Sukses

Data Pertumbuhan Ekonomi Bakal Pengaruhi Gerak IHSG Sepekan

Liputan6.com, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak positif pada pekan ini. Laju IHSG dipengaruhi oleh data pertumbuhan ekonomi nasional.

Analis PT Recapital Aset Management Kiswoyo Adi Joe mengatakan, IHSG akan positif jika pertumbuhan ekonomi tembus 5,1 persen.

"Kalau di atas 5,1 persen bisa naik IHSG-nya," kata dia kepada Liputan6.com di Jakarta, Senin (5/2/2018).

Menurutnya, komponen penopang pertumbuhan ekonomi masih positif. Di antaranya, tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi. Lalu, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh pembangunan infrastruktur yang dikebut pemerintah.

"Pembangunan infrastruktur bisa mendukung pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

Dia memperkirakan, IHSG bergerak pada support 6.500. Kemudian, resistance di kisaran 6.700.

Pekan ini, Kiswoyo merekomendasikan saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Corporation Tbk (INKP), PT Gozco Plantations Tbk (GZCO), PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT), PT Astra International Tbk (ASII), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Analis PT Binaartha Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, IHSG berpeluang menguat terbatas pekan ini. Namun, pergerakan IHSG mudah tertekan.

"Jika ada sentimen negatif maka akan mudah untuk berbalik arah," ujar dia.

Dia memperkirakan, IHSG bergerak pada support 6.578-6.588 dan resistance 6.655-6.69.

Saham rekomendasinya antara lain, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON), PT PP Tbk (PTPP).

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

Kapitalisasi Besar

Gerak IHSG cenderung tertekan selama sepekan kemarin. Hal itu didorong saham kapitalisasi besar yang merosot.

Mengutip laporan PT Ashmore Assets Management Indonesia, Sabtu, 3 Februari 2018, IHSG melemah pertama kali dalam pekan ini. Saham kapitalisasi besar yang masuk indeks saham LQ45 turun 1,28 persen selama sepekan.

Akan tetapi, saham kapitalisasi kecil dapat mengimbanginya lantaran catatkan kenaikan. Selama sepekan, investor asing melakukan aksi jual mencapai US$ 65 juta sejak awal Januari 2018.

Sementara itu, pasar obligasi cenderung mendatar selama sepekan. Imbal hasil surat utang atau obligasi bertenor 10 tahun turun menjadi 6,25 persen.

Adapun sejumlah sentimen pengaruhi pasar keuangan selama sepekan antara lain dari Amerika Serikat. Staf DPR dan senat sedang mengerjakan Rancangan Undang-Undang (RUU) anggaran meski para pemimpin partai Republik belum membuat keputusan akhir mengenai rencana itu.

Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve memutuskan pertahankan suku bunga usai lakukan pertemuan dalam dua hari. Suku bunga the Federal Reserve tetap 1,5 persen. Inflasi pun masih di bawah target, meski tingkat pengangguran rendah.

Meski demikian, pejabat the Federal Reserve melihat target inflasi dua persen akan tercapai pada 2018. Hal ini mendorong spekulasi kenaikan suku bunga secara bertahap menjadi dua persen. Dalam pertemuan the Federal Reserve tersebut merupakan rapat terakhir yang dipimpin oleh Janet Yellen. Pada pertemuan the Federal Reserve berikutnya akan dipimpin oleh Jerome Powell.

Investor asing masih melakukan aksi beli di obligasi yang mencapai US$ 660 juta. Sedangkan nilai tukar rupiah melemah ke posisi 13.452 per dolar Amerika Serikat (AS).

Artikel Selanjutnya
Awali Pekan, IHSG Tertekan ke 5.769,55
Artikel Selanjutnya
Bunga Acuan BI Naik, IHSG Dibuka Perkasa