Sukses

Jadi Barang Mewah di Inggris, Tempe Dibanderol Rp 255 Ribu

Liputan6.com, Yogyakarta - Peneliti tempe dari Inggris, Jonathan Agranoff mengaku, jika tempe menjadi makanan mewah dan langka di Inggris. Kebanyakan para pecinta tempe dari kalangan vegetarian dan vegan di Inggris. Saking langkanya warga Inggris rela merogoh kocek hingga US$ 20 atau sekitar Rp 255.240 (asumsi kurs Rp 12.762 per dolar Amerika Serikat) porsi menu tempe.

"Tempe lamtoro ini sangat susah payah bikinnya. Harus dijual mahal. Ini barang langka dan harus dijual mahal. Di London tempe barang langka dan mewah biasa dikonsumsi orang vegan dan vegetarian dengan kualitas bagus untuk satu porsi di restoran mereka mau bayar 20 dolar biasa. Jadi Indonesia harus meniru cara ini," ujar Agranoff Selasa (17/2/2015).

Agranoff mengatakan, jika dirinya mempelajari tempe dari seorang dosen di Bogor. Ia pun juga membuat tempe di Inggris. Padahal belum ada teknologi pembuat tempe di negara lain.

Menurut Agranoff, tempe sebagai makanan asli dari Indonesia sebenarnya makanan murah dan bergizi sekali. Saat ini, banyak kacang kacangan seperti lamtoro dan kacang koro benguk yang bisa jadi penyedia gizi di daerah yang kekurangan gizi.

"Saya juga buat di London konsumen di London mengenal tempe sebagai menu makanan vegetarian atau vegan. Namun orang sana tidak mengenal dengan nama Indonesia. Ini yang kurang dari pariwisata dari Indonesia. Tempe bukan milik Amerika dan bukan milik Malaysia yang sudah mematenkan tempe juga dalam bentuk mereka masing masing. Jadi harus cepat ambil bagian lah. Jangan sampai teknologi dari desa di Jogja ini dimanfaatkan oleh orang luar," ujar Agranoff.

Agranoff mengatakan, jika dirinya mengetahui Indonesia adalah negara dengan konsumsi kedelai paling banyak. Salah satunya kedelai untuk bahan baku tempe.

Untuk membuat tempe, ia menganjurkan agar tidak memakai kedelai impor. Kedelai lokal dan kacang-kacangan di Indonesia jauh memiliki gizi tinggi dibandingkan kedelai impor. Sementara kedelai impor di negara lain digunakan untuk konsumsi ternak.

"Saya kerjasama dengan pemerintah, FAO dan kampus di Indonesia di Malang yang sudah seleksi 18 kedelai lokal yang unggul. Kedelai yang dimakan di kota kota besar itu 80 persen nya berasal dari impor Amerika kualitas pakan ternak," kata Agranoff.

Ia mendorong pemerintah Indonesia untuk melindungi kesejahteraan petani kedelai sendiri. Mengingat masyarakat Indonesia paling banyak konsumsi kedelai. Padahal impor kedelai di negara lain untuk pakan ternak. "Ini pasar besar bagi Amerika Serikat. Kenapa pemerintah tidak melindungi?," ujar Agranoff. (Fathi M/Ahm)

Loading