Sukses

JK: Indikator Baik, Kenapa Ekonomi RI Tak Tumbuh Kencang?

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mempertanyakan pertumbuhan ekonomi yang tidak melaju kencang. Padahal, semua indikator ekonomi relatif positif.

JK mengatakan, semua indikator ekonomi terlihat positif. Hal itu terlihat dari inflasi yang rendah, utang yang terjaga, dan harga komoditas yang baik.

"Harga komoditas yang dulu selalu kita kambing hitamkan dalam ekonomi itu, sekarang sudah baik. Jadi sekarang kita tidak bisa kambing hitamkan harga komoditas," kata JK di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Selasa (2/1/2018).

Bahkan, JK berkeyakinan tahun politik pun tak memengaruhi perekonomian. Lantaran, kampanye yang terjadi saat ini tidak dilakukan dengan mengumpulkan massa melainkan dengan kampanye di media sosial.

"Orang selalu mengatakan nanti tahun depan tahun politik, tidak ada bukti selama tiga kali tahun politik ada kerusuhan tidak ada sama sekali. Itu hanya pikiran-pikiran masa lalu, karena kampanye sudah berbeda. Dulu kumpulkan massa, benturan. Sekarang kampanye di maya udara, di media sosial kampanyenya jadi berbeda sekali," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, JK mengatakan akan mencari jalan keluarnya. JK menduga ada beberapa kemungkinan, di antaranya ada anomali atau masalah pencatatan data.

"Faktor ekonomi kita seperti yang saya gambarkan tadi indikatornya positif. Kita tadi berdiskusi, masalah anomalikah atau masalah pencatatan. Jadi mungkin nanti kita akan berdiskusi panjang dengan BPS. Sebenarnya tingkat cara menghitung. kenapa negara lain bisa lebih tinggi dari kita, padalah indikator dalam negeri kita semuanya dalam kondisi positif untuk suatu perubahan ekonomi," tukas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

1 dari 2 halaman

Prediksi Sri Mulyani

Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sekitar 5,05 persen. Perkiraan tersebut lebih rendah dari target pemerintah 5,2 persen di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017.

"Pertumbuhan ekonomi di 2017 akan mencapai sekitar 5,05 persen atau mendekati 5,1 persen. Realisasinya sampai 15 Desember ini, ekonomi Indonesia bertumbuh 5,03 persen," kata dia di kantornya, Jakarta, Rabu (20/12/2017).

Dengan proyeksi 5,05 persen untuk tahun ini, Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kuartal IV-2017 sekitar 5,15 persen atau 5,17 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding kuartal I dan II yang masing-masing 5,01 persen, serta kuartal III sebesar 5,06 persen.

"Untuk kuartal IV dan tahun ini akan ditopang oleh investasi dan ekspor masih cukup tinggi. Termasuk konsumsi masyarakat tumbuh 5 persen dan belanja pemerintah akan terkonsentrasi di kuartal IV dengan pertumbuhan sekitar 3 persen, investasi 6-7 persen, dan ekspor terjaga momentumnya," tandasnya.

Sri Mulyani menambahkan, DPR Amerika Serikat telah mengesahkan Undang-Undang (UU) Perpajakan yang diajukan pemerintah. Kondisi ini akan berdampak pada ekonomi di AS dan negara lain.

"UU Perpajakan di AS sudah disetujui dan ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi AS akan lebih kuat. Ini akan memberikan dampak positif dalam perekonomian secara keseluruhan. Kita harapkan momentum harga komoditas dan ekspor terjaga," tukasnya.

 

Artikel Selanjutnya
SBY Bagi Kunci Jaga Kedaulatan Negara ke Jokowi
Artikel Selanjutnya
Menko Luhut Ungkap Dua Syarat Investasi di RI