Liputan6.com, Jakarta: Pertamina akan menambah impor bahan bakar minyak (BBM) Maret 2005 sebanyak dua juta kiloliter menjadi 13 juta kiloliter. Jenis BBM yang melonjak angka impornya antara lain gasolin dan minyak bakar. Hal ini dilakukan untuk memenuhi stok sehingga kebutuhan selama 22 hari tercukupi. Demikian diungkapkan Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ari H. Soemarno di Jakarta, Rabu (2/3).
Ari tidak menjelaskan, dari negara mana Indonesia akan mengimpor BBM. Namun, Ari memastikan ditambahnya jumlah impor bukan karena kenaikan harga BBM yang diumumkan 1 Maret 2005. Menurut dia, kenaikan impor BBM adalah hal biasa [baca: Menko Perekonomian Mengumumkan Kenaikan Harga BBM].
Menyoal dana kompensasi BBM untuk mengatasi dampak kenaikan harga, MPR meminta Badan Pemeriksa Keuangan melakukan audit. MPR memandang pemerintah telanjur menaikkan harga BBM, padahal efektivitas penyaluran dana kompensasi belum mantap. Audit dilakukan untuk mengurangi kebocoran anggaran. BPK pada tahun silam telah menemukan kebocoran anggaran sampai Rp 160 triliun.
Dalam persoalan berbeda, Bank Pembangunan Islam atau Islamic Development Bank (IDB) mengadakan pertemuan dengan Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Jeddah, Arab Saudi. Agendanya membahas distribusi bantuan untuk korban Tsunami di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Untuk korban di Nanggroe Aceh Darussalam, IDB bersedia menggelontorkan dana sebesar US$ 145 juta. Dana akan dipakai mewujudkan berbagai proyek rekonstruksi dan rehabilitasi Tanah Rencong sampai lima tahun mendatang.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Ari tidak menjelaskan, dari negara mana Indonesia akan mengimpor BBM. Namun, Ari memastikan ditambahnya jumlah impor bukan karena kenaikan harga BBM yang diumumkan 1 Maret 2005. Menurut dia, kenaikan impor BBM adalah hal biasa [baca: Menko Perekonomian Mengumumkan Kenaikan Harga BBM].
Menyoal dana kompensasi BBM untuk mengatasi dampak kenaikan harga, MPR meminta Badan Pemeriksa Keuangan melakukan audit. MPR memandang pemerintah telanjur menaikkan harga BBM, padahal efektivitas penyaluran dana kompensasi belum mantap. Audit dilakukan untuk mengurangi kebocoran anggaran. BPK pada tahun silam telah menemukan kebocoran anggaran sampai Rp 160 triliun.
Dalam persoalan berbeda, Bank Pembangunan Islam atau Islamic Development Bank (IDB) mengadakan pertemuan dengan Organisasi Konferensi Islam (OKI) di Jeddah, Arab Saudi. Agendanya membahas distribusi bantuan untuk korban Tsunami di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Untuk korban di Nanggroe Aceh Darussalam, IDB bersedia menggelontorkan dana sebesar US$ 145 juta. Dana akan dipakai mewujudkan berbagai proyek rekonstruksi dan rehabilitasi Tanah Rencong sampai lima tahun mendatang.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)