Menghitung Nilai Ekonomi Perairan Ambalat

Indonesia diperkirakan kehilangan potensi penerimaan yang besar jika melepas Blok Ambalat ke Malaysia. Kawasan itu diyakini memiliki migas sekitar 1 miliar barel dengan nilai ekonomis lebih dari US$ 40 miliar.

oleh Liputan6Diterbitkan 10 Maret 2005, 20:09 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Sengketa kepemilikan wilayah perairan Ambalat antara Indonesia dan Malaysia ternyata mengandung kepentingan ekonomi. Perairan yang terletak di ujung Kalimantan Timur tersebut diyakini memiliki cadangan minyak dan gas bumi yang besar. Jika lepas ke tangan Malaysia, Indonesia ditaksir akan kehilangan potensi penerimaan lebih dari puluhan miliar dolar Amerika Serikat. Demikian dikemukakan pengamat perminyakan Kurtubi di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Kurtubi, potensi migas di kawasan Blok Ambalat ini diketahui dari data hasil eksplorasi yang dilakukan perusahaan minyak Italia, ENI pada tahun kemarin. Berdasarkan data tersebut, perairan Ambalat mempunyai kandungan minyak yang besar. Sedangkan Ambalat Timur, memiliki cadangan migasnya jauh lebih besar. Sejatinya, Kurtubi memperkirakan potensi migas di kedua blok tersebut lebih dari 1 miliar barel dengan nilai ekonomis lebih dari US$ 40 miliar.

Mengenai keterlibatan perusahaan minyak asing, Shell dalam kasus eksplorasi di Blok Ambalat, Kurtubi berpendapat seharusnya pemerintah Indonesia menyampaikan protes kepada perusahaan patungan asal Inggris dan Belanda tersebut. Soalnya, setelah memutuskan kontrak dengan Indonesia pada 1999, Shell justru meneken kontrak kerja sama dengan Malaysia untuk masuk ke blok yang sama. Kurtubi menduga Shell telah menggunakan data-data yang diperolehnya saat eksplorasi sebelum tahun 1999 lalu, untuk menguasai Ambalat melalui konsesi dari Malaysia.

Sebelum kontrak Malaysia dengan Shell, Indonesia telah memberikan konsesi pengelolaan perairan Ambalat dan Ambalat Timur kepada perusahaan minyak ENI dan Unocoal termasuk Shell yang belakangan memutuskan kontrak[baca: Indonesia Sedang Mempertimbangkan Menegur Shell ].(ZIZ/Aldi Yarman dan Fachrurozi)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya