Paus Disemayamkan di Basilika St Petrus

Proses pemindahan jasad Sri Paus dari Istana Apostolik Vatikan menuju ke Basilika Santo Petrus berlangsung khidmat. Sri Paus akan dimakamkan di makam bawah tanah Basilika St Petrus.

oleh Liputan6Diterbitkan 05 April 2005, 08:35 WIB
Liputan6.com, Vatikan: Jasad Paus Yohanes Paulus II dipindahkan dari Istana Apostolik Vatikan menuju ke Basilika Santo Petrus dalam sebuah prosesi khidmat, Senin (4/4) siang waktu setempat. Ribuan umat Katolik turut menyaksikan prosesi itu dari lapangan Santo Petrus Vatikan.

Sebelum dipindahkan jasad lelaki berusia 84 tahun itu diperciki air suci oleh Kardinal Eduardo Martinez Somalo dari Spanyol. Somalo untuk sementara juga mengambil alih tanggung jawab urusan gereja Katolik sepeninggal Sri Paus.

Prosesi pemindahan Sri Paus dimulai dari ruang Clementina, tempat Bapak Suci umat Katolik itu disemayamkan sejak Ahad kemarin. Prosesi berlangsung diiringi alunan litani orang-orang suci. Dengan khidmat, 12 pengusung jenazah bergerak menuju Basilika melewati koridor-koridor di dalam Kompleks Tahta Suci Vatikan.

Ribuan umat Katolik yang memenuhi lapangan St Petrus tampak mengikuti prosesi dari tiga layar monitor raksasa yang dipasang di depan Basilika St Petrus. Mereka sontak bertepuk tangan begitu 12 pengusung jenazah Sri Paus, para kardinal dan tentara Vatikan keluar dari Istana Apostolik. Tepuk tangan adalah cara warga Italia memberikan penghormatan kepada orang yang meninggal.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan menyeberangi lapangan menuju ke dalam Basilika St Petrus. Sesampai di dalam Basilika, jasad mendiang Paus disemayamkan di depan altar dan sekali lagi diperciki air suci serta diasapi dengan dupa. Acara kemudian dilanjutkan dengan misa.

Dijadwalkan jenazah Sri Paus akan dimakamkan di makam bawah tanah Basilika St Petrus. Kepastian mengenai lokasi pemakaman itu sekaligus menutup spekulasi yang menyebutkan Sri Paus kemungkinan dikubur di kota kelahirannya di Wadowice, Polandia [baca: Jenazah Paus Dimakamkan Jumat Pagi].

Setelah prosesi pemindahan mendiang Sri Paus usai, kemarin, Basilika St Petrus mulai dibuka bagi khalayak untuk memberikan penghormatan terkahir kepada pemimpin tertinggi umat Katolik itu. Usai misa yang dihadiri para kardinal, uskup, pastor dan rohaniwan gereja, mereka diizinkan masuk ke Basilika guna memberikan penghormatan terakhir kepada Sri Paus.

Mereka yang masuk ke dalam Basilika tampak memberikan tanda salib di depan jasad servus servorum Dei (abdi dari para abdi Tuhan) itu. Bahkan beberapa orang di antara mereka sempat mengambil gambar Sri Paus yang mengenakan jubah merah dan topi kepausan.

Ribuan umat Katolik dari berbagai belahan dunia pun terus berdatangan ke Kota Roma untuk memberikan penghormatan terakhir. Mereka memadati Lapangan St Petrus. Jumlah mereka diperkirakan terus bertambah sampai berlangsung upacara pemakaman Sri Paus. Pemerintah setempat memerkirakan jumlah umat Katolik yang datang ke Vatikan bisa mencapai dua juta orang.

Selain dijejali umat Katolik, Lapangan St Petrus juga dipenuhi berbagai karangan bunga, rosario dan selebaran dengan gambar orang-orang suci. Para pengunjung juga menulis doa-doa di atas kertas dan kemudian ditempelkan pada lilin berwarna.

Sebanyak 65 kardinal, kemarin siang, telah menggelar pertemuan atau konklaf untuk membahas sejumlah hal berkaitan dengan pemakaman dan pesiapan pemilihan Paus baru. Keputusan mengenai lokasi pemakaman Sri Paus telah ditetapkan para kardinal dalam pertemuan pertama sejak Paus ke 263 itu wafat.

Jasad pemilik nama Karol Wojtyla itu diperkirakan dikebumikan pada makam yang pernah digunakan untuk memakamkan Paus Yohanes ke-23. Sisa tubuh Paus Yohanes ke-23 sendiri sudah lama dipindahkan ke ruangan Basilika.

Setelah itu, para kardinal kembali bertemu sebanyak dua kali di ruang Bologna yang berada di Istana Apostolik Vatikan. Agenda pertemuan membahas persiapan pemilihan Paus baru serta merencanakan prosesi pemakaman serta peleburan cincin yang selama ini dipakai Sri Paus. Peleburan cincin sebagai tanda berakhirnya masa jabatan Paus sekaligus untuk menghindari pemalsuan dokumen.

Sejauh ini belum ada keterangan dari Vatikan mengenai jadwal pelaksanaan pemilihan Paus baru. Namun pemilihan dipastikan berlangsung setelah upacara pemakaman Sri Paus selesai. Menurut hukum dan tradisi gereja pemilihan Paus diselengarakan tidak lebih dari dua pekan setelah Paus wafat.

Proses pemilihan Paus baru biasanya berlangsung panjang. Sesuai tradisi, yang berhak menjadi Paus baru adalah para kardinal yang berusia di bawah 80 tahun. Kini jumlahnya 117 orang. Setiap kardinal akan diberi selembar kartu suara dengan tulisan dalam bahasa latin: "Eligo in summum pontificem." (Aku memilih...sebagai imam agung tertinggi), menulis nama calon kecuali diri mereka dan kemudian memasukkan suara mereka ke dalam sebuah piala.

Hasil suara kemudian dihitung oleh seorang camerlengo (kepala dari kolega kardinal) bersama asistennya. Paus baru terpilih apabila mendapat suara dua pertiga dari jumlah seluruh pemilih ditambah satu. Namun jarang ada Paus yang langsung terpilih dalam babak pertama ini.

Bila belum ada yang terpilih, seluruh kertas suara diikat dan dibakar bercampur jerami basah. Asap hitam akan membumbung dari cerobong khusus sehingga umat di luar akan tahu Paus yang baru belum terpilih.

Pemilihan kemudian dilanjutkan. Satu hari biasanya ada empat ronde pemilihan. Kalau dalam tiga hari belum ada hasil, proses pemilihan reses satu hari. Selanjutnya para kardinal memilih kembali dengan prosedur sama. Maksimum pemilihan hanya 21 kali dengan rehat untuk berdoa dan berdiskusi pada pilihan ke-7, ke-14, dan ke-21.

Kalau belum juga ada yang terpilih, calon yang mendapatkan suara mayoritas: separuh ditambah satu, akan ditetapkan sebagai Paus baru. Ketika sudah terpilih, semua kertas suara diikat dan kembali dibakar tanpa dicampur jerami. Yang akan muncul adalah asap putih. "Habemus papam." Kita sekarang mempunyai seorang Paus.(ICH/Yoh)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya