Liputan6.com, Jakarta: Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak terhadap inflasi tahun ini akan jauh lebih besar dari perkiraan pemerintah. Hal itu terkait dengan dampak psikologis akibat sikap pemerintah yang mengulur-ulur jadwal kenaikan harga BBM. Demikian laporan Lembaga Kajian Ekonomi Indef di Jakarta, Selasa (5/4).
Laporan itu menyebutkan, inflasi tahun ini berkisar antara 9-10 persen atau jauh dari target pemerintah sebesar tujuh persen. Perkiraan itu didasarkan pada laju inflasi selama tiga bulan pertama yang sudah mencapai 3,19 persen. Untuk sembilan bulan lagi laju inflasi sulit ditahan karena momen tahun ajaran baru sekolah, bulan puasa, Lebaran dan Natal.
Target inflasi meleset karena dipicu dampak psikologis sebagai akibat rencana kenaikan BBM yang diutarakan Wakil Presiden Jusuf Kalla, jauh sebelum kebijakan itu diumumkan. Hal ini terlihat dari tingkat inflasi awal tahun. Dalam dua tahun terakhir, inflasi selalu jauh di bawah satu persen. Namun, Januari tahun ini inflasi mencapai 1,43 persen.(YYT/Aldi Yarman dan Bondan Wicaksono)
Laporan itu menyebutkan, inflasi tahun ini berkisar antara 9-10 persen atau jauh dari target pemerintah sebesar tujuh persen. Perkiraan itu didasarkan pada laju inflasi selama tiga bulan pertama yang sudah mencapai 3,19 persen. Untuk sembilan bulan lagi laju inflasi sulit ditahan karena momen tahun ajaran baru sekolah, bulan puasa, Lebaran dan Natal.
Target inflasi meleset karena dipicu dampak psikologis sebagai akibat rencana kenaikan BBM yang diutarakan Wakil Presiden Jusuf Kalla, jauh sebelum kebijakan itu diumumkan. Hal ini terlihat dari tingkat inflasi awal tahun. Dalam dua tahun terakhir, inflasi selalu jauh di bawah satu persen. Namun, Januari tahun ini inflasi mencapai 1,43 persen.(YYT/Aldi Yarman dan Bondan Wicaksono)