Sukses

Dolar AS Menguat, Bursa Saham Asia Tergelincir

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia tergelincir pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Tekanan di bursa saham Asia usai komentar dari Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve Jerome Powell yang membangkitkan kembali kekhawatiran terhadap pengetatan moneter AS.

Selain itu, bursa saham AS tertekan juga berimbas ke bursa saham Asia. Bursa saham AS catatkan kinerja terburuk dalam tahun. Namun, indeks dolar AS menguat. Tekanan di pasar saham ini terjadi seiring kekhawatiran terhadap suku bunga lebih tinggi di negara-negara maju yang dipimpin oleh AS.

Kekhawatiran kenaikan suku bunga dapat menghambat pertumbuhan global.Pimpinan bank sentral AS Jerome Powell dalam penampilan publik pertamanya berjanji akan mencegah ekonomi dari overheating. Ia berpegang untuk tetap menaikkan suku bunga secara bertahap. Hal itu menjadi sentimen negatif di pasar saham.Indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang melemah 0,35 persen. Bursa saham Australia tergelincir 0,8 persen.

Diikuti indeks saham Jepang Nikkei susu 0,85 persen.Tekanan di bursa saham Asia tak lepas dari wall street. Aksi jual di wall street mendorong indeks saham Dow Jones dan S&P 500 alami penurunan terburuk sejak Januari 2016.

Proyeksi ekonomi terakhir bank sentral AS pada Desember menunjukkan kenaikan suku bunga sebanyak tiga kali. Namun, pernyataan Powell membuat spekulasi kenaikan suku bunga sebanyak empat kali pada 2018.Di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga, indeks dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Indeks dolar AS sempat berada di kisaran 90,69 dan level tertinggi sejak 23 Januari.

Indeks dolar AS kembali menguat dari level terendah dalam tiga tahun di 88,25. Ini di tengah kekhawatiran defisit anggaran AS membengkat. Ditambah pemerintah AS membiarkan dolar AS melemah.

"Kembalinya dolar AS bisa berdampak negatif ke harga minyak dan gilirannya ekspektasi inflasi sangat rendah. Pasar saham pun dapat dipaksa untuk alami penyesuaian," ujar Makoto Noji, Senior Strategist SMBC Nikko Securities.

Di pasar uang, euro stabil di kisaran US$ 1,2192. Dolar Australia mendatar di kisaran US$ 0,7763. Sementara itu, harga minyak di posisi US$ 61,63 per barel. Sedangkan imbal hasil surat berharga pemerintah AS melemah sedikit menjadi 2,864.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

 

1 dari 2 halaman

Perdagangan Kemarin

Sebelumnya, Bursa Asia melemah tipis pada pembukaan perdagangan saham Rabu pekan ini. Pelemahan ini mengikuti kejatuhan Wall Street atau bursa saham di kawasan Amerika Serikat (AS). Namun, pelemahan di bursa Asia ini tidak sebesar di AS.

Mengutip CNBC, Rabu 28 Februari 2018, Nikkei 225 tergelincir 0,39 persen di awal perdagangan, setelah mengalami penguatan pada perdagangan sebelumnya.

Saham-saham di sektor keuangan diperdagangkan di wilayah negatif. Sementara saham-saham otomotif dan teknologi bergerak campuran.Saham Honda Motor turun 0,58 persen, SoftBank Group turun 0,71 persen dan Fast Retailing kehilangan 0,89 persen. Sedangkan saham Yahoo Jepang turun 7,3 persen.

Di Korea Selatan, indeks Kospi juga turun tipis 0,52 persen karena pelemahan saham-saham otomotif meskipun saham-saham di sektor teknologi menguat.

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 turun 0,44 persen. Jadi tiga dari 12 sektor yang mampu berada di zona positif. Saham-saham tambang menjadi penekan indeks acuan di Australia tersebut.

Saham pertambangan Rio Tinto dan BHP diperdagangkan turun masing-masing 0,39 persen dan 1,29 persen.

Pasar saham di Taiwan tutup untuk memperingati Peace Memorial Day.

Artikel Selanjutnya
Dolar AS Perkasa, Harga Emas Tersungkur
Artikel Selanjutnya
Jelang Pidato The Fed, Bursa Saham Asia Mengekor Penguatan Wall Street