonesia menduduki peringkat keenam di dunia, dan peringkat pertama di Asia Tenggara sebagai negara dengan jumlah startup terbanyak,” ungkapnya.

Faktor ketiga juga termasuk dukungan pemerintah yang sangat penting dalam mendorong ekonomi digital, kata Neneng.

"Jadi pertumbuhan yang luar biasa dalam ekonomi digital juga mengubah industri marketing dan periklanan," tambahnya.

Architecting Business Impact

Sebagai informasi, MMA Indonesia menggelar acara diskusi marketing bertajuk Architecting Business Impact pada Senin, 3 Juli 2023.

"Di MMA global Indonesia, kami berkomitmen untuk memberikan perspektif yang bernuansa tentang evolusi dan perubahan fundamental dalam industri kami," kata Country Head and Board Director MMA Indonesia, Shanti Tolani dalam Dalam pidatonya di JW Marriot Jakarta, Senin (3/7/2023).

Ini menandai kedua kalinya MMA Indonesia menggelar acara diskusi Modern Marketing Talk.

"Modern Marketing Talk 2023 dikuratori untuk menyediakan para pemimpin pemasaran dan periklanan, pakar industri, dan tren lokal profesional bersama dengan data terbaru untuk membekali mereka dengan sumber daya dan informasi yang dibutuhkan untuk menavigasi situasi dinamis di industri masing-masing," tulis MMA Indonesia di laman website resminya. 

3 dari 3 halaman

Utang Indonesia Rp 7.879 Triliun, Pengamat: Tak Masalah Asal PDB Tumbuh

Pengamat Ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action, Ronny P Sasmita, menilai bahwa masalah utang pemerintah ini terbilang sedikit dilematis.

Diketahui, data per Maret 2023, utang Pemerintah Indonesia mencapai Rp 7.879,07 triliun. Jumlah utang ini naik sebesar Rp 17,39 triliun dibanding posisi bulan sebelumnya yang mencapai Rp 7.861,68 triliun.

Menurutnya, di satu sisi, pemerintah selalu beralasan bahwa ruang fiskal pemerintah terbatas, sehingga dibutuhkan sumber pembiayaan lain untuk meningkatkan daya gedor kebijakan countercyclical yang dilakukan pemerintah, terutama dari penerbitan surat utang.

"Nampaknya selama ini alasan seperti ini cukup bisa diterima semua pihak, sehingga pemerintah dan DPR selalu berhasil bersepakat tentang besaran APBN setiap tahun, di mana di dalamnya termasuk soal penarikan utang setiap tahun," kata Ronny kepada Liputan6.com, Selasa (9/5/2023).

Kendati demikian, di sisi lain masalahnya tingkat pertumbuhan utang bergerak lebih cepat dibanding pertumbuhan ekonomi dan penerimaan pajak, sehingga setiap tahun terjadi kenaikan rasio utang terhadap PDB, nyaris menembus 40 persen terhadap PDB di saat pandemik tempo hari.

"Padahal di awal Jokowi berkuasa, rasio utang terhadap PDB hanya sekitar 24 persenan," ujarnya.

Meskipun begitu, kata Ronny, sebenarnya tidak ada masalah dengan meningkatnya nominal utang, selama nominal PDB/GDP juga tumbuh tinggi, sehingga persentasenya terhadap PDB tidak naik terlalu signifikan karena PDB nya juga tumbuh tinggi.

Namun, masalahnya PDB Indonesia terjebak di dalam lingkaran 5 persen, sementara utang tumbuh lebih dari 10 persen per tahun. Alhasil, rationya terus bergerak naik, dari 24 persen sampai mendekati 40 persenan.

"Artinya apa? Artinya, utang belum dibelanjakan secara produktif. Bahkan disinyalir juga dipakai untuk anggaran rutin dan operasional, yang dampaknya secara ekonomi kurang berkelanjutan," pungkasnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.