Sukses

Tren Sewa Baju Dibanding Beli Baru, Bisa Jadi Solusi Keuangan?

Awalnya, seorang wanita Amerika Serikat (AS) Megan Sauer memiliki kecanduan belanja. Megan Sauer paling banyak merogoh kocek untuk belanja pakaian.

Liputan6.com, Jakarta Awalnya, seorang wanita Amerika Serikat (AS) Megan Sauer memiliki kecanduan belanja. Megan Sauer paling banyak merogoh kocek untuk belanja pakaian.

Megan mengakui kebiasaan itu tidak terlalu merugikan keuangannya. Ia bisa membiayai gaya hidupnya dengan baik.

Namun hal tersebut tidak berlanjut hingga dia pindah dari Chicago ke Brooklyn, New York, tahun lalu. Ternyata biaya hidup di Brooklyn jauh lebih mahal. 

Di tempat baru ini, sewa bulanan tempat tinggalnya naik sebesar USD 1.500. Meskipun begitu, ia tetap menerus gaya hidup lama. Ia tetap sering makan di luar, bepergian, atau berbelanja.

Demi menyeimbangkan gengsi dan gaya hidup, Megan berpikir untuk membuat anggaran lebih efektif. Sejak saat itu, pada Januari, dia mulai menyewa pakaian dari Nuuly, sebuah perusahaan dari Urban Outfitters.

Megan membayar USD 88 untuk setiap enam potong pakaian yang dia sewa per bulan. Meski tidak terlalu berpengaruh membatasi kebiasaan belanjanya, kegiatan ini diakuinya telah menghemat pengeluarannya. 

“Saya membelanjakan USD 53 lebih sedikit per bulan, rata-rata. Saya juga menyukai dorongan ego yang saya dapatkan dari tidak mengikuti mode cepat atau tren TikTok yang selalu berubah, sambil tetap merasa lucu.” jelasnya kepada CNBC Make It, Kamis (20/4/2023).

Megan pun menyadari bahwa kegiatan menyewa pakaian ini telah dilakukannya tidak semata-mata untuk gengsi atau mengikuti tren mode saja, tetapi menjadi cara dia menghemat uang.

Ada beberapa alasan utama Megan tetap melakukan kegiatan ini beberapa tahun terakhir.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Sewa Baju Bisa Hemat Sekaligus Tak Ketinggalan Mode

Berdasarkan cerita Megan, dikutip dari CNBC Make It, dari Oktober hingga Desember tahun lalu dia telah membelanjakan USD 926 untuk 13 item pakaian.

Sementara dengan menyewa, Megan dapat mengenakan 18 item pakaian trendi hanya dengan USD 264 selama periode tiga bulan yang sama. Itu tidak berjalan persis seperti yang direncanakan, sebagian karena pengendalian diri memang sulit, tetapi sebagian besar karena dia mendapat promosi di tempat kerja dan merayakannya dengan berbelanja 10 item.

Secara total, dia berhasil hanya menghabiskan USD 765 dalam tiga bulan, angka yang kurang dari tahun lalu, tetapi dari segi barang, jauh lebih banyak dari yang dia inginkan.

Nyatanya, sejak April 2021, harga pakaian naik sebesar 9 persen, menurut indeks harga konsumen Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Saat ini, membeli sangatlah mahal sehingga belanja kecil-kecilan pun dapat meningkatkan skala pengeluaran secara signifikan, menurut profesor Fashion Institute of Technology Shawn Grain Carter.

 

3 dari 3 halaman

Sewa Lebih Ramah Lingkungan Meski Skala Kecil

Seperti dilaporkan Wall Street Journal pada 2019, sebagian besar didorong oleh harga dan kualitas fast fashion yang rendah, orang membeli dan membuang pakaian lebih cepat dari biasanya.

Rata-rata orang Amerika membeli 68 pakaian tiap tahun, menurut Jennifer Hyman, CEO layanan persewaan pakaian Rent the Runway. Ditambah laporan McKinsey & Company tahun 2016, menyatakan rata-rata orang hanya memakai sesuatu hingga delapan kali sebelum menyumbangkan atau membuangnya.

Megan berpikir bahwa jika dia tetap berlangganan Nuuly, dia bisa menyewa 72 pakaian tahun ini tanpa membuang satu pun dari mereka. Dengan ini, Megan mampu mengatakan pada diri sendiri, “saya tidak menambah gurun barang rongsokan yang saya baca di National Geographic minggu lalu”.

Namun, Carter berkata, “Menyewa hanya sedikit lebih berkelanjutan daripada membeli, dan jauh dari sempurna.”

Megan juga mengetahui, baik Nuuly dan Rent the Runway mendedikasikan staf untuk perbaikan pakaian, agar pakaian tetap beredar lebih lama, menurut situs web mereka. Ini juga bagus untuk bisnis karena perusahaan mendapat manfaat ketika mereka tidak perlu membeli barang baru untuk menggantikan barang lama yang lebih usang, menurut kepala produk Nuuly, Sky Pollard.

Dengan kata lain, menyewa tidak sempurna. Namun, itu cukup baik untuk Megan saat ini.

Megan juga menyimpulkan, “Secara keseluruhan, saya membutuhkan lebih sedikit pakaian di lemari saya. Saya ingin berinvestasi dalam pakaian tahan lama yang akan bertahan bertahun-tahun, bukan empat minggu. Tapi barang-barang itu bisa sangat mahal. Tidak semua orang mampu membelinya, termasuk saya sendiri,”

Ini membuat Megan menggunakan Nuuly sepanjang tahun untuk melihat apakah itu mempengaruhi secara jangka panjang pada keuangannya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.