Korban Meninggal DBD di Bitung Bertambah Dua Orang

Dua pasien yang meninggal adalah Ade Yuliani dan Rihard Talumbekas. Kedua bocah berumur enam tahun itu meninggal di RS Budi Mulia. Tak hanya anak-anak, wabah ini juga menyerang orang dewasa.

oleh Liputan6Diterbitkan 05 Februari 2005, 15:04 WIB
Liputan6.com, Bitung: Korban yang meninggal dunia akibat demam berdarah dengue di Kota Madya Bitung, Sulawesi Utara, terus bertambah. Hingga Sabtu (5/2), pasien yang meninggal bertambah dua orang, yaitu Ade Yuliani dan Rihard Talumbekas. Kedua bocah berumur enam tahun itu meninggal di Rumah Sakit Umum Budi Mulia. Secara keseluruhan, di wilayah Bitung hingga kini, penyakit ini telah menewaskan enam orang dan 73 lainnya dirawat di rumah sakit. Tak hanya anak-anak, wabah ini juga menyerang orang dewasa.

Akhir Januari silam, pihak Dinas Kesehatan Kota Madya Bitung mencatat sebanyak empat orang meninggal karena wabah yang disebarkan nyamuk Aedes aegypti. Keempat korban tewas karena terlambat mendapat pertolongan [baca: Empat Warga Sulut Meninggal Akibat Demam Berdarah].

Data di sejumlah rumah sakit di Bitung, seperti RS Budi Mulia, RS TNI Angkatan Laut dan RSU Manembo-nembo menyebutkan, jumlah pasien yang dirawat akibat DBD sejak sepekan terakhir terus meningkat. Untuk mengatasi meluasnya wabah DBD, pemerintah kota bersama warga setempat kini terus-menerus melakukan pengasapan atau fogging di berbagai perkampungan yang terindikasi positif endemi wabah ini.

Pengasapan juga dilakukan di wilayah DKI Jakarta. Rencananya fogging dilakukan rutin sepekan sekali. Ini karena di wilayah Jakarta demam berdarah telah merenggut sembilan korban. Di Jakarta Selatan, sejak kemarin tiap kelurahan melakukan pengasapan secara bergiliran.

Di Kelurahan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, yang termasuk kawasan padat penduduk, pagi tadi dilakukan fogging di rumah-rumah penduduk di RW 4 dan RW 7. Pengasapan itu dilakukan delapan petugas dari bantuan polisi, perlindungan masyarakat dan ketenteraman ketertiban. Fogging juga dilakukan di selokan dan saluran pembuangan. Warga setempat mengakui pengasapan rutin ini bisa mengurangi kecemasan mereka akan wabah ini. Warga juga mengakui jarangnya kerja bakti di lingkungan mereka. Sejumlah selokan di kawasan itu tampak kotor dan tergenang hingga bisa menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya