Titik Winarti Menebar Kasih Menuai Sukses

Kerja keras dan peduli sesama mengantarkan pengusaha kecil dari Surabaya, Jawa Timur, Titik Winarti, meraih penghargaan The Global Microentrepreneurship Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 Februari 2005, 14:57 WIB
Liputan6.com, Surabaya: Titik Winarti, warga Jalan Sidosermo Indah, Surabaya, Jawa Timur, bukanlah seorang kaya. Namun, berkat industri rumah tangganya yang dirintis dengan modal pinjaman awal Rp 500 ribu, perempuan kelahiran Surabaya 1 Maret 1970 ini, berhasil mengibarkan bendera usahanya, Tiara Handycraft.

Kelebihan Titik bukan hanya kerja keras dan mentalnya yang tak gampang menyerah. Titik juga dikenal mempunyai kepedulian sosial yang tinggi. Mayoritas dari 32 pekerjanya adalah penyandang cacat. Berkat pemberdayaan orang-orang marjinal itu Titik mendapat penghargaan The Global Microentrepreneurship Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, 18 September 2004. Titik berpidato di Markas PBB New York, Amerika Serikat dan menerima penghargaan langsung dari Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan.

Titik mengawali usahanya dari sebuah ide sederhana. Pada 1995, menjelang Hari Raya Idul Fitri Titik selalu tidak puas melihat suasana rumahnya yang tampak biasa-biasa saja. Ia ingin tampil beda saat Lebaran. Dari situ para tamu yang datang berlebaran ke rumahnya selalu memuji karyanya, dan buntutnya memesan produk yang sama, padahal saat itu Titik masih dalam taraf belajar.

Dua tahun kemudian, pesanan mulai ramai. Titik pun mulai berpikir bagaimana mengembangkan usahanya. Saat itu juga Titik mulai memikirkan menambah tenaga kerja. Pilihannya saat itu adalah memberdayakan penyandang cacat dari Panti Bina Daksa yang menaungi anak-anak cacat serta Panti Bina Remaja yang rata-rata dari anak-anak putus sekolah.

Produk kerajinan tangan yang dibuat Tiara Handycraft hampir semua kebutuhan keluarga. Misalnya, seprei, gorden, perangkat seserahan pengantin, taplak meja, kotak tisu, dan tas. Total keseluruhan produk buatan yang diproduksi titik mencapai ratusan. Omzet per bulan mencapai Rp 10 juta hingga Rp 12 juta.

Titik juga tidak mengharuskan para pekerjanya untuk selamanya bergantung pada dirinya. Titik membebaskan pekerja yang sudah dinilai mampu dan terampil untuk berkembang dan mandiri. "Karena sistem pembelajaran di sini pada dasarnya untuk mereka sendiri," kata Titik.(YYT/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya