Sukses

Meroket 140 Persen, BEI Awasi Saham Super Energy

Liputan6.com, Jakarta - Manajemen PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan telah terjadi peningkatan harga dan aktivitas saham PT Super Energy Tbk (SURE) yang di luar kebiasaan atau unusual market activity (UMA).

Berdasarkan data RTI, saham PT Super Energy Tbk melonjak 140,46 persen pada periode 8-11 Oktober 2018. Saham SURE melonjak 140,46 persen ke posisi 630 per saham.

Selama sepekan, saham SURE sempat berada di level tertinggi 630 dan terendah 325 per saham. Total frekuensi perdagangan saham sekitar 882 kali dengan nilai transaksi Rp 134,7 miliar.

Saham SURE meningkat sangat signifikan padahal baru catatkan saham perdana pada 5 Oktober 2018.  Harga saham perdana SURE sebesar Rp 155 per saham.

Adapun informasi terakhir mengenai emiten adalah informasi pada 4 Oktober 2018 yang dipublikasikan melalui pengumuman bursa terkait pencatatan saham.

Sehubungan dengan terjadinya UMA atas saham SURE itu, BEI sedang mencermati perkembangan pola transaksi saham ini. Oleh karena itu, para investor diharapkan untuk memperhatikan jawaban perusahaan tercatat atas permintaan konfirmasi bursa, mencermati kinerja perusahaan tercatat dan keterbukaan informasinya.

Selain itu, mengkaji kembali rencana aksi korporasi perusahaan tercatat apabila rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan RUPS, dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang dapat timbul di kemudian hari sebelum melakukan pengambilan keputusan investasi.

"Pengumuman UMA tidak serta merta menunjukkan ada pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di pasar modal,” ujar Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Lidia M. Panjaitan.

 

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

 

2 dari 2 halaman

Bos OJK Minta BEI Siaga Hadapi Kebijakan Donald Trump

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyatakan, tantangan ke depan yang dialami oleh Pasar Modal Indonesia akan jauh lebih berat. Menurutnya, dampak perekonomian secara global turut memengaruhi indeks harga saham gabungan (IHSG).

"Ini tantangan lebih besar lagi ke depan. Kebijakan Amerika mengenai tarif, normalisasi tarif dan kebijakan nilai tukar itu pasti berdampak sceara langsung maupun tidak langsung kepada situasi indeks harga saham dan juga perkembangan ekonomi indonesia," kata Wimboh saat ditemui di kawasan, SCBD, Sudirman, Jakarta, Minggu 23 September 2018.

Meski demikian, tantangan tersebut akan dijadikan momentum untuk menarik para investor agar melakukan pendanaan di pasar modal Indonesia."Kita harapkan para pengusaha bisa memberikan kesempatan dan punya kesempatan lebih besar lagi dalam memanfaatkan bursa sebagai sumber pendanaan dalam usaha ke depan sehingga nanti pasar di bursa menjadi likuid lebih dalam mempunyai integritas yang tinggi," sebut Wimboh.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen menyatakan, meski gejolak perekonomian dunia sedikit berdampak pada bursa, namun pasar modal Indonesia tetap masih menunjukan optimismenya untuk bergerak maju dalam menghadapi tatangan.

"Namun saya melihat perkembangannya sudah menunjukkan trend yang stabil dan saya optimistis akan terus bergerak positif hingga akhir tahun. Berbagai upaya pengembangan pasar yang bersifat strategis akan terus kita lalukan," sebutnya.

Dari sisi nilai kapitalisasi, pasar modal Indonesia telah tumbuh sebanyak 2.52 juta kali, yakni pada tahun 1977 nilai kapitalisasi Pasar Modal Indonesia sebesar Rp 2,73 miliar dan per 8 Agustus 2018, telah mencapai Rp 6.870,7 triliun. Sementara itu, pada periode yang sama IHSG telah tumbuh 6.119 persen dari 98 poin pada tahun 1977 menjadi 6.094.83 pada 8 Agustus 2018.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

Artikel Selanjutnya
Bos BEI: Koreksi IHSG Paling Kecil Ketimbang Hang Seng
Artikel Selanjutnya
Rogoh Kocek Rp 74,89 M, Kino Beli Saham Morinaga Co Ltd di MKI