Sukses

Ekonom Bank Dunia Ragu Ekonomi Global Bisa Berkelit dari Resesi

Liputan6.com, Jakarta - Kepala ekonom Bank Dunia Carmen Reinhart skeptis atau meragu jika Amerika Serikat dan ekonomi global dapat menghindari resesi.

Adanya lonjakan inflasi, kenaikan suku bunga yang tajam dan perlambatan pertumbuhan di China jadi penyebab keraguan tersebut.

Dikutip dari Channel News Asia, Kamis (30/6/2022) Reinhart mengakui bahwa mengurangi inflasi dan merancang soft landing pada saat yang sama merupakan tugas yang berat.

"Yang mengkhawatirkan semua orang adalah bahwa semua risiko menumpuk pada sisi negatifnya," kata Reinhart dalam wawancara jarak jauh, mengutip serangkaian guncangan dan langkah Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga.

"Saya cukup skeptis. Pada pertengahan 1990-an, di bawah Ketua ( The Fed) (Alan) Greenspan, kami mengalami soft landing, tetapi kekhawatiran inflasi pada saat itu sekitar 3 persen, bukan sekitar 8,5 persen. Ini tidak seperti Anda dapat menunjukkan banyak episode pengetatan The Fed yang signifikan yang belum berdampak pada perekonomian," ungkap dia ketika ditanya apakah resesi dapat dihindari di Amerika Serikat atau secara global.

Bank Dunia bulan ini memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global hampir sepertiga menjadi 2,9 persen untuk tahun 2022 ini. 

Lembaga keuangan internasional itu memperingatkan bahwa perang Rusia-Ukraina telah menambah kerusakan yang terjadi akibat pandemi Covid-19, dan banyak negara sekarang menghadapi resesi.

Selain itu, Bank Dunia juga mengatakan pertumbuhan global bisa turun menjadi 2,1 persen pada 2022 dan 1,5 persen pada 2023, mendorong pertumbuhan per kapita mendekati nol, jika risiko penurunan terwujud.

"The Fed seharusnya bertindak - dan saya sudah mengatakan ini sejak lama - lebih cepat daripada nanti dan lebih agresif. Semakin lama Anda menunggu, semakin keras tindakan yang harus Anda ambil," pungkas Reinhart.

2 dari 3 halaman

5 Jurus Pemerintah Bentengi Ekonomi RI dari Terjangan Resesi Global

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, mengatakan, meskipun Bank Dunia telah memangkas ramalan pertumbuhan ekonomi banyak negara, namun proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk Indonesia pada tahun 2022 adalah 5,1 persen atau masih dalam target yang ditetapkan pemerintah.

Susiwijono, menyebut terdapat lima strategi yang dilakukan Kementerian koordinator bidang perekonomian untuk menjaga agar target pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut dapat tercapai.

Pertama, Pemerintah akan terus melanjutkan kebijakan pengendalian pandemi Covid-19 terutama merespon munculnya varian virus baru BA.4 dan BA.5, agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berlangsung dengan baik.

"Percepatan dan perluasan vaksinasi terus dilakukan termasuk dengan dukungan koordinasi pemerintah daerah," kata Susiwijono kepada Liputan6.com, Kamis (23/6/2022).

Kedua, APBN diarahkan untuk menjadi shock absorber, yaitu untuk memastikan terlindunginya daya beli masyarakat serta terjaganya pemulihan ekonomi.

Ketiga, kebijakan perlindungan sosial akan dipertebal untuk menjaga daya beli masyarakat miskin dan menengah ke bawah yang menjadi kelompok paling rentan seperti masyarakat miskin ekstrem dari dampak kenaikan harga pangan seperti bansos minyak goreng, Bantuan Tunai untuk PKL Warung dan Nelayan (BTPKLWN).

Keempat, Pemerintah juga akan memperkuat berbagai program pemberdayaan untuk meningkatkan produktivitas serta pendapatan masyarakatseperti seperti program padat karya, pembiayaan usaha mikro seperti KUR, UMi, dan peningkatkan kapasitas SDM serta UMKM seperti Kartu Prakerja.

Kelima, "dalam jangka menengah-panjang, pemerintah juga memiliki agenda reformasi strukural dan transformasi digital dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi agar lebih terakselerasi," pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Komentar Miliarder soal Ramalan Resesi AS, Mulai Elon Musk hingga Bill Gates

Sejumlah miliarder membeberkan prediksi mereka tentang resesi yang diramal akan menimpa ekonomi Amerika Serikat sebelum akhir tahun. 

Prediksi miliarder ini memperluas peringatan dari lembaga keuangan dan CEO ketika Federal Reserve bergerak untuk mengatasi inflasi tinggi dengan kenaikan suku bunga yang lebih curam dari perkiraan.

Elon Musk menjadi salah satu miliarder ternama yang mengungkapkan kekhawatirannya akan risiko resesi di AS.

Dilansir dari Forbes, Rabu (22/6/2022) saat berbicara di Qatar Economic Forum, Musk mengatakan pendapatnya terkait dengan resesi ekonomi.

"Resesi tak terhindarkan di beberapa titik," ungkap dia. 

Pernyataan itu pun senada dengan yang telah diucapkan Presiden AS Joe Biden dalam wawancara dengan kantor berita Associated Press.

Sebelumnya, dalam email internal kepada para eksekutif Tesla, orang terkaya di dunia itu telah mengungkapkan dirinya memiliki

"Perasaan yang sangat buruk" tentang ekonomi AS, ketika mengisyaratkan akan adanya PHK di perusahaan kendaraan listrik tersebut.

Pada Mei 2022, pendiri Microsoft Bill Gates juga berbagi sentimen serupa dalam sebuah wawancara dengan jurnalis CNN Fareed Zakaria.

Dalam wawancara itu, Gates menyebut dunia sedang menuju perlambatan ekonomi dalam 'waktu dekat' di tengah dampak pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina.

Adapun CEO JP Morgan Jamie Dimon yang memperingatkan 'badai' ekonomi yang dipicu oleh konflik di Ukraina dan inflasi yang tinggi dan mengatakan banknya sedang mempersiapkan hasil yang buruk dari kedua krisis tersebut awal bulan ini.

Kemudian pendiri dan CEO Citadel Ken Griffin, bulan lalu memperingatkan bahwa "jika tingkat inflasi tetap di sekitar 8,5 persen seperti saat ini, The Fed perlu mengerem dengan cukup keras agar tidak mendorong ekonomi ke dalam resesi".