Sukses

Inflasi dan Suku Bunga Acuan Jadi Tantangan Baru Ekonomi Global

Liputan6.com, Jakarta Perekonomian global tengah dihadapkan pada kenaikan berbagai dampak yang diakibatkan pemulihan ekonomi pasca diterpa pandemi. Salah satu tantangan yang muncul berasal dari tekanan inflasi.

Inflasi yang terjadi di berbagai negara telah menciptakan dinamika yang tidak mudah. Memasuki masa pemulihan ekonomi, banyak negara yang telah meningkatkan suku bunga acuan di tengah inflasi yang tinggi.

"Tekanan inflasi telah menciptakan reaksi yang tidak mudah. Banyak negara yang sudah meningkatkan suku bunga (acuan) mereka," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam Mandiri Investment Forum 2022, Jakarta, Rabu (9/2).

Dia pun mencontohkan tingkat inflasi yang terjadi di Brazil. Saat ini inflasi di Brazil mencapai 10 persen dan tingkat suku bunga telah dinaikkan menjadi di atas 10 persen.

Begitu juga dengan Rusia yang mengalami inflasi 8 persen, suku bunga acuannya telah dinaikkan sedikit di bawah 8 persen. Pun dengan Mexico, Amerika Serikat dan Uni Eropa juga melakukan hal yang sama.

Kondisi ini kata Sri Mulyani turut berimbas pada Indonesia. Pemerintah harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

"Dengan kondisi itu kita berharap nilai tukar ini bisa berujung pada lingkungan seperti ini dengan peningkatan resiko global," kata Sri Mulyani.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Ketidakpastian Global

Dari sisi volume perdagangan internasional diperkirakan juga akan mengalami penurunan. Mengingat di saat yang sama ketidakpastian global berpotensi memperlemah perekonomian dunia karena harga komoditas mengalami normalisasi dan penyesuaian dari harga tertinggi di akhir tahun 2021 sampai 2022.

"Dengan situasi seperti itu, dari sisi pandmei dan perekonomian global yang makin menantang dan kompleks," kata dia.

Dinamika yang terjadi di global ini bahkan telah membuat IMF merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi global. Semula IMF optimis pertumbuhan ekonomi dunia di tahun 2022 bisa mencapai 4,4 persen. Namun sepertinya, kata Sri Mulyani, prediksi tersebut akan lebih rendah.

Anisyah Al Faqir082216637992Journalist Merdeka.com