Sukses

IFC Beri Surat Gagal Bayar kepada Trada Maritime

Liputan6.com, Jakarta - PT Trada Maritime Tbk (TRAM) tengah menghadapi kesulitan terkait pembayaran utang pokok kepada kreditornya. Salah satu krediturnya International Finance Corporation (IFC) memberikan surat default (gagal bayar) kepada perseroan pada 2 Juni 2014.

Dalam surat pemberitahuan default itu, perseroan diharuskan untuk membayar utang pokok senilai US$ 30,57 juta atau sekitar 362,56 miliar (asumsi Rp 11.860 per dolar Amerika Serikat). Selain itu, perusahaan pelayaran ini harus membayar bunga dan biaya lainnya yang ditunggak sekitar US$ 774.360 atau sekitar Rp 9,18 miliar dalam jangka waktu tiga hari kerja.

"Bila perseroan tidak melakukan pembayaran dimaksud maka IFC berhak melakukan secara cara yang dianggap perlu sesuai dengan kesepakatan pada perjanjiang utang," tutur Sekretaris Perusahaan PT Trada Maritime Tbk, Asnita Kasmy, mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (5/6/2014).

IFC merupakan kreditur perseroan yang bersama dengan Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ Ltd telah memberikan fasilitas utang pada 17 September 2011 dengan total US$ 50 juta.

Fasilitas IFC terdiri dua fasilitas yaitu pertama senilai US$ 20 juta dengan bunga 6% di atas LIBOR 3 bulanan. Masa tenggang pembayaran pokok dari tanggal pencairan hingga Mei 2014. Perseroan pun harus membayar dengan secara berkala per kuartal sejumlah US$ 1,43 juta dari Mei 2014 hingga Agustus 2017.

Kedua, IFCA2 senilai US$ 15 juta dengan bunga 4,5% di atas LIBOR 3 bulanan. Fasilitas pinjaman ini memiliki masa tenggang pembayaran pokok dari tanggal pencairan hingga Februari 2012. Pembayaran dilakukan berkala per kuartal senilai US$ 625 ribu dimulai dari Februari 2012 hingga November 2017.

Sementara itu, Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ Ltd terdiri dari satu fasilitas pinjaman senilai US$ 15 juta. Pembayaran pokok dilakukan secara berkala per kuartal sejumlah US$ 1,17 juta.

Pinjaman ini digunakan untuk membiayai modifikasi FSO Lentera Bangsa yang juga menjadi jaminan utang. FSO Lentera Bangsa telah memperoleh kontrak jangka panjang dari CNOCC SES Ltd pada 2009. Kontrak ini berjangka waktu hingga September 2018.

Pada 23 September 2011, FSO Lentera Bangsa yang menjadi jaminan pari pasu utang IFC dan BTMU mengalami kebakaran pada ruang mesin, dan sejak saat itu belum dapat dioperasikan kembali.

Perseroan melakukan pembayaran pokok atas fasilitas IFC A2 hingga Agustus 2012. Namun perseroan belum membayar pokok pinjaman fasilitas pinjaman IFCA1 yang jatuh tempo pada Mei 2014, dan IFC A2 yang jatuh tempo sejak November 2012.

"Namun demikian pada Agustus 2013, perseroan melakukan pembayaran sejumlah US$ 5 juta melalui pencairan SBLC untuk pembayaran pokok dan bunga. Dengan demikian tunggakan pokok adalah utang jatuh tempo sejak November 2013. Jadi total pokok utang perseroan tercatat sebesar US$ 30,57 juta," ujar Asnita.

Menurut Asnita, sejak terjadinya kebakaran, perseroan selalu berusahan untuk melakukan hal-hal yang diperlukan agar memperoleh jumlah optimal dari klaim asuransi atas FSO Lentera Bangsa.

"Perseroan telah melakukan beberapa pertemuan dengan kreditur untuk menjelaskan proses klaim asuransi, dan juga pembahasan mengenai penyelesaian utang. Hal itu karena sumber dana untuk penyelesaian utang dengan kreditur adalah dari klaim asuransi," tutur Asnita.

Pendapatan usaha perseroan turun 2,87% menjadi US$ 15,19 juta sepanjang tiga bulan pertama 2014. Perseroan mampu mencatatkan laba bersih US$ 1,58 juta pada kuartal I 2014 dari periode sama tahun sebelumnya rugi US$ 2,44 juta. Kas perseroan turun menjadi US$ 7,42 juta pada 31 Maret 2014.

Pada perdagangan saham Kamis pekan ini, saham TRAM turun tipis 0,27% ke level Rp 1.845 per saham. Frekuensi perdagangan saham sekitar 738 kali dengan nilai transaksi sekitar Rp 283,1 miliar. (Ahm/)

JOKOWI: TAK ADA YANG TAKUTI KECUALI ALLAH DALAM MEMIMPIN

Tutup Video