Sukses

Harga Pertamax Cs Berubah Seminggu Sekali, Konsumen Diuntungkan

Diketahui bersama Menteri BUMN Erick Thohir telah mengumumkan penurunan harga Pertamax Cs di awal Januari 2022

Liputan6.com, Jakarta Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, menilai kebijakan terbaru mengenai penyesuaian harga BBM nonsubsidi atau Pertamax Cs yang akan dilakukan setiap pekan, memudahkan konsumen untuk memantau harga BBM secara langsung.

"Secara hitungan per tahun sebenarnya hasilnya akan sama. Hanya saja kalo evaluasi lebih cepat akan memudahkan semua, Konsumen juga lebih mudah memantau," kata Komaidi kepada Liputan6.com, Rabu (25/1/2023).

Sebab, harga minyak selalu berubah setiap minggunya. Dengan begitu, konsumen bisa memprediksi harga BBM nonsubsidi. Sementara, bagi pelaku usaha, positifnya mereka bisa dengan cepat menyesuaikan harga yang akan berdampak baik terhadap cash flow perusahaan.

"Sudah bisa diprediksi harga bbm akan seperti apa. Bagi pelaku usaha juga demikian lebih cepat menyesuaikan tentu dampak ke cashflow perusahaan juga akan lebih baik," ujarnya.

Sebagai informasi, diketahui bersama Menteri BUMN Erick Thohir telah mengumumkan penurunan harga Pertamax Cs di awal Januari 2022. Ini sebagai respons menurunnya harga minyak dunia. Maka sudah seharusnya penurunan harga jual JBU dilakukan.

Sementara itu, belum ada penyesuaian harga Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) alias Pertalite dan Jenis BBM Tertentu (JBT) atau BBM Subsidi alias Solar. Alasannya, keduanya masih menerima subsidi karena harga jual keekonomiannya masih berada diatas harga jual saat ini.

Kemudian, Erick Thohir berencana mengumumkan perubahan harga BBM jenis Pertamax (RON 92) setiap pekan. Kebijakan itu hendak dibuat guna menangkal fluktuasi harga minyak dunia yang berpengaruh terhadap harga Pertamax, yang merupakan BBM non-subsidi yang dapat bantuan dana pemerintah.

Erick Thohir menilai, pemerintah sudah sangat baik mau membantu agar harga Pertamax yang merupakan BBM nonsubsidi tetap terjaga di pasaran. Tapi disisi lain, ia menyebut pemerintah juga secara keuangan tidak mau terlalu terbebani oleh harga minyak dunia yang naik-turun.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Sri Mulyani: Kalau Harga Pertamax Naik Lagi Jangan Marah Ya

Beberapa waktu lalu Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan harga bahan bakar minyak (Harga BBM) nonsubsidi jenis Pertamax turun menjadi Rp 12.800 per liter, pada Selasa 3 Januari 2023, pukul 14.00 WIB. Penurunan harga pertamax ini merespons pada turunnya harga minyak dunia.

Menanggapi, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, mengatakan dirinya memang memerintahkan kepada Menteri BUMN Erick Thohir dan Menteri ESDM Arifin Tasrif untuk menurunkan harga Pertamax.

Namun, kemungkinan harga Pertamax bisa naik kembali jika harga minyak dunia mengalami kenaikan. Oleh karena itu, Menkeu meminta kepada masyarakat untuk memahami hal tersebut.

"Jadi, naik turunnya itu sebetulnya kalau kita mau konsisten ya kayak Pertamax itu, Pertamax turun ya turun. Saya Sampaikan saja ke Pertamina, Pak Erick, Pak Menteri ESDM, yang pas turun bilang ke konsumen ini harga pas turun, kalau harga (minyak dunia) pas naik jangan marah ya," kata Menkeu dalam acara Apresiasi Media Nagara Dana Rakca 2022, ditulis Sabtu (7/1/2023).

Untuk diketahui, harga minyak dunia sedang mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Artinya, harga jual di sisi hilir seperti harga BBM Pertamax pun ikut terpengaruh.

Sebelumnya Erick Thohir mengatakan, penurunan harga BBM ini terjadi tak hanya untuk Pertamax, tapi juga menyasar seluruh bahan bakar nonsubsidi yang dijual Pertamina. Sebut saja ada Pertamina Dex, Dexlite, hingga Pertamax Turbo.

Erick Thohir menyebut, penurunan harga ini memang tidak secepat SPBU swasta. Alasannya, Pertamina memiliki ekosistem pengolahan bahan bakar yang lebih besar, ditambah banyaknya SPBU yang tersebar.

 

3 dari 3 halaman

Harga Minyak Dunia Turun

Terbaru, harga minyak dunia susut lebih dari USD 4 per barel. Dengan harga minyak Brent menanggung persentase kerugian terbesar dalam dua hari perdagangan pertama tahun ini sejak 1991.

Penyebab hal itu karena kekhawatiran permintaan terkait dengan ekonomi global dan meningkatnya kasus Covid-19 di China yang kembali menghancurkan harga minyak mentah.

Melansir laman CNBC, Kamis (5/1/2023), harga minyak Brent berjangka menetap di posisi USD 77,84 per barel, turun USD 4,26, atau 5,2 persen. Sementara harga minyak mentah AS menetap di posisi USD 72,84 per barel, turun USD 4,09, atau 5,3 persen.

Harga minyak Brent turun sekitar 9,4 persen, kerugian dua hari terbesarnya di awal tahun sejak Januari 1991, menurut data Refinitiv Eikon.

"Minyak mentah diperdagangkan lebih rendah di tengah kekhawatiran seputar COVID-19 China dan The Fed memaksa resesi global... keduanya menuntut peristiwa penghancuran," kata Bob Yawger, Direktur Energi Berjangka di Mizuho di New York.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.