Liputan6.com, Havana: Menyebut Kuba, umumnya orang membayangkan sosok Presiden Fidel Castro dan juga cerutu berkualitas tinggi yang banyak dihasilkan negara itu. Namun, baru-baru ini, pemerintah Kuba justru mengeluarkan kebijakan larangan merokok yang ketat mulai Februari mendatang.
Larangan merokok akan diterapkan di tempat umum yang tertutup, seperti di kantor, toko, bioskop, bus, taksi, sekolah dan sekitarnya, gedung olahraga, serta tempat umum berpendingin udara atau air conditioner. Sementara kafe, restoran, dan klab malam diharuskan menyediakan ruangan bebas rokok bagi pengunjungnya. Aturan baru ini juga melarang penjualan rokok bagi warga di bawah 16 tahun.
Rokok dan merokok sudah menjadi bagian dari kehidupan di Kuba. Hampir setengah dari penduduk dewasa di negara penghasil cerutu ini mengisap rokok. Bahkan, Presiden Fidel Castro juga dulu dikenal sebagai pecandu berat cerutu--meski pada 1986 berhenti merokok. Begitu juga dengan sektor perekonomian. Nilai ekspor cerutu Kuba mencapai US$ 240 juta per tahun.
Kendati begitu, larangan merokok sejauh ini mendapat dukungan dari banyak kalangan di Kuba. Soalnya, kanker paru-paru menjadi penyakit yang terbanyak mengakibatkan kematian di negara berpenduduk sekitar 11 juta jiwa itu.(ORS/Rcm)
Larangan merokok akan diterapkan di tempat umum yang tertutup, seperti di kantor, toko, bioskop, bus, taksi, sekolah dan sekitarnya, gedung olahraga, serta tempat umum berpendingin udara atau air conditioner. Sementara kafe, restoran, dan klab malam diharuskan menyediakan ruangan bebas rokok bagi pengunjungnya. Aturan baru ini juga melarang penjualan rokok bagi warga di bawah 16 tahun.
Rokok dan merokok sudah menjadi bagian dari kehidupan di Kuba. Hampir setengah dari penduduk dewasa di negara penghasil cerutu ini mengisap rokok. Bahkan, Presiden Fidel Castro juga dulu dikenal sebagai pecandu berat cerutu--meski pada 1986 berhenti merokok. Begitu juga dengan sektor perekonomian. Nilai ekspor cerutu Kuba mencapai US$ 240 juta per tahun.
Kendati begitu, larangan merokok sejauh ini mendapat dukungan dari banyak kalangan di Kuba. Soalnya, kanker paru-paru menjadi penyakit yang terbanyak mengakibatkan kematian di negara berpenduduk sekitar 11 juta jiwa itu.(ORS/Rcm)