Sukses

Kinerja Emiten Kesehatan Diyakini Tetap Tumbuh di Tengah Pandemi

Liputan6.com, Jakarta Kinerja emiten kesehatan mencatatkan pergerakan positif di tengah pandemi Covid-19 bahkan cenderung rebound. Kinerja emiten kesehatan didorong kebijakan pembebasan bea masuk yang akan membuat bahan baku obat dan peralatan medis impor menjadi lebih murah.

Dengan demikian rumah sakit atau pusat pelayanan kesehatan tidak mengeluarkan ongkos banyak untuk membelinya. Dengan begitu, laba emiten farmasi bakal tumbuh.

"Di saat kondisi kesadaran kesehatan dan antisipasi masyarakat terhadap virus corona meningkat seharusnya sektor kesehatan bisa diuntungkan. Maka ada peluang kinerjanya bisa lebih baik. Untuk jangka panjang, pasti positif," ujar Analis Pasar Modal, Sukarno Alatas di Jakarta, Selasa (12/5/2020).

Salah satunya pada anak usaha PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) yakni PT Siloam International Hospitals (SILO). Saham SILO ditutup menghijau di 5.225,00 per lembar saham, naik 3,47 persen pada perdagangan Rabu, beberapa waktu lalu, dibandingkan satu hari sebelumnya.

Dia memperkirakan kinerja SILO akan tumbuh positif dalam jangka panjang. Mengingat sektor kesehatan masih menarik karena merupakan segmen bisnis yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Apalagi ketidakpastian akan vaksin di masa Covid-19 jadi tidak jelas kapan akan tuntas. Kondisi itu mendorong masyarakat untuk menuju produk layanan kesehatan di tengah ancaman virus Corona.

Kinerja SILO diyakini juga akan mendorong kinerja LPKR mengingat SILO menghasilkan recurring income yang konsisten.

Karena itu, asal bisa memaksimalkan apa yang ditargetkan perusahaan dan bisa memanfaatkan dengan baik kondisi penurunan suku bunga dan insentif lain yang ada, dalam jangka panjang kinerja akan tetap positif.

 

2 dari 2 halaman

Kinerja

Data pembukuan LPKR mencatat lebih dari 70 persen pendapatan Lippo Karawaci berasal dari recurring income, alias pendapatan berulang dari SILO yang memberikan stabilitas di saat situasi pasar bergejolak, salah satunya disebabkan merebaknya virus corona.

Divisi healthcare dan mal juga tercatat menjadi penopang pertumbuhan pendapatan yang kuat. Pertumbuhan pendapatan berulang (recurring income) yang kuat dari segmen layanan kesehatan dimotori oleh Siloam Hospitals.

Siloam terus membuat kemajuan dalam hal ekspansi dan saat ini mengoperasikan 38 rumah sakit di 28 kota di Indonesia. Pendapatan dari segmen bisnis mal dan lain-lain juga terus naik.

"Semakin tinggi pendapatan berulang itu akan semakin baik. Recurring income tinggi menjadi salah satu indikator perusahaan memiliki fundamental yang kuat," ujar Sukarno.

Pendiri LBP Institute Lucky Bayu Purnomo juga menyarankan agar investor untuk tak berbelanja saham di sektor yang terkena imbas langsung dari penerapan PSBB. Dirinya meminta untuk fokus mengejar saham pada sektor yang jelas diuntungkan seperti emiten yang bergerak di pelayanan kesehatan maupun produk kesehatan.

"(Saya) merekomendasikan emiten jasa kesehatan seperti PT Siloam International Hospitals (Tbk) atau SILO," katanya

Seperti diketahui, SILO telah mencatatkan kinerja positif sepanjang kuartal III 2019 dengan mengantongi pendapatan sebesar Rp5,22 triliun. Pendapatan itu meroket sebesar 18,65 persen dari periode sama tahun lalu di posisi Rp4,4 triliun.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com