Liputan6.com, Jakarta: Pengusaha tempe mulai mengeluhkan harga kedelai yang tidak stabil belakangan ini. Padahal, tak sedikit dari mereka yang menggunakan bahan baku kedelai impor agar menghasilkan tempe bermutu bagus. Mereka berharap pemerintah memperhatikan kesulitan ini dengan menstabilkan harga kedelai. Pemerintah juga diimbau mempermudah para pedagang untuk mendaptkan akses kredit ke perbankan sehingga usaha mereka bisa berkembang.
Harapan ini dilontarkan Sudirman, salah satu pengusaha tempe di Tebet, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Sudirman telah menggeluti bisnis tempe sejak 1975. Mulanya ayah dua putra ini mengerjakan usahanya sendiri. Seiring perjalanan waktu, usahanya berkembang hingga mampu mempekerjakan tiga karyawan.
Tiap hari Sudirman membutuhkan satu setengah kwintal kedelai untuk menghasilkan sekitar 1.000 balok tempe. Kedelai yang dipakai harus pilihan agar tempenya juga bagus. Biasanya Sudirman memakai kedelai impor yang cukup mahal harganya. Dalam sehari dia menghabiskan dana Rp 500 ribu untuk membeli bahan baku dan membayar tiga karyawan.
Proses pembuatan tempe ini dilalui dengan perebusan, pencetakan, dan fermentasi. Setelah itu tempe pun siap dipasarkan. Biasanya Sudirman membawa sendiri tempenya ke pasar tradisional atau dijual melalui pengecer. Satu balok tempe yang dijual Rp 2.000 selalu habis hingga Sudirman bisa meraih keuntungan kotor Rp 20 juta per bulan.(MAK/Wirawan dan Zakaria)
Harapan ini dilontarkan Sudirman, salah satu pengusaha tempe di Tebet, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Sudirman telah menggeluti bisnis tempe sejak 1975. Mulanya ayah dua putra ini mengerjakan usahanya sendiri. Seiring perjalanan waktu, usahanya berkembang hingga mampu mempekerjakan tiga karyawan.
Tiap hari Sudirman membutuhkan satu setengah kwintal kedelai untuk menghasilkan sekitar 1.000 balok tempe. Kedelai yang dipakai harus pilihan agar tempenya juga bagus. Biasanya Sudirman memakai kedelai impor yang cukup mahal harganya. Dalam sehari dia menghabiskan dana Rp 500 ribu untuk membeli bahan baku dan membayar tiga karyawan.
Proses pembuatan tempe ini dilalui dengan perebusan, pencetakan, dan fermentasi. Setelah itu tempe pun siap dipasarkan. Biasanya Sudirman membawa sendiri tempenya ke pasar tradisional atau dijual melalui pengecer. Satu balok tempe yang dijual Rp 2.000 selalu habis hingga Sudirman bisa meraih keuntungan kotor Rp 20 juta per bulan.(MAK/Wirawan dan Zakaria)