Sukses

Pemerintah Diminta Fokus Revitalisasi Pelabuhan

Liputan6.com, Jakarta - Sebagai negara maritim, Indonesia harusnya mampu memanfaatkan luas wilayah laut sebagai media beredaran barang ke seluruh wilayah. Namun sayangnya saat ini peranan transportasi laut dianggap masih belum optimal. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan volume barang yang melalui pelabuhan-pelabuhan domestik yang masih rendah.

Ketua Supply Chain Indonesia (SCI)Setijadi mengatakan saat ini rata-rata pertumbuhan volume kargo yang dimuat pada lima pelabuhan utama di Indonesia seperti Belawan, Tanjung Priok, Tanjung Perak, Balikpapan, dan Makassar dalam lima tahun terakhir tersebut hanya sebesar 3,49% per tahun.

Bahkan, lanjut dia, volume kargo yang dibongkar turun rata-rata sebesar 0,43% per tahun. Sedangkan peningkatan volume yang signifikan hanya terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok, yaitu peningkatan kargo yang dimuat sebesar 12,56% per tahun dalam periode tersebut.

"Pada 2013, jumlah kargo domestik yang dimuat di kelima pelabuhan utama tersebut sebesar 35,6 juta ton, sedangkan total volume barang yang dibongkar sebesar 43,8 juta ton," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, seperti dikutip Senin (4/7/2014).

Setijadi menyatakan, revitalisasi kepelabuhanan mutlak diperlukan dalam meningkatkan kinerja kepelabuhanan. Revitalisasi ini dapat dilakukan dengan melaksanakan perbaikan dan pengembangan infrastruktur lapangan penumpukan dan jalan akses pelabuhan.

Di sisi lain, juga perlu dilakukan peningkatan manajemen, operasional, dan standardisasi kepelabuhanan, termasuk profesionalisme tenaga kerja bongkar muat.

"Partisipasi swasta dalam sektor kepelabuhanan sesuai dengan Undang-Undang Pelayaran tahun 2008 sangat diperlukan dalam menciptakan persaingan yang sehat untuk efisiensi logistik nasional," lanjutnya.

Menurutnya, revitalisasi kepelabuhanan dapat disesuaikan dengan konsep sistem transportasi laut yang akan digunakan dimana sampai saat ini masih berkembang dua konsep utama sistem transportasi laut. Pertama, konsep Logistik Maritim yang tercantum dalam Cetak Biru Pengembangan Sistem Logistik Nasional (Sislognas). Dan kedua, konsep Pendulum Nusantara yang secara prinsip sama dengan konsep Tol Laut.

"Kedua konsep tersebut perlu dikaji dari berbagai aspek secara komprehensif, terutama dari aspek kelayakan investasi, teknis, dan operasional, maupun dampaknya terhadap efisiensi logistik nasional. Berdasarkan konsep yang dipilih, pemerintah selanjutnya dapat melakukan evaluasi dan pengembangan rencana induk pelabuhan, baik secara nasional maupun pada masing-masing pelabuhan," tandas dia. (Dny/Ndw)